Para jurnalis di Kota Medan dan Sumatra Utara menggelar unjuk rasa, mengecam pernyataan Prabowo terkait Londo Ireng, Kamis (30/7/2026). (Dok: KKJ Sumut)
Beberapa kontroversi Presiden Prabowo dengan jurnalis menunjukkan sikap paradoks dan inkonsistensi dirinya sebagai pemimpin negara. Sedari menjadi calon presiden, Prabowo kerap kali berbicara soal kebebasan pers. Dalam satu pertemuan dengan organisasi pers, Prabowo dengan tegas mengatakan pentingnya kebebasan pers. Dia mengatakan kebebasan pers yang dinamis akan mendorong percepatan pembangunan.
Begitu juga dengan isu demokrasi. Pada beberapa kesempatan, Prabowo juga kerap membahas soal demokrasi. Seperti pada saat pidato sambutan di acara makan malam bersama Perdana Menteri India Narendra Modi, di Jakarta, Selasa (7/7/2026) lalu. Dalam pertemuan itu, dia mengatakan demokrasi adalah sistem terbaik dibandingkan semua sistem yang pernah dicoba oleh peradaban manusia.
"Kita tidak boleh menyerah. Kita harus tetap percaya pada demokrasi dan terus berupaya menjaganya," ujar Prabowo, melansir ANTARA.
Pernyataan Prabowo tentang kebebasan pers dan demokrasi ini bertolak belakang dengan sikap yang kerap ditunjukkan kepada jurnalis. Labelisasi ‘Londo Ireng’ terhadap jurnalis hingga LSM justru menguatkan kesan bahwa pemerintahan yang dipimpinnya anti kritik. Demokrasi terkesan hanyalah ‘omon-omon’ belaka.
“Sebagai pemimpin negara, Prabowo mestinya memberikan penghormatan tinggi kepada demokrasi. Dari pada menghabiskan energi untuk melabeli pengkritik, lebih baik Prabowo lebih fokus membenahi pemerintahan,” kata Array.
SOJAMSU, juga meminta seluruh pejabat negara tidak menggunakan narasi yang mendiskreditkan profesi jurnalis maupun kelompok masyarakat sipil yang menjalankan fungsi kontrol publik.
Selain mendesak pemerintah menjamin keselamatan jurnalis dan mencegah segala bentuk intimidasi maupun kriminalisasi, SOJAMSU menegaskan bahwa pers bukan musuh pemerintah.
"Kami percaya, negara yang kuat bukanlah negara yang menutup ruang kritik, melainkan negara yang mampu menerima kritik sebagai bagian dari proses demokrasi,” pungkas Array.