Cerita Korban Bandang di Aceh Tamiang yang Tak Dapat Huntara

Aceh Tamiang, IDN Times - Sejumlah warga korban banjir bandang di Kampung Alur Manis, Kecamatan Rantau, Kabupaten Tamiang, mengaku belum mendapat kejelasan bantuan meski rumah mereka mengalami kerusakan dan hingga kini belum layak huni.
Ironisnya, ebagian dari mereka tidak masuk dalam kategori rumah rusak berat maupun sedang, sehingga tidak mendapatkan hunian sementara (huntara). Di sisi lain, bantuan perbaikan rumah yang dijanjikan pemerintah juga belum terealisasi.
Akibatnya, warga terpaksa bertahan dengan kondisi serba terbatas, bahkan sebagian masih tinggal di tenda pengungsian di lapangan bola Kebun Rantau, Kecamatan Rantau, yang masa pakainya segera berakhir.
Salah seorang warga, Mizlan, mengaku telah hampir empat bulan tinggal di pengungsian sebelum akhirnya kembali ke rumahnya meski dalam kondisi rusak.
“Hampir empat bulan saya tinggal di pengungsian ini. Sekarang saya sudah pindah ke rumah sendiri, tapi itu pun kami tempel-tempel yang rusak dan bersihkan lumpur cukup lama,” kata Mizlan.
Ia menyebutkan, kondisi rumahnya masih jauh dari layak. Bagian dalam rumah hancur, pintu rusak, atap runtuh, hingga kamar mandi tidak bisa digunakan. Bahkan saluran air di sekitar rumah masih tersumbat.
“Dari pemerintah selama ini belum ada (bantuan). Saya berharap pemerintah mengerti kerusakan yang kami alami, termasuk parit yang tersumbat itu,” katanya.
1. Separuh rumah Zainuddin hanyut terbawa arus banjir

Hal serupa disampaikan warga lainnya, Zainuddin. Ia mengaku rumahnya rusak parah, bahkan separuh bangunan hanyut terbawa arus banjir. Namun, rumahnya tetap dikategorikan sebagai rusak ringan.
“Separuh rumah saya sudah tidak ada, hanyut. Yang tersisa juga hancur di dalamnya, perabot habis semua. Tapi dibilang rusak ringan, jadi tidak dapat huntara,” ujarnya.
Zainuddin mengaku telah mengajukan sanggahan atas kategori tersebut, namun hingga kini belum ada kejelasan. Ia pun masih bertahan di lokasi pengungsian sambil menunggu bantuan.
“Mungkin satu atau dua minggu ke depan kami harus keluar dari sini. Rumah belum diperbaiki, jadi saya tidak tahu harus ke mana,” katanya.
2. Erliani masih tinggal di tenda biru bersama keluarga

Sementara itu, warga lainnya, Erliani, mengaku masih tinggal di tenda biru bersama keluarganya. Ia menyebut masa tinggal di pengungsian akan segera habis, sementara rumahnya belum bisa ditempati.
“Rumah kami masih berlumpur semua, dari kamar sampai dapur. Air untuk mencuci pun tidak ada. Bantuan perabot juga belum ada kabar,” ujarnya.
Ia mengatakan, kerusakan rumahnya cukup parah, dengan dapur yang miring dan kamar mandi hancur. Namun, kondisi tersebut tetap dikategorikan sebagai rusak ringan.
“Ketinggian lumpur sampai sedengkul. Kami bersihkan setiap hari. Bahkan sempat tidur dua minggu dalam kondisi berair dan lumpur sebelum dipindahkan ke sini,” katanya.
Erliani juga menyoroti lambannya penanganan di wilayah mereka dibandingkan daerah lain yang sudah lebih dulu menerima bantuan.
“Di daerah lain sudah dapat bantuan, tapi di Kecamatan Rantau belum. Padahal kondisi kami lebih parah,” ujarnya.
Menurutnya, warga yang memiliki kemampuan ekonomi masih bisa memperbaiki rumah secara mandiri. Namun bagi masyarakat yang tidak mampu, mereka hanya bisa bertahan di tenda sambil menunggu bantuan yang belum pasti.
“Kalau nanti tenda ini habis dan rumah belum diperbaiki, kami tidak tahu harus bagaimana. Harapannya setelah Lebaran bantuan bisa cair, jadi kami bisa pulang dan bersihkan rumah,” kata Erliani.
Warga berharap pemerintah segera memberikan kejelasan terkait bantuan perbaikan rumah maupun solusi tempat tinggal sementara, agar mereka tidak terus berada dalam kondisi tidak menentu pascabencana.
















