ACEH TAMIANG, IDN Times - Di bawah pekatnya endapan lumpur yang menyisakan keheningan mencekam dan deru Sungai Tamiang yang mengamuk, detak kehidupan Aceh Tamiang seakan mati suri. Napas industrinya terhenti seketika, dipaksa bungkam oleh banjir bah terbesar dalam sejarah Aceh Tamiang. Termasuk operasional Pertamina EP Rantau Field.
Namun, di tangan Tomi Wahyu Alimsyah, Pertamina EP Rantau Field menolak menyerah. Ia dibangunkan secara perlahan lewat denyut reaktivasi yang presisi, menuntun kembali fasilitas produksi dan puluhan sumur minyak yang sempat membisu.
Banjir tahun 2025 itu bukanlah banjir biasa. Kompleks perumahan hingga area operasional Pertamina EP Rantau benar-benar tenggelam. Ketika air perlahan surut, yang tersisa bukanlah tanah yang siap dipijak, melainkan pekatnya lumpur tebal melebihi setengah meter yang menutup seluruh akses kehidupan.
Rumah-rumah tertutup rapat oleh sedimen cokelat, kelistrikan mati total, dan fasilitas pengolahan air tak berfungsi. Kabupaten Aceh Tamiang lumpuh total, dan jantung operasional Rantau seolah terhenti tanpa detak.
Semua merasa hancur dan kehilangan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, termasuk Tomi. Namun sebagai Field Manager, ia sadar tak boleh terlihat lemah serta harus bertindak cepat dan sistematis.
“Saat bencana saya ngungsi juga di PDSI bersama ratusan pekerja yang lain, hanya dengan pakaian yang ada di badan dan celana pendek. Terus pindah ke RTC, karena itu tepat paling bersih dan memiliki air. Saya waktu itu harus kerja di toilet perempuan, karena itu tempat yang paling bersih,” ungkapnya.
Ruang toilet sepetak itu seketika menjadi ruang kerja sekaligus ruang tidur. Di tempat ini Tomi memikirkan para pekerja, keluarga pekerja, dan keberlangsungan Pertamina EP Rantau. Ia sadar betul para pekerja masih terganggu mentalnya, bahkan mendengar suara hujan saja langsung khawatir. Namun ia berusaha menabahkan dan menguatkan semua, termasuk diri sendiri dan keluarga.
“Kami bergantian tidur dengan yang lain di tempat yang sepetak itu. Saat komisaris datang, saya itu hanya berpakaian seadanya dan bercelana pendek, langsung saya bilang waktu itu ‘mohon maaf pak tidak bisa menyambut dengan baik’,” kenangnya kala itu.
Pihak SKK Migas kala itu juga datang. Mereka memprediksi perlu waktu 3 tahun untuk bisa mengembalikan operasional PEP Rantau ke posisi normal.
“Nah, kami menjawab dengan mempercepat semua prediksi itu,” beber Tomi.
Ia sadar, memulihkan sebuah ladang minyak yang lumpuh tidak bisa dilakukan dengan ketergesaan tanpa arah. Ia membagi langkah penyelamatan ke dalam empat tahapan besar: emergensi, reaktivasi, pemulihan (recovery), dan keberlanjutan (sustainability).
Tahap pertama adalah menjamin napas dasar para pekerja dan warga. Sebelum memikirkan kilat aliran minyak atau angka-angka produksi, kebutuhan manusiawi harus diselesaikan terlebih dahulu. Kebutuhan medis, makanan, air minum, tempat tinggal sementara, dan kelistrikan menjadi benteng pertama yang harus ditegakkan di tengah puing-puing bencana.
Tomi memahami siklus unik di Rantau: untuk mendapatkan air bersih, dibutuhkan listrik. Namun, mengandalkan jaringan listrik PLN yang turut rubuh diterjang banjir adalah sebuah kemewahan yang mustahil. Dari sinilah strategi reaktivasi berputar.
Tomi dan tim bergegas mengaktifkan kembali sumur-sumur yang kaya akan gas terasosiasi (associated gas). Gas yang berhasil dialirkan kemudian dikonversi menjadi energi listrik mandiri. Begitu listrik menyala, WTP (Water Treatment Plant) kembali bergetar, mengolah air keruh Sungai Tamiang menjadi air bersih untuk kebutuhan domestik dan sanitasi ribuan warga yang terisolasi.
Proses reaktivasi itu dirancang bagaikan simfoni yang bertahap. Tomi membaginya ke dalam tiga fase strategis: dimulai dari area Rantau yang kaya akan pasokan gas. Setiap fase diselesaikan dengan tingkat ketelitian tinggi demi memastikan keamanan pekerja dan keandalan fasilitas.
“Listrik menjadi target utama untuk diselesaikan. Kalau listrik sudah menyala, pengolahan air akan bisa dilakukan, kebutuhan air bersih bisa dipenuhi dan pengungsi terhindar dari penyakit. Listrik juga akan menggerakkan pembangkit di sumur-sumut produksi. Ini jadi jantung operasi sehingga menjadi prioritas,” ungkapnya.
