Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Status Desil Warga Dinilai Tak Akurat, Ini 2 Faktornya Menurut Ekonom
ilustrasi kemiskinan (pexels.com/Timur Weber)
  • Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menyebut masalah peringkat desil dipicu metode proxy means testing yang memakai indikator rumah, aset, pekerjaan, pendidikan, dan listrik, sehingga berisiko tidak akurat.
  • Penggunaan indikator secara homogen dapat salah mengelompokkan warga; seseorang dengan rumah permanen atau tinggal di kawasan mewah belum tentu memiliki pendapatan cukup atau kondisi ekonomi mapan.
  • Perubahan ekonomi yang cepat membuat data desil mudah tertinggal. Masyarakat diminta mengecek statusnya, sementara lurah, kepala desa, dan kepling didorong aktif memutakhirkan serta mengklarifikasi data.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
saat awal industri ini berkembang

Pendapatan pengemudi ojek online disebut banyak diberitakan mencapai dua digit atau di atas Rp10 juta.

Minggu (31/8/2026)

Gunawan Benjamin menyebut metode proxy means testing dan perubahan sosial ekonomi yang cepat sebagai dua pemicu masalah peringkat desil. Ia mendorong warga serta perangkat desa memutakhirkan dan mengklarifikasi data desil.

saat ini

Kondisi pendapatan pengemudi ojek online disebut sudah berbeda dari masa awal perkembangan industri.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Keluhan warga mengenai peringkat desil meningkat karena data penilaian dinilai tidak sesuai dengan kondisi sosial ekonomi mereka di lapangan.
  • Who?
    Masyarakat pemohon perubahan desil, pengamat ekonomi Gunawan Benjamin, serta lurah, kepala desa, dan kepling menjadi pihak yang disebut dalam persoalan ini.
  • Where?
    Pernyataan Gunawan Benjamin disampaikan di Medan; pemutakhiran dan pengecekan data didorong dilakukan oleh perangkat pemerintah di wilayah warga masing-masing.
  • When?
    Gunawan Benjamin menyampaikan penilaiannya di Medan pada Minggu, 31 Agustus 2026.
  • Why?
    Masalah dipicu penggunaan indikator proxy yang berpotensi tidak akurat serta perubahan sosial ekonomi warga yang cepat tanpa pemutakhiran data yang adaptif.
  • How?
    Penilaian desil memakai indikator rumah, aset, pekerjaan, pendidikan, dan listrik. Warga diminta memeriksa statusnya lalu mengajukan perubahan atau klarifikasi bila tidak sesuai kondisi nyata.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Banyak orang merasa angka desil mereka tidak cocok dengan hidup mereka. Gunawan bilang ada dua sebab. Rumah, barang, kerja, sekolah, dan listrik kadang membuat orang terlihat kaya, padahal bisa punya utang atau penghasilan kecil. Hidup orang juga cepat berubah. Warga diminta cek data dan minta perbaikan jika salah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Meningkatnya perhatian terhadap ketepatan peringkat desil membuka ruang bagi data kesejahteraan yang lebih mencerminkan kondisi warga. Penjelasan mengenai keterbatasan indikator dan cepatnya perubahan ekonomi juga menegaskan pentingnya peran perangkat desa serta kelurahan dalam mengenali situasi masyarakat secara lebih dekat dan responsif.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times – Keluhan masyarakat terkait peringkat status desil semakin meningkat. Banyak warga mengajukan permohonan perubahan peringkat karena data yang digunakan dinilai tidak sesuai kondisi di lapangan.

Pengamat Ekonomi, Gunawan Benjamin, menilai ada dua hal utama yang memicu persoalan tersebut.

Pertama, metode penilaian desil yang masih mengandalkan pendekatan tidak langsung atau proxy means testing. Kedua, perubahan status sosial ekonomi masyarakat yang terjadi sangat cepat.

"Penentuan desil menggunakan sejumlah indikator proxy seperti kondisi bangunan rumah, kepemilikan aset barang, pekerjaan, pendidikan, hingga penggunaan daya listrik. Dengan pendekatan seperti ini memiliki kelemahan utama dalam hal akurasi pengelompokan kesejahteraan sosial," ujar Gunawan di Medan, Minggu (31/8/2026).

1. Muncul ketika indikator proxy digunakan secara homogen

Ilustrasi grafik ekonomi naik dan turun (pexels.com/energepic.com)

Dia memberi contoh seorang sopir mobil rental yang berpendidikan tinggi dan memiliki rumah permanen warisan. Secara indikator proxy orang tersebut mudah dipersepsikan mapan.

"Padahal jika ditelusuri lebih dalam, faktanya bisa berbeda. Kerjanya tidak menentu, mobil lebih sering parkir daripada mengangkut penumpang, pendapatan tidak sebanding atau lebih rendah dari pengeluaran kebutuhan dasar, bahkan terjerat utang. Hal-hal inilah yang membuat pengelompokan memiliki kesalahan atau deviasi," jelasnya.

Kelemahan lain, kata Gunawan, muncul ketika indikator proxy digunakan secara homogen. Misalnya warga di kompleks perumahan mewah otomatis diasumsikan masuk desil 10.

"Bisa saja pendekatan tersebut benar menggambarkan rata-rata masyarakat di dalamnya masuk desil 10. Tetapi tidak menutup kemungkinan adanya kesalahan dalam pendekatan tersebut," katanya.

2. Dampak perubahan ekonomi cepat

grafik ekonomi dari klikmu.co

Lanjutnya, faktor kedua adalah perubahan status sosial ekonomi yang berlangsung cepat di tengah dinamika ekonomi yang cenderung melemah.

Gunawan mencontohkan pendapatan pengemudi ojek online saat awal industri ini berkembang. Saat itu banyak pemberitaan menyebut pendapatan mencapai dua digit atau di atas Rp10 juta. Namun kondisinya saat ini sudah berbeda.

Begitu juga dampak efisiensi anggaran pemerintah. Kebijakan peniadaan rapat di hotel berdampak langsung pada pekerja perhotelan yang jam kerjanya dikurangi atau kehilangan pekerjaan. Nasib serupa dialami tukang bangunan yang kehilangan proyek karena kontraktor tidak mendapat pekerjaan konstruksi.

"Sehingga status sosial ekonomi seseorang berubah cepat di situ. Jika tidak dibarengi dengan pemutakhiran data yang adaptif, maka data yang tersaji tidak lagi mencerminkan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang sesungguhnya, sekalipun data dikumpulkan dari banyak instansi lalu dianalisis," ungkapnya.

3. Pemerintah Desa diminta aktif memutakhirkan data

Ilustrasi analisis big data. (pexels.com/Pixabay)

Gunawan menyarankan masyarakat segera mengecek peringkat desil masing-masing. Jika tidak sesuai realita, segera ajukan perubahan data.

Ia juga mendorong perangkat pemerintah di tingkat paling bawah untuk lebih adaptif melihat perubahan kondisi warganya.

"Perangkat pemerintah setempat level lurah atau kepala desa hingga kepling harus seadaptif mungkin melihat perubahan kondisi sosial ekonomi warganya. Dan lakukan pengecekan satu per satu status desil warganya agar segera mengajukan perubahan data atau klarifikasi jika desil tidak menggambarkan kondisi sosial ekonomi warganya," pungkas Gunawan.

Editorial Team

Related Article