Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Harga Pertamax Naik, Ojol di Medan Pontang-panting Kejar Potongan Aplikator
Antrean sepeda motor di SPBU Pertamina (iStock/Anzz Media)
  • Kenaikan harga pertamax membuat driver ojol di Medan seperti Dimas Prayuda harus bekerja lebih keras karena pendapatan bersih harian mereka tergerus biaya bahan bakar dan potongan aplikator.
  • Para ojol menghadapi dilema antara menjaga performa motor dengan tetap memakai pertamax atau beralih ke pertalite yang lebih murah namun berisiko, sementara tarif aplikasi belum menyesuaikan kenaikan BBM.
  • Karyawan swasta seperti Risky Chandra juga terdampak, mengeluhkan lonjakan harga pertamax hingga 33 persen yang meningkatkan pengeluaran harian meski tetap berusaha mengikuti rekomendasi penggunaan BBM sesuai kendaraan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times - Kenaikan harga BBM nonsubsidi pertamax turut dirasakan oleh driver ojek online (ojol) di Kota Medan. Meskipun bisa beralih ke pertalite, namun sejumlah ojol tetap memilih menggunakan pertamax RON 92 dengan alasan menyesuaikan spesifikasi kendaraan.

Mereka tak ingin motor cepat rusak karena showroom selalu merekomendasikan untuk menggunakan pertamax. Namun di satu sisi mereka harus bekerja lebih keras lagi untuk mendapatkan upah yang besar.

1. Pertamax naik, upah ojol semakin tipis

Gambar ilustrasi ojol (freeepik)

Driver ojol bernama Dimas Prayuda (25) adalah salah satu yang merasakan dampaknya. Ia mengatakan bahwa naiknya harga pertamax akan memangkas upahnya.

"Bagi kami para driver ojol, bensin itu bukan sekadar konsumsi pribadi, tapi modal kerja utama. Kenaikan harga pertamax otomatis memangkas sisa pendapatan bersih harian yang bisa dibawa pulang ke rumah," kata Dimas, Kamis (11/6/2026).

Biasanya setiap hari Dimas mengisi BBM pertamax RON 92 full Rp40 ribu sekitar 3 liter lebih. Mengingat naiknya harga, ia harus merogoh kocek lebih dalam lagi.

"Sangat terasa kali, belum lagi ada potongan Rp15 ribu dari aplikasi untuk di atas 7 orderan Bike Hemat. Jadi kalo di total pengeluaran dulu itu sekitar Rp40 ribu + Rp15 ribu untuk sehari, lain uang makan. Kalau sekarang ya gitulah, tak tahu ini gimana harus dapat berapa supaya potongannya bisa terkejar," lanjutnya.

2. Kenaikan harga BBM tidak dibarengi dengan penyesuaian tarif

Ilustrasi ojol sedang menunggu pesanan. IDN Times/Dini suciatiningrum

Dimas sendiri memilih tetap menggunakan pertamax. Karena ia ingin menjaga performa mesin motor satu-satunya itu tetap prima dan awet untuk dipakai kerja seharian.

"Kalau harganya terus naik, kami dipaksa memilih dilema berat, yaitu tetap beli pertamax dengan risiko bawa uang belanja lebih sedikit, atau turun ke pertalite dengan risiko mesin motor lebih cepat jenuh dan antrean di SPBU yang mengular panjang sehingga membuang waktu narik," keluhnya.

Ia berharap ada evaluasi berkala yang adil dari pemerintah dan aplikator agar skema tarif ojol bisa lebih fleksibel. Sebab potongan aplikator masih dinilainya terlalu besar dengan ongkos yang murah.

"Jangan sampai beban kenaikan ini sepenuhnya ditanggung oleh pundak driver di lapangan. Terus juga Kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti pertamax ini sayangnya sering kali tidak dibarengi dengan penyesuaian tarif arloji dari pihak aplikator. Biaya operasional per kilometer naik, tapi potongan aplikasi tetap besar dan tarif per perjalanan segitu-gitu saja. Belum lagi kena orderan fiktif," beber Dimas.

3. Karyawan swasta juga merasakan dampak kenaikan pertamax

Para pengendara sepeda motor mengantri untuk mengisi bensin di SPBU. (iStock/Marwanto -)

Sementara itu seorang karyawan swasta bernama Risky Chandra juga mengungkapkan hal yang serupa. Ia merasa terbebani dengan naiknya harga pertamax.

"Kenaikan harga pertamax sungguh sangat disayangkan dan mengecewakan. Saya merasa sangat dirugikan dengan kebijakan itu, terlebih lagi naiknya langsung Rp4.000 atau setara 33 persen," ungkapnya.

Saban hari ia bekerja menempuh jarak 10 kilometer. Jika bisanya ia hanya menghabiskan uang BBM Rp100 ribu dalam seminggu, kali ini berbeda.

"Saya akan tetap menggunakan pertamax, karena mau tidak mau harus mengikuti anjuran penggunaan BBM sesuai dengan motor yang saya gunakan. Apalagi saya nempuh jarak 10 kilometer setiap harinya. Kalau kondisi ekonomi semakin memburuk, mau tidak mau harus beralih ke pertalite," pungkasnya.

Topics

Editorial Team

Related Article