Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Antrean Panjang di SPBU, Pengamat Menilai Panic Buying Perburuk Keadaan
Suasana pembelian BBM di SPBU Waingapu usai diperiksa Pertamina dan Polres Sumba Timur. (Dok Pertamina)
  • Antrean panjang di SPBU Medan terjadi akibat kepanikan warga setelah konflik Iran Vs AS-Israel, meski pemerintah menegaskan stok BBM nasional masih aman.

  • Ekonom Gunawan Benjamin menjelaskan dua pemicu utama panic buying: penutupan Selat Hormuz dan kenaikan harga minyak mentah dunia yang memengaruhi harga BBM.

  • Pemerintah diminta membangun kepercayaan publik dengan komunikasi menenangkan serta memastikan distribusi BBM lancar agar masyarakat tidak membeli berlebihan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
saat ini

Di Kota Medan terjadi antrean panjang di SPBU akibat masyarakat melakukan panic buying BBM. Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menyebut perang antara Iran dan AS/Israel yang masih berlangsung menjadi pemicu utama kepanikan.

kini

Pemerintah menegaskan stok BBM aman, namun masyarakat tetap khawatir. Gunawan menilai pemerintah perlu membangun kepercayaan publik untuk meredakan panic buying agar distribusi dan aktivitas ekonomi tidak terganggu.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Masyarakat di Kota Medan mengalami antrean panjang di SPBU akibat aksi panic buying BBM yang dipicu oleh ketegangan perang antara Iran dengan AS dan Israel.
  • Who?
    Masyarakat Kota Medan sebagai pembeli BBM, pengamat ekonomi Gunawan Benjamin yang memberikan penilaian, serta pemerintah yang menegaskan stok BBM masih aman.
  • Where?
    Kejadian berlangsung di sejumlah SPBU di Kota Medan, Sumatera Utara.
  • When?
    Situasi ini terjadi saat konflik Iran–AS/Israel masih berlangsung dan dilaporkan pada hari-hari terakhir ini.
  • Why?
    Panic buying muncul karena kekhawatiran masyarakat terhadap potensi kelangkaan dan kenaikan harga BBM akibat penutupan Selat Hormuz serta naiknya harga minyak mentah dunia.
  • How?
    Aksi pembelian berlebihan menyebabkan antrean panjang di SPBU, distribusi BBM menjadi tidak merata, dan aktivitas ekonomi terganggu meski harga BBM tetap stabil sejauh ini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Banyak orang di Medan antre panjang di pom bensin karena takut kehabisan bensin. Katanya ada perang antara Iran dan Amerika sama Israel, jadi orang-orang panik beli banyak. Tapi pemerintah bilang bensin masih cukup. Sekarang harga bensin belum naik, cuma antrenya bikin susah dan orang jadi cemas terus.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Meskipun situasi di Medan diwarnai antrean panjang akibat panic buying BBM, artikel ini menunjukkan sisi positif berupa ketahanan ekonomi yang tetap terjaga. Harga BBM tidak mengalami lonjakan meski permintaan meningkat, menandakan stabilitas pasokan dan efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga keseimbangan pasar serta mencegah inflasi di tengah gejolak global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times - Di Kota Medan saat ini masyarakat mengeluhkan antrean panjang di SPBU untuk membeli BBM (bahan bakar minyak). Perang antara Iran vs AS-Israel menjadi pemicu utama kepanikan masyarakat, yang dinilai oleh pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin.

Dia menilai hal ini mendorong terjadinya aksi panic buying. Meskipun, di sisi lainnya pemerintah sudah menegaskan bahwa stok BBM kita aman. Namun sejauh ini pernyataan tersebut belum mampu meredakan kekuatiran warga.

1. Panic buying dinilai tidak memicu inflasi, karena sekalipun terjadi peningkatan permintaan, namun harga BBM tetap bertahan stabil

Pasokan BBM di NTB dipastikan aman jelang Idul Adha 2025. (dok. Istimewa)

Panic buying yang dilakukan warga tentunya memperburuk keadaan. Karena dampaknya memicu antrian panjang, memperburuk keresahan, distribusi BBM menjadi timpang, hingga berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat khususnya bagi kendaraan niaga barang dan jasa. Meskipun demikian panic buying tidak memicu inflasi, karena sekalipun terjadi peningkatan permintaan, namun harga BBM tetap bertahan stabil.

"Perang antara Iran dengan AS yang masih berlangsung saat ini, dan telah memicu kenaikan harga minyak mentah dunia serta ditutupnya selat hormuz telah meracuni pikiran masyarakat," jelasnya.

2. Gunawan sebut ada dua isu utama yang menimbulkan masyarakat panic buying

Ilustrasi pengisian BBM. (Dok. PPN Sumbagsel).

Dikatakannya, ada dua isu utama setidaknya yang membuat masyarakat melakukan panic buying.

Pertama, penutupan selat hormuz berpotensi mengganggu ketersediaan BBM sehingga berpeluang memicu kelangkaan.

Selanjutnya, kedua adalah kenaikan harga minyak mentah dunia berpeluang mendorong terjadinya kenaikan harga BBM di tanah air.

"Untuk poin yang kedua dampaknya memang akan dirasakan instan, karena harga BBM non subsidi jelas naik harga disaat harga minyak mentah dunia alami kenaikan. Namun untuk BBM bersubsidi ini sangat tergantung dari kebijakan pemerintah. Sehingga panic buying saat ini harus dibarengi dengan kemampuan pemerintah untuk memenuhi potensial demand dari masyarakat," ungkap Gunawan.

3. Pemerintah harus bisa membangun narasi yang menentramkan dan pastikan kebutuhan BBM terpenuhi

Ilustrasi pengisian BBM. (Dok. PPN Sumbagsel).

Untuk meredakan panic buying maka yang perlu dibangun oleh pemerintah adalah trust atau kepercayaan. Pemerintah harus bisa membangun narasi yang menentramkan dan diikuti dengan upaya untuk memastikan bahwa kebutuhan BBM masyarakat terpenuhi dan bagi masyarakat sebaiknya tidak melakukan panic buying dan tetap membesli sesuai dengan kebutuhannya.

"Perang memang bisa merubah segala kemungkinan kebijakan yang akan diambil pemerintah. Dan perang memang sudah pasti akan merubah tatanan distribusi barang dan jasa. Namun panic buying hanya akan memperburuk keadaan, dan masyarakat sendiri yang akan merasakan dampak buruknya. Dan sejauh ini saya belum melihat dampak panic buying terhadap lompatan harga kebutuhan pokok masyarakat," pungkasnya.

Editorial Team