Medan, IDN Times – Ketua Badan Koordinasi (Badko) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sumatera Utara, Yusril Mahendra, mengaku mendapat teror melalui pesan WhatsApp usai organisasinya menggelar diskusi publik terkait kasus penyiraman air keras terhadap aktivis HAM Andrie Yunus.
Teror tersebut muncul tak lama setelah diskusi yang diinisiasi Badko HMI Sumut pada Selasa (17/3/2026). Dalam diskusi itu, Badko HMI Sumut mengundang sejumlah pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) lintas organisasi masyarakat sipil. Badko HMI Sumut kemudian mengunggah video kegiatan diskusi itu ke akun media sosial mereka.
Yusril menilai, intimidasi yang dialaminya adalah upaya sistematis untuk membungkam ruang diskusi kritis mahasiswa.
“Aku pada prinsipnya gak pernah takut, mau intimidasi seperti apa pun. Karena yang kami lakukan adalah kebenaran untuk keadilan Bang Andrie Yunus,” kata Yusril kepada IDN Times, Selasa (31/3/2026).
Kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus sebelumnya menjadi sorotan publik. Sejumlah organisasi masyarakat sipil, termasuk KontraS, mendesak aparat penegak hukum mengusut tuntas pelaku dan motif di balik serangan tersebut. Dalam sejumlah pemberitaan media nasional, kasus ini dinilai sebagai ancaman serius terhadap pembela HAM.
