Karo, IDN Times — Gemuruh terdengar dari arah Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, sekitar pukul 10.50 WIB, Senin (31/7/2026). Eny Febri Yanti Ginting yang sedang berada di rumahnya, sontak beranjak ke luar.
Dia menyaksikan kembali asap membumbung tinggi dari puncak gunung berketinggian 2.460 meter di atas permukaan laut itu. Sinabung yang belum lama ini tertidur memuntahkan asap. Erupsinya hanya berselang dua hari dari Gunung Merapi di Jawa Tengah pada Jumat (28/31/2026).
Jarak Eny dari puncak gunung dalam radius 2,5 Km. Jarak yang diumumkan pemerintah sebagai zona merah.
Eny dan keluarganya tinggal di Desa Sigarang-garang, Kecamatan Naman Teran. Desa yang sempat dikosongkan karena terdampak erupsi. Sebagian besar desa itu sempat disapu material vulkanik pada erupsi pertama Sinabung, 2010 silam.
Bagi sebagian orang, melihat gunung kembali memuntahkan abu mungkin menjadi alasan untuk segera meninggalkan rumah. Namun, bagi Eny dan Sebagian warga persoalan tidak sesederhana pergi atau bertahan.
Mereka pernah mengungsi. Mereka pernah direlokasi. Mereka juga tahu kampungnya masuk kawasan rawan. Tetapi setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan di tempat pengungsian dan lokasi relokasi, sebagian warga akhirnya kembali ke kampung halaman.
Di sana terdapat kebun, yang memberikan penghidupan bagi mereka. Eni yang kini berusia 27 tahun sudah merasakan bagaimana pernah menjadi penhyintas bencana erupsi pada 2010 lalu. Saat itu dia mengingat masih duduk di kelas VI sekolah dasar. Dia pernah merasakan, bagaimana hidup lama di pengungsian.
