Seorang petani di Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara, tewas diduga dianiaya petugas keamanan Agrinas Palma Nusantara. Sebanyak 18 orang lainnya mengalami penganiayaan. Salah seorang pelaku diduga tentara aktif.
"Tolong! Tolong…! "
Dua kata itu terus terngiang-ngiang di telinga Jhoni. Teriakan yang keluar dari mulut seorang teman dalam kondisi leher dipiting dan tangan kanan dikunci ke belakang. Namun, Jhoni tak sanggup menolong, acungan parang dan ancaman bunuh memaksanya berlari untuk meminta pertolongan warga.
Jhoni tidak menyangka teriakan minta tolong sekaligus rintihan kesakitan dari sahabatnya, Luis David Hutabarat, pada sore 16 Juni 2026 di Blok K33 Jalur 3, Dusun Lubuk Pinang, Desa Sukarame, adalah kali terakhir ia dengar. Pria 28 tahun ini menjadi orang terakhir yang melihat Luis dalam keadaan bernyawa.
Adalah anggota TNI aktif, Sersan Mayor (Serma) Buana Delly yang diduga menjadi otak pelaku kematian Luis. Ia adalah kepala keamanan PT Agrinas Pangan Nusantara. Sedangkan yang menghunus parang dan mengusir Jhoni agar tidak menolong Luis adalah Serma (Purn) Budiono, staf keamanan Agrinas.
Peristiwa nahas itu berawal ketika sore itu Jhoni bersama Luis sedang dibonceng Luis mengendarai sepeda motor pulang membersihkan kebun sawit milik mertua Luis. Keduanya meluncur bersama Doni yang berboncengan dengan Sutomi. Dalam perjalanan pulang ke rumah, mereka tiba-tiba diadang dan dituduh mencuri sawit dari lahan yang dikelola Agrinas.
Akses pergi dan pulang memang harus melewati lahan perkebunan Agrinas yang sebelumnya merupakan kawasan hutan yang dikelola menjadi kebun sawit oleh PT Grahadura Leidong Prima. Anak perusahaan Bakrie Sumatera Plantation yang didirikan pada 1995 memiliki lahan kebun sawit pertama seluas 14 hektare waktu itu. Lalu berhasil menambah lahan berstatus kawasan hutan seluas 5.134 hektare di Labuhanbatu Utara sejak 2000 (ketika itu masih bernama Kabupaten Labuhanbatu). Lahan itu kemudian diambil alih oleh Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) dan diserahkan kepada Agrinas untuk dikelola sejak Oktober 2025.
"Tiba-tiba kami diadang oleh Serma Buana, Koi, dan Jansen yang mengendarai motor masing-masing. Lalu ada Ilham yang berboncengan dengan Uyung. Doni dan Sutomi ditabrak dengan sepeda motor hingga jatuh. Mereka ditangkap. Kami mengelak dan berhasil melewati adangan,” ujar Jhoni pada IDN Times, 23 Juni 2026.
Saat itu, Jhoni mendengar Serma Buana mengancam temannya. ”Sini turun kau, Luis! Main kita! Kubunuh kau!” kata Jhoni menirukan ancaman Serma Buana sembari mengacungkan parang.
Jhoni dan Luis pun langsung tancap gas saat mendengar ancaman itu. Sedangkan Doni dan Sutomi mengaku dianiaya menggunakan gancu di bagian perut. Kedua tangannya lalu diborgol karena dituduh mencuri tanda buah segar milik Agrinas.
Pelarian mereka berhasil disusul oleh Budiono. “Sekitar 200 meter dari tempat pengadangan pertama, saya sama Luis ditabrak sama Budiono, lalu kami terjatuh dari motor dan lari dikejar Budiono,” ujar Jhoni.
Menurut Jhoni, Luis meminta agar kejadian ini direkam melalui handphone. Jhoni tak bisa membuka handphone karena terkunci. Belum sempat Jhoni merekam dengan handphone, Budiono langsung memiting Luis.
Jhoni yang bertubuh lebih besar dibandingkan dengan Budiono hendak menolong. Tetapi Budiono langsung mengeluarkan parang dari selip sepatu boots-nya dan mengeluarkan kalimat ancaman. "Jangan kau bantu-bantu! Kubunuh kau nanti!" ujar Jhoni menirukan perkataan Budiono kala itu.
Tanpa pikir panjang, Jhoni lari lintang pukang meninggalkan Luis untuk meminta bantuan. Pasalnya, satu kilometer dari lokasi itu ada terminal sawit atau tempat penimbangan sawit milik Luis dan istrinya, Desi Nainggolan. Biasanya pada sore hari ramai para petani antre menimbang tandan buah segar hasil panen.
Ketika berlari menjauh, saat itulah Jhoni mendengar teriakan minta tolong dari Luis dengan kondisi leher tercekat oleh pitingan Budiono. Luis kala itu juga meneriakkan nama istrinya.
Jhoni memutuskan untuk tidak langsung ke tempat penimbangan sawit. Dia memilih bersembunyi untuk menghindari jika dikejar Budiono. Sekitar sepuluh menit dia bersembunyi. Ketika keluar, dia bertemu dengan temannya bernama Yogi. Jhoni lantas meminta Yogi memboncengnya kembali ke lokasi terakhir ketika meninggalkan Luis.
Pada saat Jhoni bersembunyi, istri Luis, Desi Nainggolan yang sedang berada di terminal sawit melihat Doni dan Sutomi digelandang dalam keadaan terborgol oleh pihak keamanan Agrinas. "Kak, tengokkan abang di sana!" teriak Doni sembari menunjuk ke arah Blok 33.
Tanpa pikir panjang, Desi meminjam motor warga yang sedang menimbang buah sawit. Dia melaju ke arah Blok 33, dibonceng iparnya. Tampak sepeda motor Luis namun tidak ada pemiliknya. Seketika itu jantung Desi berdegup makin kencang, ia yakin suaminya sedang dalam masalah besar.
Sekitar 200 meter dari motor itu, Desi melihat tubuh manusia tergeletak di pinggir jalan tanpa ada orang lain di sana. Langsung terlintas di kepalanya bagaimana nasib empat orang anak mereka jika Luis benar-benar sudah tiada. Ternyata suami yang berjanji pulang sore hari itu ditemukannya sudah tak bernyawa lagi.
Selang beberapa menit, Jhoni dan Yogi tiba. Saat itu, Desi sedang memeluk tubuh Luis yang sudah tak bernyawa. Jhoni kemudian menceritakan peristiwa yang dia alami bersama Luis, Doni, dan Sutomi.
Dari pengakuan Doni dan Sutomi, ketika diborgol dan digelandang ke mes Agrinas, mereka sempat melihat Luis dalam posisi terkapar tak berdaya dan lehernya diinjak oleh Serma Buana. "Pura-puranya kau," kata Doni menirukan perkataan Serma Buana kala itu.
Di situ, Doni dan Sutomi melihat Serma Buana bersama Budiono, Koi, dan Uyung berdiri gagah mengepung Luis yang sudah tak berdaya.
Seperti api, kabar kematian Luis di tangan petugas keamanan Agrinas merembet dengan cepat. Warga desa marah karena tauke sawit mereka harus kehilangan nyawa karena dituduh mencuri sawit.
Warga mengembosi ban mobil Xenia merah milik Serma Buana yang diparkir di Terminal Sawit supaya tak bisa kabur. Namun saking takutnya diamuk massa, Serma Buana, Budiono, Ilham Fajar Kurniawan, dan Qoi Musada Harianja memaksa mobil kempes itu tetap melaju ke Polsek Kualuh Hulu yang berjarak hampir dua kilometer.
"Berdebu sepanjang jalan itu karena mobil kempes dipaksa jalan," kenang Doni.
Tak berhenti di situ. Sekitar pukul 19.00 WIB, warga membakar mes Agrinas di Desa Sukarame Kualuh Hulu. Di saat itu pula warga membebaskan Doni dan Sutomi yang sedang ditahan di sana.
"Waktu itu sinyal lagi susah, jadi info kematian almarhum seperti simpang siur. Warga nggak dikoordinir tiba-tiba membakar mess Agrinas, lalu pergi ke Polsek mengejar Buana," kata Doni.
Karena tidak menemukan Serma Buana dan kawan-kawan, warga menggeruduk Polsek Kualuh Hulu. Mereka ingin “mengadili” Serma Buana dan kawan-kawan. Di sana warga menemukan mobil Xenia Merah milik Buana. Warga mendapatkan dua bilah parang dan satu pucuk senjata api yang kemudian diamankan polisi.
Polisi berusaha meredam kemarahan warga dengan dalih sudah menahan keempat terduga pelaku dan akan segera memindahkannya ke tahanan Polres Labuhanbatu. Sedangkan dua terduga pelaku lainnya hingga kini masih buron.
Desi yakin suaminya mati karena dianiaya Serma Buana dan kawan-kawan. Kesaksian Jhoni, Doni, dan Sutomi di lokasi kejadian memperkuat keyakinannya. Ia pun langsung melakukan visum di RSUD Rantauprapat.
Ia yakin penghilangan nyawa Luis sudah direncanakan oleh Serma Buana dan kawan-kawan. Desi membantah tuduhan suaminya telah mencuri sawit dari kebun Agrinas. Menurutnya, rencana jahat itu dilakukan karena Luis selalu membela petani sawit yang dianiaya oleh pihak keamanan Agrinas atas tudingan mencuri sawit. Luis beralasan tudingan Agrinas itu sepihak, tanpa bukti yang jelas.
“Setiap orang yang lewat membawa sawit dituduh mencuri. Selalu abang bilang ke si Buana, kalau memang mencuri dari kebun mana mereka ini mencuri, mana buktinya?” ungkap Desi.
Terakhir kali perselisihan terjadi delapan hari sebelum meninggal dunia atau 8 Juni 2026. Desi menuntut Mabes TNI dan Polri menyelidiki kasus ini secara profesional dan melihat rangkaian peristiwa sebelum hingga sesudah kejadian secara utuh, tidak parsial, dan hanya fokus pada lokasi kejadian di Blok 33.
Kapolres Labuhanbatu, AKBP Wahyu Endrajaya, menerangkan hasil otopsi di RSUD Rantauprapat yang menyatakan penyebab kematian Luis adalah mati lemas akibat tekanan pada leher. Kepolisian telah menetapkan tiga tersangka warga sipil, yaitu Budiono, Ilham Fajar, dan Koi Musda Harianja dalam kasus ini.
Budiono menjadi tersangka utama atas dugaan penganiayaan berujung kematian. Dua tersangka lainnya diduga terlibat dalam tindakan kekerasan secara bersama-sama.
“Penyelidikan ini melibatkan lintas sektor untuk memastikan keadilan bagi keluarga korban,” katanya.
Kepala Penerangan Kodam I/Bukit Barisan, Kolonel Inf Sandy mengungkapkan, Budiono yang merupakan pensiunan TNI telah ditetapkan sebagai pelaku utama. Sedangkan Serma Buana yang berdinas sebagai Babinsa Kodim Gayo Lues di bawah Kodam Iskandar Muda dikenakan pasal penganiayaan.
“Serma Buana pada saat kejadian berada di tempat yang berbeda dikenakan pasal penganiayaan," katanya. Hal ini berseberangan dengan keterangan saksi Doni yang melihat Buana Delly menginjak leher Luis.
Hendrik, Humas Agrinas Palma Nusantara Labuhanbatu mewakili Kepala Wilayah Sumut-Aceh, Soekarnoto, menyatakan peristiwa kematian Luis sebagai kecelakaan. Dia berdalih perusahaan tidak pernah memerintahkan petugas keamanan untuk melakukan tindak kekerasan saat mengamankan dan menjaga lahan perkebunan sawit.
“Sangat disesalkan dan mestinya tidak seharusnya terjadi. Kami sudah melakukan evaluasi menyeluruh atas kejadian ini,” katanya.
Dia membenarkan keempat orang yang telah ditahan polisi merupakan staf keamanan Agrinas Labuhanbatu Utara. Di dalamnya, terdapat oknum TNI aktif maupun purnawirawan beserta orang sipil. Mereka masuk ke perusahaan dengan cara melamar dan bertugas menjaga fasilitas negara berupa lahan perkebunan sawit di lokasi itu. “Kami menyerahkan proses hukum sepenuhnya pada aparat kepolisian,” katanya.
