Hutan Seluas 183.500 Lapangan Bola Hilang di Sumatra, Orangutan Tertekan

- Survei mencatat 131.030 hektare tutupan hutan hilang di wilayah yang dikaji sepanjang 2011–2023.
- Pemodelan 2023 memperkirakan populasi orangutan Sumatra 11.694 individu dan orangutan Tapanuli 716 individu.
- Sekitar 18 persen populasi orangutan berada di wilayah rentan terhadap perubahan tutupan lahan.
Medan, IDN Times – Hutan yang menjadi rumah bagi orangutan di Sumatra terus menyusut. Hasil survei populasi orangutan di Sumatra yang dilaksanakan Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) pada 2021 – 2023 mencatat kehilangan tutupan hutan mencapai 131.030 hektare dalam rentang 2011–2023. Artinya sekitar 10.079 hektare hutan hilang setiap tahunnya. Jika disimulasikan, luas hutan yang hilang sejak 2011 sama dengan sekitar 183.500 lapangan sepak bola berstandar FIFA.
Pada periode yang sama, analisis survei menunjukkan adanya korelasi kuat antara kehilangan tutupan hutan dan perubahan populasi orangutan. Model yang digunakan memperkirakan kehilangan satu individu orangutan berkaitan dengan setiap sekitar 74 hektare hutan yang hilang. Temuan ini memperlihatkan bahwa menjaga populasi orangutan tidak bisa dilepaskan dari menjaga habitatnya.
1. Populasi orangutan sumatra kini diperkirakan 11.694 individu, orangutan tapanuli hanya 716 individu

Survei yang dilakukan pada 2021–2023 mencakup 212 transek di tiga ekosistem dengan luas wilayah sekitar 18.670 kilometer persegi. Survei tersebut bertujuan memperbarui estimasi kepadatan populasi orangutan Sumatra (Pongo abelii) dan orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), sekaligus mengidentifikasi wilayah dengan kepadatan tinggi dan persoalan konservasinya.
Hasil pemodelan memperkirakan terdapat 11.694 individu orangutan Sumatra dan 716 individu orangutan Tapanuli pada 2023. Orangutan Sumatra tersebar dalam delapan metapopulasi, sedangkan orangutan Tapanuli tercatat di tiga metapopulasi yang tersebar di Ekosistem Batang Toru. Untuk orangutan Sumatra, survei mencatat penurunan populasi sekitar 19.5 persen dari hasil PHVA 2016.
2. 18 persen orangutan hidup di zona yang rentan
Mayoritas orangutan memang masih berada di kawasan yang terlindungi. Data survei menunjukkan sekitar 82 persen populasi orangutan berada di kawasan terlindungi, sedangkan sekitar 18 persen atau 2.204 individu berada di wilayah yang rentan terhadap perubahan tutupan lahan.
Posisi tersebut membuat perlindungan habitat menjadi tantangan besar. Sebab, keberadaan orangutan di luar kawasan yang terlindungi membuat populasinya lebih rentan terhadap perubahan fungsi lahan. Materi survei juga mencatat bahwa kepadatan populasi manusia menjadi salah satu risiko tertinggi terhadap habitat orangutan.
"Survei populasi tidak hanya memberi tahu kita berapa jumlah orangutan yang masih bertahan di alam. Yang jauh lebih penting, hasil ini membantu kita memahami kondisi populasi, mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perubahannya, dan memastikan bahwa kebijakan maupun program konservasi disusun berdasarkan bukti ilmiah," ujar Julius Paolo Siregar, Kepala Divisi Konservasi Insitu Yayasan Ekosistem Lestari dalam paparan hasil di Medan, Jumat (8/8/2026).
3. Kehilangan hutan berkorelasi kuat dengan penurunan populasi

Sepanjang 2011–2023, total kehilangan tutupan hutan di wilayah yang dikaji mencapai 131.030 hektare. Ekosistem Leuser menyumbang kehilangan terbesar, yakni 112.038 hektare, disusul kawasan Batu Ardan, Sikulaping dan Siranggas (BSS) sebesar 13.745 hektare dan Ekosistem Batang Toru 5.247 hektare.
Analisis statistik dalam survei menunjukkan hubungan yang kuat antara perubahan tutupan lahan dan populasi orangutan. Model tersebut memperkirakan sekitar satu individu orangutan hilang untuk setiap 74 hektare hutan yang mengalami kehilangan atau perubahan tutupan. Dengan kondisi itu, perlindungan habitat menjadi bagian utama dari upaya mempertahankan populasi orangutan.
Direktur Konservasi YEL, Yakob Ishadamy, menilai keberlangsungan orangutan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Ia menyebut hasil survei tersebut sebagai pengingat bahwa konservasi orangutan merupakan tanggung jawab bersama.
"Keberhasilan konservasi orangutan tidak dapat dicapai oleh satu lembaga atau satu pihak saja.Hasil survei ini menjadi pengingat bahwa konservasi orangutan merupakan tanggung jawab bersama. Semakin kuat kolaborasi semakin besar pula peluang kita menjaga keberlangsungan orangutan Sumatera dan orangutan Tapanuli di habitat alaminya,” pungkasnya.




![[BREAKING] Kapal Asing Ditangkap di Perairan Kepri, Angkut 1,3 Ton Sabu](https://image.idntimes.com/post/20250623/20250623_195901_11c2d071-974b-469c-86a8-f0a286d6cdfa.jpg)











