Hilal Tak Tampak di Medan, 1 Ramadan Berpotensi Jatuh pada 19 Februari

Medan, IDN Times - Pemantauan Hilal menjelang bulan suci Ramadan 1447 Hijriyah juga dilakukan di Medan. Bertempat di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Pemerintahan Kota Medan mengadakan pemantauan bersama Observatorium Ilmu Falak (OIF) pada Selasa (17/2/2026) sore.
Dari hasil pantauan mereka, hilal sama sekali tak terlihat. Hal ini berpotensi jika esok hari di Indonesia belum memasuki bulan puasa.
1. Hasil amatan OIF UMSU, hilal tak tampak alias negatif

Pengamatan hilal ini disampaikan oleh Arwin Juli Rakhmadi Butar-butar selaku Kepala OIF UMSU. Bersama mahasiswa S1 Ilmu Falak, mereka melakukan pemantauan sejak pukul siang hari.
"Kegiatan kita pada hari ini adalah dalam rangka melakukan pengamatan hilal. Untuk awal Ramadan kali ini, berdasarkan data astronomis menjelang awal Ramadan atau pasca terbenam matahari nanti, itu hilalnya sudah di bawah ufuk alias negatif atau minus," kata Arwin, Selasa (17/2/2026) sore.
Cuaca di Kota Medan sendiri sejak siang sudah mendung. Meskipun begitu, jika cuaca cerah sekali pun, hilal tetap tidak terlihat.
"Bahkan konjungsi itu baru terjadi jam 19.00 WIB. Sehingga praktis, pengamatan hilal yang kita lakukan nanti, itu tidak akan berhasil, karena hilalnya masih berada di bawah ufuk," lanjutnya.
2. Berpotensi ada perbedaan penyelenggaraan puasa di Indonesia

Dari amatan OIF UMSU, esok masyarakat Indonesia yang ikut ketetapan pemerintah berpotensi belum melakukan ibadah puasa. Hal ini karena posisi hilal yang belum terlihat. Meskipun begitu, pihaknya masih menanti hasil dari sidang isbat.
"Persisnya ketika matahari terbenam nanti jam 18.40 WIB, di situlah waktu kita melakukan pengamatan hilal. Nah, di jam itu, posisi hilalnya menurut perhitungan akan minus 1 derajat. Jadi, dipastikan tidak akan mungkin bisa terlihat dengan menggunakan alat apa pun. Ini menurut perhitungan atau hisab astronomis. Tapi kalau di Indonesia kan itu harus menunggu keputusan dari Kementerian Agama atau sidang isbat," beber Arwin.
Dengan hasil tersebut, diperkirakan terjadi perbedaan antara pemerintah dengan jemaat Muhammadiyah. Sebab, esok Muhammadiyah akan melakukan ibadah puasa.
"Tahun ini Muhammadiyah sudah mengubah metode atau kriterianya. Kriteria lama itu namanya wujudul hilal dan sekarang sudah berganti dengan nama KHGP atau Kalender Hijriah Global Tunggal dengan parameter global. Artinya, keterlihatan hilal atau posisi hilal di mana pun, ketika sudah memenuhi 5 derajat karena angka ini yang disepakati, maka itu sudah menjadi panduan bahwa tanggal 1 Ramadan sudah masuk. Nah, untuk awal Ramadan kali ini, ketinggian hilal 5 derajat itu sudah terpenuhi di Alaska, Amerika. Sehingga merujuk posisi hilal tersebut, Muhammadiyah menetapkan hari ini atau malam nanti itu sudah masuk tanggal 1 Ramadan," jelas Arwin.
3. OIF UMSU amati hilal pakai 3 teleskop

OIF UMSU dan Pemko Medan melakukan amatan hilal menggunakan 3 teleskop tersebut. Dan ketiganya sama-sama tak melihat keberadaan hilal.
"Beberapa tahun belakang ini memang kita belum ada penambahan teleskop. Namun demikian, tentu dengan ketersediaan teleskop yang ada ini relatif masih mencukupi. Hanya saja problem kita selama ini, itu faktor cuaca ya. Faktor alam yang memang tidak bersahabat untuk melakukan pengamatan hilal," sebut Arwin.
Teleskop yang digunakan OIF UMSU untuk melakukan pengamatan hilal, yaitu Breiser 152, William Optic 102, dan Zenith Star. Teleskop juga tampak sudah terpasang di salah satu ruang amat.
"Total untuk hari ini kita menyiapkan hanya tiga teleskop. Tapi, keseluruhan yang kita punya ada sekitar 20-an teleskop untuk berbagai penelitian," pungkasnya.
















