Medan, IDN Times — Orangutan Tapanuli menjadi spesies yang paling disorot dalam peringatan Hari Orangutan Internasional 2026 yang dirayakan pada 19 Agustus. Populasi satwa bernama latin pongo tapanuliensis ini diperkirakan hanya tersisa 716 individu pada survey yang dilakukan pada 2021-2023.
Sejak diumumkan pada 2017, spesies ini langsung masuk ke dalam kategori terancam punah (critically endangered). Saat itu jumlahnya diperkirakan kurang dari 800 individu.
Bencana yang menerjang sejumlah kawasan di Tapanuli Raya juga disebut menjadi faktor yang membuat jumlah populasi orangutan tapanuli berkurang. Dalam jurnal Current Biology, edisi 22 Juni 2026, berjudul “Extreme rainfall further endangers the world’s rarest great ape”, gabungan peneliti menyebut populasi orangutan tapanuli hilang sebanyak 58 individu.
Orangutan, baik Sumatra, Tapanuli dan Kalimantan, masuk dalam kategori spesies payung. Keberadaannya, menjadi indikator bahwa kondisi hutan dalam keadaan baik. Artinya hutan menjadi rumah yang aman bagi spesies lainnya.
Orangutan tapanuli sendiri menjadi penghuni Ekosistem Batangtoru, satu kawasan yang terbentang dari Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan. Keberadaannya berkaitan dengan masa depan ekosistem, masyarakat yang hidup di sekitarnya, hingga generasi yang belum lahir.
Pesan itu mengemuka dalam gelar wicara memperingati Hari Orangutan Internasional 2026 pada Rabu (19/8/2026). Acara ini diselenggarakan Sahabat Alam Lestari (SaLi) kolaborasi lintas organisasi pegiat konservasi, di Huta Coffee, Kota Padangsidimpuan Senin (18/8/2026) petang. Para organisasi yang terlibat antara lain;
Para pegiat konservasi dalam bincang-bincang itu mendorong generasi muda mengambil peran lebih besar dalam menjaga orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis). Terutama menjaga Ekosistem Batangtoru sebagai rumah mereka.
Orang muda baik Gen Z dan Millennial, dinilai tidak harus menunggu menjadi peneliti atau aktivis untuk berkontribusi. Ada sejumlah cara yang bisa dilakukan sejak sekarang.
