Petugas sekolah menyemprot cairan disinfektan pada kelas yang telah diatur jarak antar siswa di SMK Kosgoro, Kota Bogor, Jawa Barat. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah
Guslihan mengatakan jika, penerapan new normal baru bisa efektif dilakukan jika ada tren penurunan epidemologi. "Sebagai syarat untuk membuka sekolah yang harus dipenuhi adalah tren Covid-19 di Sumut menunjukan penurunan, tapi yang paling direkomendasikan adalah menerapkan model belajar sistem universitas terbuka," tambahnya.
Putri Chairani Eyanoer yang merupakan staf pengajar di FK USU memaparkan, berdasarkan data-data di Indonesia, khususnya di Sumut, bisa dilihat bahwa sampai hari ini angka kejadian COVID-19 pada anak masih cukup tinggi.
"Secara global kasus COVID-19 pada anak bila dirata-ratakan di setiap negara berada dipersentase 1 persen, namun negara yang paling banyak terjadi kasusnya adalah Amerika dan Indonesia, kasus COVID-19 pada anak di Indonesia sekitar 7 persen dari total kasus yang ada," terangnya.
Putri menjelaskan ada lima daerah di Indonesia yang tinggi kasus Covid-19 pada anak, yakni Jakarta, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Barat.
“Sumut tidak termasuk bukan berarti jumlah kasus COVID-19 pada anak rendah, sebab Sumut tidak pernah melakukan rapid test massal pada anak seperti yang dilakukan Sumsel dan NTB, jadi Sumut tidak boleh menurunkan kewaspadaannya terhadap Covid-19 terkhusus pada anak," pungkasnya.