5 Fakta Unik Kue Bakul atau Kue Keranjang, Kudapan Wajib Imlek

- Kue keranjang terinspirasi dari kisah penyelamatan saat perang, menjadi simbol ketahanan hidup dan harapan di masa sulit.
- Kue keranjang dipercaya bisa "melunakkan" laporan dewa dapur dan merupakan bentuk diplomasi spiritual versi rumahan.
- Nama kue ini sendiri adalah doa agar hidup semakin naik level, melambangkan harapan untuk pertumbuhan positif di tahun baru.
Setiap Imlek datang, satu kue ini hampir pasti muncul di meja tamu, kue bakul atau kue keranjang. Bentuknya bulat, teksturnya lengket, rasanya manis pekat. Biasanya disajikan utuh, lalu beberapa hari kemudian baru dipotong dan digoreng dengan balutan tepung.
Buat sebagian orang, kue keranjang mungkin cuma dianggap camilan musiman. Padahal, di balik tampilannya yang sederhana, kue ini menyimpan cerita panjang tentang sejarah, kepercayaan, sampai filosofi hidup. Bahkan cara pembuatannya saja penuh makna.
Menariknya lagi, kue keranjang ternyata merupakan simbol harapan, perekat keluarga, sekaligus doa diam-diam agar hidup di tahun baru berjalan lebih baik. Nah, biar gak cuma dimakan begitu saja, IDN Times akan ajak kamu kenalan lebih dekat dengan kue keranjang lewat lima fakta unik berikut ini. Yuk simak
1. Dulunya terinspirasi dari kisah penyelamatan saat perang

Salah satu cerita paling tua tentang kue keranjang berkaitan dengan sosok legendaris bernama . Konon, ia pernah meninggalkan pesan rahasia, kalau suatu hari rakyat kelaparan, cobalah menggali bagian bawah tembok kota.
Pesan itu terbukti menyelamatkan banyak orang. Pondasi tembok ternyata dibuat dari balok tepung ketan yang dipadatkan. Dari sinilah olahan ketan mulai dipandang sebagai simbol ketahanan hidup. Sejak saat itu pula, kue keranjang dibuat sebagai bentuk penghormatan pengingat bahwa di masa sulit pun selalu ada jalan bertahan.
2. Pernah dipakai buat “melunakkan” laporan dewa dapur

Selain kisah sejarah, kue keranjang juga lekat dengan kepercayaan tradisional. Dalam cerita rakyat Tionghoa, ada Dewa Dapur bernama yang dipercaya naik ke langit menjelang Imlek untuk melaporkan perilaku satu keluarga kepada .
Nah, di sinilah peran kue keranjang jadi unik. Teksturnya yang lengket diharapkan bisa “merekatkan” mulut sang dewa agar sulit menyampaikan hal-hal buruk. Sementara rasa manisnya jadi simbol agar laporan yang dibawa ke langit juga serba manis. Sederhananya, ini adalah bentuk diplomasi spiritual versi rumahan.
3. Namanya sendiri adalah doa supaya hidup makin naik

Dalam bahasa Mandarin, sebutan kue ini terdengar seperti ungkapan “semakin tahun semakin tinggi”. Makna “tinggi” di sini luas, bisa soal karier, usaha, prestasi belajar, sampai pertumbuhan anak-anak.
Karena itu, makan kue keranjang di awal tahun dianggap sebagai simbol harapan agar hidup ikut “naik level”. Bukan cuma kenyang, tapi juga membawa sugesti positif untuk setahun ke depan.
4. Bentuk bulat dan lengket ternyata penuh arti

Kalau diperhatikan, kue keranjang hampir selalu berbentuk bulat. Ini melambangkan keutuhan dan kebersamaan keluarga. Lingkaran juga tidak punya sudut tajam harapannya, hidup pun dijalani tanpa terlalu banyak konflik.
Sementara teksturnya yang lengket sering dimaknai sebagai perekat hubungan. Seperti adonannya yang sulit dipisahkan, hubungan keluarga diharapkan tetap erat. Bahkan kekenyalannya dianggap melambangkan keuletan: lentur, tapi gak gampang hancur saat ditekan masalah.
5. Bisa tahan lama tanpa pengawet, ini penjelasannya

Secara ilmiah, kue keranjang awet karena dua hal utama, kandungan gula yang sangat tinggi dan proses pengukusan yang lama. Gula “mengikat” air sehingga bakteri sulit berkembang, sementara panas berjam-jam membantu mensterilkan adonan.
Uniknya, setelah beberapa hari kue ini justru mengeras. Itu akibat perubahan struktur pati ketan. Meski jadi keras, kondisi ini malah membuat kue lebih tahan lama. Tapi satu catatan penting, kalau sudah berjamur, sebaiknya langsung dibuang, karena jamur bisa menyebar ke bagian dalam meski tak terlihat.
Di Indonesia sendiri, kue keranjang punya banyak versi daerah. Yang klasik dari terkenal legit dan tahan lama, versi sering dibungkus daun pisang sehingga aromanya lebih wangi, sementara dikenal kreatif dengan rasa-rasa modern seperti keju dan cokelat. Dari sini terlihat jelas, kue keranjang terus berkembang mengikuti zaman.
Kue bakul bukan cuma soal manis di lidah. Ia menyimpan pesan tentang ketekunan, kebersamaan, dan optimisme. Dari dapur tradisional sampai toko online, dari resep lama sampai inovasi baru, kue keranjang membuktikan bahwa tradisi bisa tetap hidup tanpa kehilangan makna.
Jadi, saat kamu menyantap sepotong kue keranjang tahun ini, ingatlah yang kamu makan bukan sekadar kue Imlek tapi juga sepotong sejarah, doa keluarga, dan harapan agar hari-hari ke depan terasa semakin manis.


















