Mengenal Masjid Tua Indrapuri, Salah Satu Masjid Tertua di Aceh

- Masjid Tua Indrapuri di Aceh Besar dibangun sekitar 1607 atas perintah Sultan Iskandar Muda, menggantikan kuil Hindu seiring penyebaran Islam di wilayah tersebut.
- Bangunan kayu setinggi 11,65 meter ini berciri atap tumpeng, fondasi empat tingkat, 36 tiang, ukiran lokal bergaya Arab, serta dasar menyerupai benteng.
- Sejarawan menilai masjid ini mungkin termasuk yang tertua di Nusantara dan Asia Tenggara; kini tetap digunakan untuk ibadah, kegiatan keagamaan, dan pertemuan warga.
Masjid Tua Indrapuri dulunya merupakan sebuah kuil Hindu. Kuil tersebut kemudian dibongkar seiring dengan tersebarnya agama Islam di wilayah itu. Sekitar tahun 1607, Sultan Iskandar Muda memerintahkan pembangunan masjid di lokasi lama tersebut. Masjid baru itu diberi nama Masjid Tua Indrapuri.
Masjid Tua Indrapuri berada di Desa Pasar Indrapuri, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar. Letaknya di dekat jalan raya Banda Aceh–Medan. Adapun masjid ini berjarak sekitar 150 m dari pertigaan pasar Indrapuri. Yuk, simak fakta unik tentang Masjid Tua Indrapuri berikut ini, guys!
1. Arsitektur Masjid Tua Indrapuri

Pemandangan aula salat di dalam Masjid Tua Indrapuri. (commons.wikimedia.org/Si Gam) Masjid Tua Indrapuri sebagian besar terbuat dari kayu. Dindingnya dihiasi ukiran khas setempat dengan detail bergaya Arab. Ciri utamanya adalah atap berbentuk tumpeng, ungkap Waspada Aceh. Atap tersebut bertumpu pada fondasi empat tingkat yang terbuat dari campuran kapur dan tanah liat.
Masjid ini memiliki bagian dasar yang menyerupai benteng. Denahnya yang berbentuk persegi memiliki luas kira-kira setara dengan dua lapangan bola voli dan menampilkan dinding kayu dengan ukiran yang mendetail. Masjid ini berdiri setinggi 11,65 m dan ditopang oleh 36 tiang. Adapun sebuah kolam terletak di depan masjid yang telah dipugar tersebut.
2. Salah satu masjid tertua di Asia Tenggara

Pemandangan Masjid Tua Indrapuri pada tahun 1896. (commons.wikimedia.org/nvt) Husaini Ibrahim, seorang sejarawan dari Universitas Syiah Kuala, menyatakan bahwa Masjid Tua Indrapuri mungkin merupakan salah satu yang tertua di Nusantara dan Asia Tenggara. Pandangan ini dikaitkan dengan awal penyebaran Islam di Aceh. Sejumlah catatan sejarah menelusuri penyebarannya hingga ke Kerajaan Perlak dan kemudian Samudra Pasai. Kaitan-kaitan ini memperkuat posisi masjid tersebut dalam sejarah awal Islam di kawasan.
Husaini mengatakan bahwa sejarah awal masjid berkaitan dengan kerajaan-kerajaan Hindu pada masa itu. Kemudian, wilayah Lamuri dan Indra Purwa berada di bawah kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam yang dipimpin oleh Sultan Ali Mughayat Syah. Pada masa itu, wilayah dan aset mereka beralih ke bawah pemerintahan baru. Beberapa situs pra-Islam, termasuk Masjid Tua Indrapuri, kemudian difungsikan sebagai situs Islam.
3. Tempat berkumpul masyarakat

Pemandangan kolam wudu di dalam kompleks Masjid Tua Indrapuri. (commons.wikimedia.org/Si Gam) Masjid Tua Indrapuri digunakan untuk ibadah salat sehari-hari dan berbagai peristiwa penting dalam kalender Islam. Masjid ini juga menjadi tempat bagi warga untuk bertemu dan berkumpul, tambah Around Us. Berbagai kegiatan tersebut turut melestarikan adat istiadat keagamaan setempat, mengingat Islam telah membentuk kawasan Aceh selama berabad-abad.
Masjid ini terletak sekitar 100 m di sebelah timur Sungai Aceh. Masyarakat dapat mengunjunginya pada siang hari, kecuali saat waktu salat lima waktu. Sebaiknya periksa jadwal waktu salat sebelum berkunjung. Pengunjung juga diharapkan mengenakan pakaian yang pantas sebagai bentuk penghormatan.
Masjid Tua Indrapuri merupakan bagian penting dari sejarah Aceh. Desainnya mencerminkan perpaduan antara tradisi lokal dan Islam. Masjid ini tetap menjadi tempat ibadah serta bagian penting dari warisan budaya Aceh.






















