Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Jejak Spiritual Hindu Pemena di Tepian Sungai Sembahe

Jejak Spiritual Hindu Pemena di Tepian Sungai Sembahe
Saat pelaksanaan Erpangir Ku Lau sebagai ritual tradi sarana memperkuat identitas spiritual dan budaya masyarakat Karo (Dok. Kemenag Sumut)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Ritual Erpangir Ku Lau digelar umat Hindu Pemena di Sungai Sembahe, Deli Serdang, sebagai upaya pelestarian tradisi spiritual dan budaya masyarakat Karo.
  • Prosesi dimulai dengan doa bersama dan penyucian diri menggunakan air pangir yang melambangkan kesucian, keseimbangan alam, serta hubungan harmonis manusia dengan alam semesta.
  • Pemerintah dan tokoh agama menegaskan pentingnya menjaga warisan leluhur ini agar generasi muda terus melestarikan nilai spiritual, sosial, dan budaya dalam kehidupan masyarakat Karo.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Medan, IDN TimesRitual penyucian diri Erpangir Ku Lau kembali dilaksanakan oleh umat Hindu Pemena di kawasan sungai Desa Sembahe, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara, Jumat (13/3/2026). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Persatuan Hindu Pemena dengan dukungan Bimbingan Masyarakat Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama dan PHDI Provinsi Sumatera Utara sebagai bagian dari upaya pelestarian tradisi spiritual masyarakat Karo.

Ritual yang berlangsung di tepi aliran sungai Sembahe tersebut diikuti oleh tokoh adat, pemuka agama, serta umat Hindu Pemena dari berbagai daerah di Sumatera Utara. Prosesi berlangsung khidmat dengan tetap mempertahankan tata cara adat yang diwariskan secara turun-temurun.

1. Erpangir Ku Lau bukan sekadar ritual tradisional tetapi juga sarana memperkuat identitas spiritual dan budaya Karo

IMG-20260315-WA0013.jpg
Saat pelaksanaan Erpangir Ku Lau sebagai ritual tradi sarana memperkuat identitas spiritual dan budaya masyarakat Karo (Dok. Kemenag Sumut)

Ketua panitia kegiatan dari Persatuan Hindu Pemena Ari Riandi Surbakti menyampaikan bahwa pelaksanaan Erpangir Ku Lau bukan sekadar ritual tradisional, tetapi juga sarana memperkuat identitas spiritual dan budaya masyarakat Karo. Menurutnya, tradisi ini merupakan warisan leluhur yang harus terus dijaga dan dilestarikan oleh generasi muda.

“Ritual ini mengandung nilai spiritual yang sangat dalam. Selain sebagai bentuk penyucian diri, Erpangir Ku Lau juga menjadi pengingat bagi kita untuk selalu menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Dibata (Tuhan),” ujarnya.

2. Ritual Erpangir Ku Lau dengan melakukan penyucian diri menggunakan air pangir di aliran sungai

IMG-20260315-WA0014.jpg
Saat pelaksanaan Erpangir Ku Lau sebagai ritual tradi sarana memperkuat identitas spiritual dan budaya masyarakat Karo (Dok. Kemenag Sumut)

Prosesi kegiatan diawali dengan doa (Ersudip) bersama yang dipimpin oleh pemuka adat dan pemangku ritual. Selanjutnya dilakukan pemberkatan air pangir, yaitu air yang telah dicampur dengan berbagai tumbuhan aromatik (berbagai macam jeruk dan daun daun) dan bunga sebagai simbol kesucian dan keseimbangan alam.

Setelah prosesi doa, para peserta mengikuti ritual Erpangir Ku Lau dengan melakukan penyucian diri menggunakan air pangir di aliran sungai. Ritual ini dipercaya mampu membersihkan diri dari unsur-unsur negatif serta memohon keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan bagi kehidupan.

Pembimbing Masyarakat Hindu Elirosa Tarigan mewakili Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya ritual ini. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian penting dari pelestarian kearifan lokal sekaligus memperkaya khazanah praktik keagamaan Hindu di Indonesia.

Lanjutnya, pemerintah melalui pembinaan keagamaan terus mendukung kegiatan-kegiatan yang bertujuan menjaga tradisi spiritual masyarakat, khususnya yang memiliki nilai budaya dan filosofi yang kuat.

“Secara filosofis, ritual Erpangir Ku Lau mengandung makna penyucian lahir dan batin. Air dalam ritual ini dipandang sebagai simbol kehidupan dan pemurnian, sedangkan pelaksanaan di sungai mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dengan alam semesta,” ungkapnya.

3. Ritual ini juga menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah mewariskan nilai-nilai spiritual

IMG-20260315-WA0016.jpg
Saat pelaksanaan Erpangir Ku Lau sebagai ritual tradi sarana memperkuat identitas spiritual dan budaya masyarakat Karo (Dok. Kemenag Sumut)

Pembimas Hindu menyampaikan, ritual ini juga menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah mewariskan nilai-nilai spiritual dan kebijaksanaan hidup kepada masyarakat Karo. Melalui pelaksanaan Erpangir Ku Lau, masyarakat diharapkan mampu menjaga keseimbangan hidup, baik secara spiritual maupun sosial.

“Pelaksanaan ritual ini tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga momentum mempererat kebersamaan masyarakat. Kehadiran generasi muda dalam kegiatan tersebut menjadi harapan agar tradisi Erpangir Ku Lau tetap hidup dan terus diwariskan di masa yang akan datang,” pungkasnya.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Persatuan Hindu Pemena bersama pemerintah berharap nilai-nilai spiritual, budaya, dan kearifan lokal masyarakat Karo dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Arifin Al Alamudi
EditorArifin Al Alamudi
Follow Us

Latest News Sumatera Utara

See More