Aksi Satya Bumi bersama sejumlah organisasi masyarakat sipil Indonesia disela perhelatan Konferensi Para Pihak Konvensi Keanekaragaman Hayati (COP CBD) ke-17 di Yerevan, Armenia, Rabu (21/10/2026). (Dok: Satya Bumi)
Satya Bumi mendesak pemerintah Indonesia segera menerbitkan Strategi Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Orangutan. Dokumen tersebut dinilai perlu menyesuaikan kondisi terkini, termasuk dampak bencana ekologis pada 2025 dan keberadaan habitat orangutan yang belum teridentifikasi sebelumnya.
Juru Kampanye Satya Bumi, Riezcy Cecilia, mengatakan kebijakan konservasi harus mempertimbangkan kondisi orangutan Tapanuli setelah bencana serta kebutuhan perlindungan habitatnya.
“Satya Bumi mendesak Pemerintah Indonesia untuk lebih serius lagi dalam melindungi orangutan Tapanuli dengan segera menerbitkan Strategi Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Orangutan yang disesuaikan dengan kondisi bencana ekologis tahun 2025, kemudian juga untuk habitat yang belum teridentifikasi sebelumnya,” ujar Riezcy.
Selain persoalan orangutan, Satya Bumi turut menyoroti belum diformalkannya Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) ke dalam kerangka aturan atau perundang-undangan yang mengikat. Padahal, strategi tersebut merupakan penjabaran komitmen Indonesia terhadap Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework (KM GBF).
Menurut mereka, kondisi tersebut berpotensi melemahkan pengawasan dan implementasi strategi perlindungan keanekaragaman hayati. Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman hayati tinggi dinilai membutuhkan komitmen dan kerangka kebijakan yang kuat agar perlindungan lingkungan tidak berhenti pada target dan dokumen perencanaan.