Dari Medan, Stiven Bawa Visi Pendidikan Karakter ke Forum di Malaysia

- Dr. Stiven Widjaja mewakili Indonesia di Forum Internasional Perdamaian dan Harmoni di Melaka, membahas pentingnya pendidikan karakter sebagai fondasi utama dalam membentuk generasi berintegritas.
- Ia menekankan penggunaan teknologi secara bijak melalui pendekatan Real-World Project Learning agar siswa tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga bertanggung jawab sosial dan berorientasi pada kebaikan.
- Kehadirannya memperkuat dialog lintas budaya dan nilai kemanusiaan, mengajak generasi muda untuk menghormati perbedaan, menjaga moralitas, serta membawa dampak positif bagi masyarakat global.
Medan, IDN Times – Pendidik asal Medan, Dr. Stiven Widjaja, selaku President Director Carnegie School dan Rektor ITB Carnegie, menjadi salah satu panelis dari Indonesia dalam The 2nd International Interfaith Peace and Harmony Forum II 2026.
Forum internasional tersebut digelar di Malaysian Han Studies atau MAHANS, Melaka, Malaysia. Acara ini mempertemukan tokoh lintas agama, pendidik, pemimpin komunitas, dan peserta muda dari berbagai latar belakang untuk membahas pentingnya perdamaian, harmoni, dan nilai kemanusiaan dalam kehidupan global.
Tamu kehormatan dalam kegiatan itu adalah YB Datuk Aaron Ago Dagang, Menteri Perpaduan Negara Malaysia.
1. Tekankan pendidikan berbasis karakter

Dalam sesi Youth Dialogue bertema “The Significance of Religion in Your Life”, Dr. Stiven menyampaikan pentingnya pendidikan yang tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membangun karakter, empati, tanggung jawab, dan kebijaksanaan hidup.
Ia mengibaratkan pendidikan seperti membangun rumah. Prestasi akademik diibaratkan sebagai dinding dan atap yang membuat rumah terlihat indah, sedangkan karakter adalah fondasi yang membuat rumah tetap berdiri saat menghadapi badai.
“Kecerdasan tanpa karakter adalah fondasi yang rapuh. Seseorang bisa saja pintar, berhasil, dan memiliki kemampuan besar. Tetapi tanpa moralitas, kecerdasan itu dapat digunakan dengan cara yang keliru,” ujar Dr. Stiven.
Dr. Stiven juga memaparkan filosofi pendidikan holistik yang dikembangkan di Carnegie School, yakni Head, Heart, and Hands. Kepala melambangkan pengetahuan, hati melambangkan nilai dan karakter, sedangkan tangan melambangkan tindakan nyata yang bermanfaat bagi sesama.
Pendekatan itu sejalan dengan nilai-nilai yang telah lama diterapkan di Carnegie School, seperti hormat kepada orang tua, tanggung jawab, kerendahan hati, disiplin, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut diperkaya dengan pembelajaran moral Dizigui yang menekankan bakti, rasa hormat, dan kehidupan berlandaskan kebajikan.
2. Gunakan teknologi secara bertanggung jawab

Dalam forum tersebut, Dr. Stiven juga menyoroti penggunaan teknologi di era digital. Ia mengibaratkan teknologi seperti pisau. Di tangan orang bijaksana, pisau dapat membantu dan memberi manfaat. Namun di tangan orang tanpa karakter, alat yang sama justru bisa merugikan.
“Oleh karena itu, sekolah tidak cukup hanya mengajarkan keterampilan teknologi. Sekolah juga harus membantu siswa bertanya: Apakah yang saya ciptakan ini berguna? Apakah ini membantu orang lain? Apakah teknologi ini membawa kebaikan?” katanya.
Melalui pendekatan Real-World Project Learning, Carnegie School mendorong siswa mengembangkan kreativitas dan inovasi. Beberapa proyek yang telah dihasilkan antara lain smart home dan mobil pintar berbasis CCTV. Namun tujuan utamanya bukan hanya menunjukkan kemampuan teknis, melainkan membentuk generasi muda yang mampu menggunakan ilmu untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
3. Perkuat dialog lintas budaya

Kehadiran Dr. Stiven di Malaysia juga membuka ruang persahabatan dan dialog dengan berbagai tokoh lintas budaya yang memiliki perhatian pada pendidikan moral, perdamaian, dan harmoni universal.
Ia berkesempatan bertemu kembali dengan Teacher Chai yang kini menjalani kehidupan sebagai seorang Bhikkhu, dalam suasana penuh hormat dan persahabatan lintas budaya. Dr. Stiven juga berdialog dengan sejumlah delegasi internasional yang memiliki kepedulian terhadap nilai Dizigui, Ji Zu, dan pembentukan karakter generasi muda.
“Anak-anak muda hari ini tidak hanya perlu dipersiapkan untuk berhasil secara akademik. Mereka juga perlu dibimbing untuk menjadi manusia yang memiliki hati, menghormati perbedaan, menghargai budaya, dan mampu membawa kebaikan bagi dunia,” ujarnya.
Di akhir sesi, Dr. Stiven berpesan kepada peserta muda agar berani bermimpi besar tetapi tetap rendah hati. Ia mengajak generasi muda untuk bangga pada budaya sendiri, menghormati budaya orang lain, dan menggunakan teknologi tanpa kehilangan sisi kemanusiaan.
“Kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari apa yang kita capai, tetapi dari manusia seperti apa kita menjadi, dan kebaikan apa yang kita tinggalkan,” tutupnya.
Melalui keikutsertaan ini, Carnegie School dan ITB Carnegie menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya membentuk kecerdasan, tetapi juga karakter, kepemimpinan, kepedulian sosial, dan nilai hidup yang bermanfaat bagi masyarakat.


















