MBG Bisa Memicu Inflasi, Simak Tahapan Meminimalisirnya

- Pemenuhan kebutuhan pokok sebaiknya dilakukan dengan pembelian yang terencana dan terkoordinasi
- Ada kontrak harga yang mengikat sehingga harga yang berlaku tidak berubah-ubah
- Upaya untuk memperbaiki rantai pasok khususnya pada rantai pasok bahan baku di level produsen
Medan, IDN Times - Salah satu program andalan dari Presiden Prabowo Subianto adalah Makan Bergizi Gratis (MBG), yang tengah berjalan di sejumlah wilayah di Indonesia. Namun, akhir-akhir ini MBG dianggap sebagai pemicu inflasi.
Pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin menyoroti hal tersebut. Dia mengatakan jika dapur SPPG (satuan pelayanan pemenuhan gizi) dibiarkan untuk melakukan pembelian bahan pangan secara massif dan langsung ke pasar, maka memang berpeluang memicu terjadinya inflasi.
"Atau kenaikan harga pangan itu sendiri. Terlebih target pendirian SPPG di tahun 2026 ini akan ditingkatkan dengan kecepatan 2 hingga 3 kali dari realisasi tahun 2025 silam," katanya pada Senin (12/1/2026).
Menurutnya, jika dibiarakan maka MBG (makan bergizi gratis) akan dituding sebagai pemicu terjadinya inflasi. Hal ini terjadi karena demand untuk kebutuhan pangan alami kenaikan, sementara supply bisa saja terlambat untuk menyesuaikan tingginya permintaan. Untuk itu memang sebaiknya pemenuhan kebutuhan pangan MBG bisa melakukan kebijakan sebagai berikut.
Baginya, ada beberapa tahapan untuk meminimalisirnya. Simak berikut ini!
1. Pemenuhan kebutuhan pokok sebaiknya dilakukan dengan pembelian yang terencana dan terkoordinasi

Pertama, pemenuhan kebutuhan pokok sebaiknya dilakukan dengan pembelian yang terencana dan terkoordinasi. Hal ini bisa membuat produsen menyesuaikan produksi untuk memenuhi demand MBG.
"Seperti pembelian untuk pemenuhan kebutuhan protein dilakukan secara terkoordinir dari kantor pelayanan pemenuhan gizi (KPPG) per masing - masing wilayah," jelas Gunawan.
Kedua, ada kontrak harga yang mengikat sehingga harga yang berlaku tidak berubah-ubah.
2. Upaya untuk memperbaiki rantai pasok khususnya pada rantai pasok bahan baku di level produsen

Kemudian, untuk tahapan ketiga, tersedia fasilitas cold storage atau tempat pendingin yang bisa menyimpan kebutuhan pangan dalam periode waktu tertentu.
Keempat, ada upaya untuk memperbaiki rantai pasok khususnya pada rantai pasok bahan baku di level produsen.
"Sebagai contoh, sejauh ini saya menemukan bahwa telah terjadi perang harga untuk komoditas gaplek yang sebelumnya jadi bahan baku utama pakan ternak sapi. Namun belakangan ini gaplek justru diminati oleh peternak ayam setelah terjadi kenaikan pada harga jagung. Nah disini ditemukan bahwa MBG berpotensi memicu kenaikan kebutuhan akan bahan baku produksi untuk komoditas tertentu," sambungnya.
3. Investasi pada sisi produsen pada dasarnya memiliki peluang namun bahan produksinya miliki celah besar yang harus ditutupi

Lanjut Gunawan dalam penilaiannya, investasi pada sisi produsen pada dasarnya memiliki peluang untuk mampu dikembangkan oleh produsen itu sendiri. Namun, untuk bahan produksinya ini yang ternyata memiliki celah besar yang harus ditutupi.
"Bisa saja produsen enggan menambah investasi agar produksinya alami peningkatan, dikarenakan kekhawatiran akan kesulitan bahan baku produksinya itu sendiri," pungkasnya.


















