Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cegah Body Shaming Sejak Kecil, Ini Tips Mendidik Anak agar Lebih Empatik
ilustrasi parenting (pexels.com/August de Richelieu)
  • Artikel menyoroti pentingnya mencegah body shaming sejak dini dengan menanamkan empati, rasa hormat, dan penerimaan terhadap perbedaan fisik pada anak.
  • Ditekankan bahwa orang tua berperan besar sebagai contoh melalui cara berbicara, bersikap, serta memberi respons terhadap perbedaan tubuh di sekitar anak.
  • Lima langkah praktis diberikan untuk mendidik anak agar lebih empatik, mulai dari menghargai perbedaan bentuk tubuh hingga fokus pada karakter daripada penampilan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernahkah anak tiba-tiba mengomentari bentuk tubuh atau penampilan seseorang di tempat umum? Situasi seperti ini sering membuat orang tua merasa canggung, apalagi jika ucapan tersebut berpotensi menyinggung perasaan orang lain.

Meski terdengar polos, kebiasaan mengomentari fisik seseorang bisa menjadi awal munculnya perilaku body shaming jika tidak diarahkan dengan baik. Karena itu, penting bagi orang tua untuk mengenalkan nilai empati, rasa hormat, dan penerimaan terhadap perbedaan sejak usia dini.

Anak-anak pada dasarnya belajar dari lingkungan sekitar. Cara orang tua berbicara, bersikap, hingga menanggapi perbedaan fisik orang lain akan menjadi contoh yang mudah mereka tiru dalam kehidupan sehari-hari.

Mengajarkan anak untuk tidak menilai orang berdasarkan penampilan bukan hanya membantu mereka terhindar dari perilaku body shaming, tetapi juga membentuk karakter yang lebih peduli, menghargai sesama, dan memiliki kecerdasan emosional yang baik.

Lalu, bagaimana cara menanamkan sikap tersebut kepada anak? Berikut lima langkah sederhana yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih empatik dan menghargai setiap orang apa adanya.

1. Biasakan anak menghargai perbedaan bentuk tubuh

Ilustrasi anak ngobrol dengan teman (freepik.com/freepik)

Setiap orang punya bentuk tubuh yang unik, dan itu bukan sesuatu yang harus dinilai bagus atau jelek. Ajarkan anak bahwa gemuk, kurus, tinggi, pendek, semuanya adalah variasi alami tubuh manusia, bukan standar nilai. Coba deh, libatkan anak dalam obrolan santai tentang betapa beragamnya manusia itu, kayak baca buku atau nonton animasi yang menampilkan karakter dengan bentuk tubuh yang berbeda-beda.

Kamu juga bisa ajak anak berdiskusi sambil main, misalnya dengan main puzzle manusia atau gambar keluarga. Bilang ke mereka, "Lihat deh, semua orang beda-beda tapi tetap keren kan?" Dari situ, mereka jadi lebih terbuka melihat perbedaan sebagai hal yang seru, bukan bahan olokan.

2. Gunakan kata-kata positif saat bicara soal penampilan

Ilustrasi ibu mengantar anak bersekolah (freepik.com/prostooleh)

Anak-anak itu peniru ulung. Kalau kita suka komentar soal “kamu makin kurus, jadi cantik” atau “kok sekarang gendutan?”, mereka bisa mengira ukuran tubuh itu penentu nilai diri. Padahal, kata-kata kayak gitu bisa membentuk pola pikir yang salah sejak dini.

Coba ganti dengan pujian yang fokus ke usaha dan karakter, kayak “Wah, kamu kelihatan ceria banget hari ini!” atau “Aku suka gayamu, keren dan pede!” Kata-kata positif seperti ini ngajarin anak bahwa penampilan itu gak cuma soal tubuh, tapi soal bagaimana kita memperlakukan diri sendiri dan orang lain.

3. Ajarkan empati lewat cerita atau tontonan yang sesuai

Ilustrasi ibu membaca buku cerita bersama anak (freepik.com/freepik)

Anak-anak lebih mudah belajar lewat cerita yang relatable dan emosional. Kamu bisa pilih buku anak atau tontonan yang menggambarkan tokoh yang disisihkan karena penampilan, lalu ajak anak diskusi setelahnya. Tanyakan, “Kamu kasihan gak sama tokoh itu? Kenapa ya dia diperlakukan seperti itu?”

Cara ini ngajarin mereka untuk mikirin perasaan orang lain sebelum ngomong atau bertindak. Anak jadi belajar bahwa komentar soal fisik bisa bikin orang sedih, dan itu bukan hal yang layak dianggap lucu. Pelan-pelan, empati mereka akan tumbuh secara alami.

4. Tegur dengan lembut saat anak mulai komentar fisik orang

Ilustrasi ibu mengantar anak bersekolah (freepik.com/pvproductions)

Kalau anak mulai bilang, “Ih, kok orang itu gemuk banget?” jangan langsung marah. Respon seperti itu cuma bikin mereka bingung dan takut, bukan paham. Lebih baik tanya balik dengan nada tenang, “Menurut kamu, kenapa bentuk tubuhnya berbeda ya? Tapi dia tetap baik, kan?”

Tujuan teguran ini bukan bikin anak merasa bersalah, tapi ngajak mereka mikir ulang. Kalau perlu, kasih penjelasan singkat, “Tubuh orang beda-beda karena banyak hal, dan kita gak boleh menilai orang dari itu.” Teguran lembut lebih efektif buat ngajarin nilai empati daripada hardikan yang bikin anak defensif.

5. Dukung anak untuk fokus pada karakter

Ilustrasi orangtua dan anak bermain bersama (freepik.com/freepik)

Daripada terlalu banyak bahas penampilan, lebih baik dorong anak buat mengagumi sifat baik dari orang lain. Ajak mereka nyeritain teman yang seru, jujur, atau suka berbagi, bukan yang paling cantik atau paling langsing. Dengan begitu, fokus mereka bergeser dari tampilan luar ke nilai-nilai yang jauh lebih penting.

Kamu juga bisa jadi role model dengan ngomongin kelebihan orang lain berdasarkan kepribadiannya. Misalnya, “Tante Rina hebat banget ya, selalu bantu orang lain.” Anak jadi belajar bahwa yang bikin orang dikagumi itu bukan tubuhnya, tapi hatinya.

Body shaming itu gak lahir dari hati yang jahat, tapi dari pola pikir yang salah dan dibiarkan terus. Edukasi sejak dini bisa jadi tameng agar anak tumbuh jadi pribadi yang suportif, empatik, dan menghargai keberagaman. Yuk, mulai dari hal-hal kecil yang bisa bikin perubahan besar buat generasi masa depan yang lebih baik!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article