Populasi Hiu di Sibolga Terus Terancam, Ini yang Harus Dilakukan

Tapanuli Tengah, IDN Times - Sibolga, Sumatera Utara disebut merupakan salah satu daerah sentra pemasok Hiu terbesar di Pantai Barat Sumatera. Hal itu disampaikan oleh Monika Pinem dari analis BPSPL Padang pada acara dialog interaktif Save Our Shark (SOS) yang dilaksanakan di Audio Visual, STPK Matauli Pandan.
Dialog ini digelar salah Komunitas Menjaga Pantai Barat, Eart Hour Medan dan STPK Matauli. Ada sekira 50 an peserta ikut dalam acara itu.
"Sentra produksi Hiu terdapat di Kota Sibolga. Para pemasok berasal dari berbagai daerah, seperti Aceh, Padang dan beberapa daerah lain," kata Monika, Senin (2/3).eh
1. Kemungkinan Hiu yang dipasok adalah hewan yang dilindungi

Menurut Monika, beragam jenis Hiu yang dipasok dari daerah Kota Sibolga, kemungkinan adalah ikan yang dilindungi.
Sayangnya, Monika menyebut pendataan jenis Hiu di daerah ini terkendala para pemasok yang bersifat perorangan.
"Reproduksi Hiu rendah, misalnya Hiu Martil yang harus mencapai usia 9 tahun baru dewasa dan bisa bereproduksi, lalu Hiu Beton 15 tahun.
Alasan lain pentingnya upaya perlindungan Hiu, lanjut Monika, dimana terdapat Hiu endemik yang di tempat lain tak ditemukan.
2. Populasi Hiu terus berkurang

Sementara itu, menurut Monika, upaya perlindungan terhadap Hiu semakin dibutuhkan. Pasalnya populasi predator puncak di lautan ini terus berkurang akibat perburuan. "Bayangkan jika terus dieksploitasi?" katanya.
Perempuan berkacamata ini menyebutkan, terdapat 500 jenis ikan Hiu di dunia. Terdapat 119 jenis di antaranya berada di lautan Indonesia.
Dengan jumlah jenis yang cukup banyak tersebut, upaya perlindungan Hiu berhadapan dengan perlunya kemampuan identifikasi. "Identifikasi akan membantu dalam proses mengenali jenis Hiu yang dilindungi" katanya.
"Sedikit yang tertarik identifikasi Hiu dan Pari. Padahal kita (Kota Sibolga) surga Hiu, tapi kita gak tahu Hiu," kata Monika lagi.
3. Ada kandungan Merkuri dalam daging hiu

Monika mengungkap, selain keterancaman populasi, faktor kesehatan juga menjadi penting diketahui. Apalagi Hiu sering menjadi menu makanan yang sering disajikan.
"Penelitian WHO, semua produk Hiu mengandung merkuri yang tinggi. Di amerika serikat sudah dilakukan pelarangan. Makanya tinggal kita, apakah kita mau makan Hiu atau tidak," kata Monica.
Menjadikan Hiu terutama bagian Sirip sebagai menu makanan, terutama dilakukan masyarakat Tiongkok. Harganya mencapai jutaan rupiah dan mendorong tingginya angka ekspor Sirip Hiu, terutama dari Indonesia.
"Sirip itu dimanfaatkan untuk soup, sirip direbus lama, dan dimasak, sirip tak berasa. Di dinasti ming, bangsawan di Tiongkok sudah mempromosikan sirip menjadi menu kehormatan yang disajikan. Dipercaya, menkonsumsi sirip akan awet muda, karena itu setiap orang china menikah, sirip itu selalu ada," katanya.
4. Penurunan jumlah populasi mencapai 28 persen di seluruh dunia

Sebelumnya, pemateri lainnya, Ketua Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan (STPK) Matauli Joko Samiaji mengungkap tingginya angka penurunan populasi Hiu.
Menurut Joko, dalam 15 tahun terakhir penurunan jumlah populasi Hiu mencapai 28 persen di seluruh dunia.
"Kasus-kasus Hiu terdampar juga semakin kerap ditemukan. Padahal Hiu menempati puncak rantai makanan, dan bertugas menyeimbangkan alam. Hiu juga dapat dijadikan indikator kesehatan alam," kata Joko.
Sementara BBKSDA Wilayah III, Gunawan menyebutkan, kerusakan ekosistem laut menjadi salah satu pemicu keterancaman bagi makhluk hidup secara global. "Kerusakan laut akan menular ke ekosistem lainnya," kata Gunawan.
Perwakilan Komantab, Hadi Sitanggang, pemateri selanjutnya dalam dialog tersebut menegaskan pentingnya langkah sosialisasi berkelanjutan, mengingat Kota Sibolga menjadi daerah pemasok hiu.
"Mendiskusikan Hiu menjadi hal yang penting dilakukan untuk menjaga kelestariannya," imbuh Hadi yang akrab disapa Mister Policeman.
Pemateri selanjutnya, Eko sihombing mewakili Polres Tapteng mengatakan, kerusakan ekosistem laut menurut Eko, termasuk disebabkan penangkapan ikan dengan cara tak ramah seperti pukat trawl. "Karena itu mari saling membantu agar tindakan-tindakan pengrusakan lingkungan, dapat ditekan," tegas Eko.


















