Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Erupsi Gunung Sinabung, Warga Bertahan di Bawah Bayang-bayang Kecemasan
Erupsi Gunung Sinabung diabadikan dari Desa Sigarang-garang, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, Senin (31/8/2026). (Dok: Eny Febri Yanti Ginting )
  • Erupsi Gunung Sinabung terdengar dari Kabupaten Karo pada Senin (31/7/2026), membuat Eny Ginting keluar rumah untuk melihat asap dari puncak.
  • Eny dan sejumlah warga Desa Sigarang-garang kembali tinggal dekat zona merah karena kebun menjadi sumber penghidupan mereka.
  • Pengalaman mengungsi dan relokasi membuat Eny menyiapkan barang penting serta mempelajari jalur evakuasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2010

Erupsi pertama Sinabung menyapu sebagian besar Desa Sigarang-garang dengan material vulkanik. Keluarga Eny mengungsi di Kantor Bupati Karo dan berpindah-pindah tempat.

2013

Erupsi besar Sinabung tercatat terjadi.

2015

Erupsi besar Sinabung tercatat terjadi.

2018

Erupsi besar Sinabung tercatat terjadi.

2019

Keluarga Eny memutuskan kembali ke Sigarang-garang dan kembali bertani.

2020

Erupsi besar Sinabung tercatat terjadi.

2021

Erupsi besar Sinabung tercatat terjadi. Setelah itu, Sinabung disebut relatif lebih banyak berdiam diri hingga 2026.

2025 lalu

Eny kembali ke Sigarang – Garang setelah sempat merantau.

Senin (31/7/2026)

Sekitar pukul 10.50 WIB, gemuruh terdengar dari arah Gunung Sinabung. Eny keluar rumah dan melihat asap membumbung dari puncak.

31 Agustus 2026

Erupsi besar terakhir Sinabung tercatat saat laporan ini diturunkan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Gunung Sinabung kembali mengeluarkan asap dan erupsi, memicu kewaspadaan warga di sekitar zona merah.
  • Who?
    Eny Febri Yanti Ginting, keluarganya, dan sebagian warga Desa Sigarang-garang.
  • Where?
    Desa Sigarang-garang, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, Sumatra Utara.
  • When?
    Sekitar pukul 10.50 WIB, Senin (31/7/2026).
  • Why?
    Penyebab erupsi per saat ini masih belum diketahui.
  • How?
    Gemuruh terdengar dan asap membumbung dari puncak. Warga menyiapkan barang penting, jalur evakuasi, dan sebagian telah mengevakuasi diri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Gunung Sinabung mengeluarkan asap lagi. Eny Ginting mendengar gemuruh lalu keluar rumahnya di Desa Sigarang-garang. Eny dan keluarganya tinggal dekat gunung karena ada kebun. Mereka pernah mengungsi dan pindah tempat. Sekarang, barang penting sudah dikemas dan mereka tahu jalan untuk pergi bila erupsi makin tidak kondusif.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pengalaman menghadapi erupsi, pengungsian, dan relokasi membuat Eny serta keluarganya membangun kesiapan dalam keseharian. Barang dan surat penting telah dikemas, sementara jalur evakuasi dipelajari. Eny juga mengikuti perkembangan aktivitas Sinabung dan menyebarkan informasi melalui media sosialnya, di tengah kehidupan warga yang tetap bergantung pada kebun.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Karo, IDN Times — Gemuruh terdengar dari arah Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, sekitar pukul 10.50 WIB, Senin (31/7/2026). Eny Febri Yanti Ginting yang sedang berada di rumahnya, sontak beranjak ke luar.

Dia menyaksikan kembali asap membumbung tinggi dari puncak gunung berketinggian 2.460 meter di atas permukaan laut itu. Sinabung yang belum lama ini tertidur memuntahkan asap. Erupsinya hanya berselang dua hari dari Gunung Merapi di Jawa Tengah pada Jumat (28/31/2026).

Jarak Eny dari puncak gunung dalam radius 2,5 Km. Jarak yang diumumkan pemerintah sebagai zona merah.

Eny dan keluarganya tinggal di Desa Sigarang-garang, Kecamatan Naman Teran. Desa yang sempat dikosongkan karena terdampak erupsi. Sebagian besar desa itu sempat disapu material vulkanik pada erupsi pertama Sinabung, 2010 silam.

Bagi sebagian orang, melihat gunung kembali memuntahkan abu mungkin menjadi alasan untuk segera meninggalkan rumah. Namun, bagi Eny dan Sebagian warga persoalan tidak sesederhana pergi atau bertahan.

Mereka pernah mengungsi. Mereka pernah direlokasi. Mereka juga tahu kampungnya masuk kawasan rawan. Tetapi setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan di tempat pengungsian dan lokasi relokasi, sebagian warga akhirnya kembali ke kampung halaman.

Di sana terdapat kebun, yang memberikan penghidupan bagi mereka. Eni yang kini berusia 27 tahun sudah merasakan bagaimana pernah menjadi penhyintas bencana erupsi pada 2010 lalu. Saat itu dia mengingat masih duduk di kelas VI sekolah dasar. Dia pernah merasakan, bagaimana hidup lama di pengungsian.

1. Keluarga Eny sempat menahun di pengungsian

Erupsi Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, Senin (31/8/2026). (Dok: PVMBG)

Erupsi Sinabung yang berlangsung sejak 2010 membuat kehidupan warga berubah drastis. Pengungsian pun berlangsung bertahun-tahun.

Eny mengingat, keluarganya sempat mengungsi di Kantor Bupati Karo pada 2010. Tidak menetap di sana, Eny dan keluarga sempat berpindah-pindah tempat. Selama setahun di pengungsian, mereka memutuskan kembali ke Sigarang-garang. Eny pun harus berpindah bersekolah di Kota Medan sejak SMP hingga kuliah. Eny pun terus memantau perkembangan keluarga yang berpindah-pindah. Dia bilang, keluarganya sempat menempati relokasi di Siosar. Namun tidak lama.

Alasannya, hasil pertanian mereka di Siosar, tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup. Terlebih untuk biaya pendidikan Eny di luar kota. Sang ibu juga sempat mengontrak tapak kebun di Kabanjahe. Hingga akhirnya mereka memutuskan kembali ke Sigarang-garang pada 2019. Mereka kembali bertani di sana.

“Karena kebun di Sigarang-garang ini yang memadai untuk ditanami,” katanya.

Kondisi serupa tidak hanya dialami keluarganya. Jamak keluarga lain, juga hidup berpindah-pindah. Bahkan tidak sedikit yang meninggalkan relokasi dan kembali ke Sigarang-garang. Meski pun, setiap hari mereka harus dibayang-bayangi Risiko dari erupsi Sinabung.

2. Warga justru was-was ketika Sinabung diam cukup lama

Suasana di bawah kaki Gunung Sinabung (Dok.Pribadi/Rahel Ulina Br Sembiring)

Bagi Eny dan warga lainnya, bukan hal mudah hidup di bawah bayang-bayang erupsi yang suatu saat bisa terjadi. Berdamai dengan erupsi, warga coba mempelajari Sinabung dari keseharian mereka.

Dalam linimasanya, Sinabung memang beberapa kali erupsi besar. Terjadi pada rentang tahun tertentu.

Erupsi besar tercatat terjadi pada 2010, 2013, 2015, 2018, 2020 dan 2021. Kemudian erupsi besar yang terakhir tercatat, saat laporan ini diturunkan pada 31 Agustus 2026. Di antara rentang waktu ini juga tercatat aktivitas kegempaan dan erupsi Sinabung dengan kolom abu yang relatif lebih kecil.

Kata Eny, warga justru khawatir ketika Sinabung lebih jarang memunculkan aktivitasnya. Seperti dari rentang 2021 ke 2026. Sinabung relatif lebih banyak berdiam diri. Sehingga warga sempat was-was pada erupsi yang terjadi hari ini.

Bagi warga yang sudah terbiasa hidup bersama Sinabung, erupsi kecil yang terjadi secara berkala justru dianggap lebih mudah dihadapi.

“Justru karena dia selama ini diam terus tiba-tiba erupsi, tiba-tiba kayak hari ini. Itu yang bikin warga pada panik,” ujarnya.

Kekhawatiran semakin terasa karena sebagian warga sudah kembali membangun rumah dan kehidupan mereka di Sigarang-garang. Meski pun saat ini kata Eny, warga membangun rumah pada daerah yang jauh dari aliran lahar dingin.

3. Siap siaga sudah menjadi keseharian Eny

ilustrasi gunung Sinabung yang kembali aktif setelah seabad mati suri (commons.wikimedia.org/Yudhapohan)

Setelah sempat merantau, Eny kembali ke Sigarang – Garang pada 2025 lalu. Kesehariannya diisi dengan mengunggah konten tentang Sinabung. Dia juga mempromosikan Sinabung sebagai destinasi wisata.

Eny sadar betul, tinggal di zona bahaya mengharuskan kewaspadaan penuh. Dia selalu mengikuti perkembangan aktivitas Sinabung. Terlebih, dia juga memberikan informasi itu lewat linimasa media sosialnya.

Di rumah, kewaspadaan ibarat makanan sehari-hari. Pun kelak erupsi memaksa mereka harus mengevakuasi diri, Eny dan keluarganya sudah lebih siap.

“Barang-barang penting sudah dikemas. Surat-surat penting juga sudah disiapkan,” katanya.

Eny juga mempelajari jalur evakuasi yang harus diambilnya, kelak erupsi kian tidak kondusif. Seperti hari ini, jika erupsi mengarah ke Sigarang-garang, mereka sudah siap untuk mengevakuasi diri ke arah Kabupaten Langkat.

Meski pun Sebagian warga juga sudah sempat mengevakuasi diri. Terutama yang memiliki balita. Warga khawatir anak mereka terpapar abu vulkanik.

Curated For You

Editorial Team

Related Article