Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Harga Cabai Merah Turun Tajam Di Sumut, Berikut Faktor Pemicunya

Harga Cabai Merah Turun Tajam Di Sumut, Berikut Faktor Pemicunya
Potret cabai (pexels.com/@courtney-stephens)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Harga cabai merah di Sumut anjlok pasca Idul Fitri, dengan harga di Medan berkisar Rp19.800–Rp21.000 per Kg dan di tingkat petani mencapai Rp7–Rp10 ribu per Kg.
  • Penurunan harga dipicu panen serentak akibat mundurnya pola tanam setelah banjir besar November 2025 yang menyebabkan penumpukan pasokan pada Maret.
  • Pasokan melimpah juga datang dari Aceh serta kebiasaan petani menanam bersamaan menjelang hari besar, membuat suplai berlebih dan harga cabai jatuh tajam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Medan, IDN Times - Berdasarkan pemantauan melalui PIHPS (Pusat Informasi Harga Pangan Strategis), harga cabai merah sejak libur panjang idul fitri berakhir terpuruk cukup dalam.

Di Kota Medan harga cabai merah sempat ditransaksikan sekitar Rp19.800 per Kg, dan sampai saat ini harga cabai merah masih belum beranjak jauh dari kisaran angka Rp21 ribuan per Kg.

Pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin mengatakan, dari beberapa sejumlah pasar tradisional sempat menemukan harga cabai merah dijual Rp15 ribu per Kg nya, dan dari hasil wawancara langsung dengan petani di wilayah Deli Serdang, harga cabai merah di level petani sempat berada dalam rentang Rp7 hingga Rp10 ribu per Kg.

Sehingga, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan harga cabai merah. Simak berikut ini:

1. Usai bencana melanda petani cabai kembali menanam ulang tanamannya

Potret cabai
Potret cabai (pexels.com/@jankao)

Pertama, bencana pada bulan November tahun 2025 silam telah memaksa petani cabai kembali menanam ulang tanamannya.

Banjir besar yang menenggelamkan banyak areal tanaman cabai merah memicu pola tanam yang mundur sekitar 1 bulan.

"Sehingga seharusnya banyak cabai yang bisa dipanen di awal Ramadhan, justru mundur pada bulan maret yang membuat terjadi penumpukan supply," ucapnya.

2. Banyak pasokan cabai dari wilayah aceh yang tidak bisa didistribusikan atau dijual ke wilayah lainnya

IMG-20250922-WA0023.jpg
Tanaman cabai di Kabupaten Magelang. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng)

Kedua, melihat ada panen cabai merah dari klaster petani baru di Aceh. Menurutnya, ada menemukan banyak pasokan yang tetap di supply dari wilayah aceh, padahal wilayah ini sebelumnya yang paling terdampak banjir. Bahkan di beberapa waktu tertentu (saat banjir), banyak pasokan cabai dari wilayah aceh yang tidak bisa didistribusikan atau dijual ke wilayah lainnya.

"Namun, diluar dugaan pasokan cabai merah dari aceh masih berlanjut dalam jumlah signifikan pada bulan februari," kata Gunawan.

3. Kebiasaan dari petani yang tidak teroganirsir dengan baik menanam cabai

Tanaman cabai petani di Desa Sidomulyo, Kecamatan Sidorejo, Magatan terserang patek. IDN Times/ Riyanto.
Tanaman cabai petani di Desa Sidomulyo, Kecamatan Sidorejo, Magatan terserang patek. IDN Times/ Riyanto.

Kemudian yang ketiga, ada kebiasaan dari petani yang tidak teroganirsir dengan baik menanam cabai dengan harapan ada cuan (keuntungan) di saat perayaan keagamaan seperti Idul Fitri.

Dimana setiap petani memiliki ekspektasi yang sama terhadap kemungkinan adanya kenaikan demand atau permintaan di hari besar tertentu.

"Nah, hal tersebut yang kerap tanpa disadari menggiring petani untuk menyesuikan pola bercocok tanam, yang diskenariokan akan dipanen di waktu perayaan keagamaan tersebut terjadi. Alhasil terjadi panen serentak yang membuat supply menggunung dan memicu terjadinya penurunan harga yang sangat tajam," jelasnya.

Sehingga konsitensi dibutuhkan disini, walaupun konsistensi petani terkadang kerap terganggu oleh bencana, kenaikan harga bahan baku saprotan hingga dinamika harga yang kerap membuat petani kehilangan kemampuan bercocok tanam.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Arifin Al Alamudi
EditorArifin Al Alamudi
Follow Us

Latest News Sumatera Utara

See More