Solar Langka di Sumatra, Omzet Bus Lintas Provinsi Anjlok

Medan, IDN Times – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatra turut berdampak pada operasional transportasi umum. Perusahaan otobus (PO) Antar Lintas Sumatra(ALS) mengaku harus menghadapi antrean panjang di SPBU hingga berjam-jam untuk mendapatkan solar bagi armada bus mereka.
Humas ALS Alwi Matondang, mengatakan kondisi sulit mendapatkan solar sebenarnya sudah berlangsung cukup lama, terutama untuk perjalanan lintas Sumatera. Kelangkaan Solar sudah dialami sejak penghujung 2025.
Dalam tiga bulan terakhir, kondisinya makin parah. Antrean BBM disebut semakin sering terjadi di berbagai daerah yang dilalui armada ALS.
"Kalau kami di lintas Sumatra ini sudah lama. Tiga bulan terakhir ini, kalau dari Lampung sampai lintas Sumatera, sudah langka solarnya," ujar Alwi.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat perjalanan bus antarprovinsi terganggu. Sopir harus mengatur ulang waktu perjalanan karena tidak bisa langsung mendapatkan bahan bakar sesuai kebutuhan.
1. Sopir bus harus rela antre hingga 6 jam, biaya operasional bertambah

Alwi mengatakan tidak ada pilihan bagi pengemudi bus selain ikut mengantre apabila ingin mendapatkan solar. Mengingat perjalanan ALS melintasi jarak jauh, pasokan BBM menjadi kebutuhan utama agar armada tetap dapat beroperasi.
"Kita kan perjalanan jauh, mau tidak mau harus kita antre. Rata-rata waktu antre kita antara 4 sampai 6 jam," katanya.
Lamanya waktu menunggu solar berdampak langsung terhadap waktu tempuh perjalanan. Rute Medan-Jakarta yang biasanya dapat ditempuh dalam waktu sekitar tiga hari tiga malam, kini bisa bertambah menjadi empat hari empat malam.
2. Tarif bus belum naik meski biaya operasional meningkat

Menurut Alwi, kelangkaan solar membuat biaya operasional perusahaan meningkat. Namun, kondisi tersebut belum diikuti dengan kenaikan tarif karena pihaknya masih mempertimbangkan kondisi ekonomi penumpang.
"Kalau untuk ongkos sampai saat ini masih sama, karena kita pun kasihan juga sama penumpang. Yang jelas biaya makan mereka sudah bertambah, kalau kita naikkan lagi nanti bertambah biaya mereka," katanya.
Selain biaya operasional perusahaan yang meningkat, penumpang juga harus menghadapi tambahan pengeluaran selama perjalanan. Waktu tempuh yang lebih lama membuat kebutuhan makan dan biaya perjalanan ikut bertambah.
Alwi menyebut kondisi tersebut turut memengaruhi pendapatan perusahaan. Menurutnya, omzet ALS mengalami penurunan sekitar 30 persen akibat biaya operasional yang meningkat dan waktu perjalanan yang semakin panjang.
“Karena biaya operasional kita bertambah hitungannya," ujarnya.
3. Demi pelayanan, terkadang bus harus mengisi solar eceran

Untuk menghindari perjalanan semakin terlambat, sopir ALS terkadang terpaksa mencari alternatif dengan membeli solar eceran ketika antrean terlalu panjang atau stok habis sebelum giliran mengisi.
"Kadang-kadang terpaksa beli yang ketengan (eceran). Karena ketika kita antre sampai giliran, minyak habis. Mau tidak mau bagaimana lagi," kata Alwi.
Namun, pembelian solar eceran juga membuat biaya perjalanan semakin mahal. Selain harga lebih tinggi, kualitas bahan bakar yang diperoleh juga tidak selalu dapat dipastikan.
"Dibanding beli ketengan, dulu kami pernah beli Dexlite sebelum harganya naik. Tapi sekarang sudah tidak sanggup karena harganya jauh berbeda," ujarnya.
Alwi berharap pemerintah dan Pertamina segera menjelaskan penyebab perbedaan distribusi BBM antara Pulau Jawa dan Sumatera. Menurutnya, kondisi antrean solar saat ini lebih banyak dirasakan kendaraan di wilayah Sumatera, mulai dari Lampung hingga Medan.
"Yang kami pertanyakan, kenapa di Jawa distribusi BBM normal, sedangkan di Sumatra seperti ini. Kami berharap dinormalkan kembali," kata Alwi.
Ia menambahkan, antrean solar juga berdampak pada waktu istirahat pengemudi. Sopir yang seharusnya beristirahat setelah perjalanan panjang harus kembali mengantre BBM sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya.
"Seharusnya sopir sudah istirahat, tapi harus antre minyak dulu. Itu juga menambah biaya proses, termasuk kebutuhan sopir pengganti," pungkasnya.


















