ilustrasi TNI AD (vecteezy.com/Onyengradar)
Mahasiswa USU itu bernama, Farhan Arisy Pakpahan, usianya masih 23 tahun. Dia cerita, pada Jumat, 13 Februari 2026 ia baru saja mengantar pulang kawan kerjanya, di dekat pajak USU atau Pajus.
Kemudian, ia memutar arah sepeda motor. Niatnya ingin pulang ke indekos. Namun, perjalanan itu tiba-tiba berubah ketika dua orang pria menemuinya. Kejadian itu tidak pernah disangka-sangka. Bahkan, Farhan masih trauma.
"Satu orang mengambil kunci, satu orang lagi langsung miting saya," cerita Farhan kepada IDN Times, pada Selasa (24/2/2026).
Sekuat tenaga, Farhan berusaha kabur. Saat berhasil menjauh dia teriak meminta bantuan. Saat warga telah berdatangan. Dua orang itu memprovokasi Farhan. Mereka mengaku sebagai polisi. Ia diteriaki sebagai pelaku pemerkosaan anak di bawah umur.
Sejumlah warga yang berada di lokasi tidak sepenuhnya mempercayainya. Sebagian, kata Farhan, warga ikut meneriakinya sebagai pelaku pemerkosaan. Teriakan itu memancing kepanikan. Ia dikejar massa yang tersulut emosi, tanpa sempat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Pelaku yang pakai jaket ojol, dipukul saya di bagian perut, diancam juga sama obeng," ujarnya.
Ia nyaris diseret menuju sepeda motor lain, dalam kondisi tertekan dan dikelilingi massa yang terus meneriakkan tuduhan. Situasi mereda, ketika seseorang diduga prajurit TNI Serka O, tiba di lokasi. Saat yang bersamaan, dua pria tersebut hilang. Ia kemudian diantar pulang. Setelah usaha menemukan Kepala Lingkungan tidak berhasil.
"Kepling tidak ada di rumah. Saat itu saya dibawa pakai motor tentara ini. Sementara motor saya dibawa sama temannya (inisial A) lalu diantar pulang ke kos," katanya.
Selama perjalanan menuju indekos dilewatkan dengan rasa aman. Tidak ada prasangka buruk apapun. Setelah Farhan hendak membuat laporan polisi, ia tersadar barang elektroniknya hilang dari dalam tas yang ia gunakan saat kejadian.
Di kantor polisi, Farhan menelepon Serka O. Ia bertanya soal barang-barang elektronik miliknya. Namun, saat obrolan seluler itu berlangsung Farhan tidak percaya dengan jawaban Serka O.
"Dibilang dia, besok dicari. Tapi dia minta uangmu," katanya.
Mahasiswa Sastra Jepang itu spontan menolak ketika diminta menyerahkan uang. Berulang kali ia mengaku di tekan untuk menyerahkan uang hingga Rp15 juta. Pelaku berdalih menganggap Farhan berasal dari keluarga berada, menyinggung harga sepeda motor dan barang-barang yang dinilai mahal sebagai alasan permintaan tersebut.
Ia bahkan mencoba meyakinkan bahwa uang sebesar itu mudah diganti dalam waktu singkat. Namun Farhan tetap bersikeras tidak memiliki uang sebanyak itu.
Singkatnya, Farhan mengaku menemukan indikasi bahwa tabletnya sempat hendak dijual. Kasus itu kemudian dilaporkan ke Polisi Militer. Barang-barangnya dikembalikan dan Farhan memilih menyelesaikan perkara tersebut secara damai.