Korban Banjir dan Longsor di Aceh 70 Orang, 54 Jiwa Hilang

- Korban meninggal dunia 70 orang dan hilang 54 jiwa
- Ada 13 daerah berstatus darurat tanggap, dua siaga darurat, dan enam siaga bencana
- Mengevakuasi secara bertahap daerah terisolir
Banda Aceh, IDN Times - Sekretariat Posko Tanggap Darurat Bencana Banjir dan Longsor Tahun 2025 merilis data sementara terkait kondisi dan perkembangan bencana ekologis yang melanda 18 kabupaten kota di Tanah Rencong.
Konferensi pers tersebut dipimpin langsung Komandan Insiden, M Nasir Syamaun, dan didampingi Asisten Teritorial (Aster) Kepala Staf Kodam (Kasdam) Iskandar Muda (IM), Kolonel Inf Fransisco.
Kegiatan ini digelar di Kantor Gubernur Aceh, Kota Banda Aceh, Aceh, pada Sabtu (29/11/2025) malam.
1. Korban meninggal dunia 70 orang dan hilang 54 jiwa

Nasir mengatakan data rekap sementara yang masuk di Sekretariat Posko Tanggap Darurat Bencana Banjir dan Longsor Tahun 2025, total ada 240 kecamatan terkena bencana tersebar di 18 kabupaten kota.
Korban terdampak 87.550 kepala keluarga atau 441.788 jiwa. Di antaranya luka ringan 1.284 jiwa, luka berat 330 jiwa, meninggal dunia 70 jiwa, dan hilang 54 jiwa.
Sebaran titik lokasi pengungsi ada di 184 titik. Jumlah pengungsi 52.162 kepala keluarga atau 199.477 jiwa.
“Semua data ini masih sementara dan kemungkinan bisa terus bertambah karena mengingat masih ada daerah yang terisolir,” kata Nasir.
2. Ada 13 daerah berstatus darurat tanggap, dua siaga darurat, dan enam siaga bencana

Nasir menyebutkan sesuai peta lokasi status bencana, ada 13 kabupaten kota yang melakukan tanggap darurat, lalu ada dua kabupaten kota siaga darurat.
Di antaranya, Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, Langsa, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Subulussalam, Aceh Selatan, Bireuen, Aceh Singkil, Pidie Jaya, dan Gayo Lues.
Dua kabupaten lain berstatus siaga darurat, yakni Aceh Barat dan Aceh Besar. Lalu enam daerah lainnya berstatus siaga bencana, yakni Pidie, Banda Aceh, Aceh Jaya, Bener Meriah, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, dan Simeulue.
“Ada 15 kabupaten kota ini yang langsung mengalami. Hanya Aceh Barat dan Aceh Besar ini tidak terlalu besar terdampaknya,” ujar Nasir.
“Kemudian ada enam kabupaten kota lainnya yang siaga bencana. Artinya dia wilayah berimbas atau terdampak dari kondisi bencana di kabupaten kota yang ada,” imbuhnya.
Komandan Insiden mengatakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah kabupaten, Pemerintah Aceh, dibantu Pemerintah Pusat sedang menangani 13 kabupaten kota berstatus tanggap darurat.
Selain itu, penangan bantuan juga turut berkoordinasi dengan Kodam Iskandar Muda (IM) dan Polda Aceh.
3. Mengevakuasi secara bertahap daerah terisolir

Pemerintah Aceh mulai mengevakuasi warga di daerah yang masih terisolir akibat banjir dan longsor secara bertahap. Proses evakuasi terus dilakukan sejak Rabu (26/11/2025) malam dan diperluas ke sejumlah kabupaten yang mengalami dampak terparah.
Nasir mengatakan evakuasi pertama dilakukan di Pidie Jaya, yang menjadi salah satu wilayah paling terdampak. Hingga Kamis (27/11/2025), sekitar 90 persen warga yang terjebak telah berhasil dipindahkan ke lokasi aman.
“Evakuasi terhadap masyarakat kita yang masih terisolir di beberapa lokasi, seperti di Pidie Jaya masih ada juga walaupun 90 persen sudah selesai dievakuasi, sudah ditempatkan di lokasi yang lebih aman,” kata Nasir.
“Sisa 10 persen lagi kemudian sudah juga dilakukan penyelesaian oleh Basarnas serta tim lainnya,” imbuhnya.
Setelah Pidie Jaya, tim evakuasi bergerak ke Bireuen yang hingga kini masih mengalami gangguan akses akibat putusnya sejumlah jalur utama. Proses evakuasi juga dilakukan bersamaan di Aceh Utara, Aceh Timur, Kota Langsa, dan Aceh Tamiang.
“Kemudian kita akan bergeser ke Aceh Utara, walaupun kita juga sedang dievakuasi juga. Kemudian Aceh Timur, Langsa, dan Tamiang,” jelas Nasir.
Selain evakuasi, Pemerintah Aceh fokus membuka kembali jalur distribusi logistik yang terputus, terutama menuju Kabupaten Bener Meriah. Nasir mengatakan alat berat sudah dikirim ke lapangan dan ditargetkan mulai bekerja besok.
“Ini kita sudah mengirim alat berat, mungkin besok sudah mulai bekerja untuk membersihkan, kemudian menyambung beberapa lokasi yang terputus,” katanya.
Untuk mendukung percepatan konektivitas, Pemerintah Aceh juga menyiapkan jembatan bailey (jembatan rangka baja prefabrikasi) yang akan dipasang di titik kritis. Titik pertama berada di Bireuen, yakni di Gampong Awe Geutah, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng.
“Karena bailey itu panjangnya sekitar 30 meter, jadi kita butuh tempat yang lebih pendek untuk bisa menyambung ini,” ujar Nasir.
Jika proses pemasangan berjalan lancar, jalur tersebut dapat segera digunakan untuk distribusi logistik dan mobilitas masyarakat dari Aceh Utara menuju Bireuen melalui Kuta Blang.
Pemerintah Aceh juga membuka akses menuju Bener Meriah melalui jalur Gunung Salak. PUPR Aceh bersama sejumlah pihak menurunkan enam unit alat berat yang akan mulai bekerja besok.
“Mudah-mudahan dalam beberapa waktu bisa segera kita selesaikan untuk membuka terisolir ini,” tutup Nasir.
4. Masih banyak daerah terisolir karena akses jalan tertupus

Nasir menyatakan distribusi logistik ke wilayah terdampak banjir dan longsor terus dipercepat, meski sejumlah daerah masih terisolir akibat akses darat terputus.
Menurutnya, pemerintah telah menyalurkan masing-masing 10 ton beras ke Subulussalam, Pidie Jaya, dan Aceh Utara. Besok, 10 ton beras dikirim ke Aceh Timur, serta lima ton masing-masing ke Langsa dan Aceh Tamiang.
Daerah terisolir seperti Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Singkil, dan Aceh Tenggara juga akan mendapat 10 ton beras. Sementara Beutong Ateuh di Nagan Raya menerima tiga ton bantuan.
Selain beras, logistik lain dari BPBA, Dinas Sosial, Kodam IM, dan Polda Aceh sedang disalurkan. Hingga hari ini, lima pesawat Hercules dari Pemerintah Pusat telah mengirim bantuan.
Distribusi melalui laut juga disiapkan lewat kapal Bahari Express menuju Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa, dan Aceh Tamiang melalui Pelabuhan Krueng Geukueh dan Kuala Langsa.
Nasir menambahkan suplai LPG dan BBM terganggu akibat jalur darat putus, sehingga Dinas Perhubungan menyiapkan pengiriman lewat Pelabuhan Malahayati.
“Pemerintah Aceh terus berkoordinasi dengan BNPB, Mabes TNI, dan Pemerintah Pusat agar evakuasi, logistik, dan konektivitas wilayah segera pulih,” ujarnya.



















