Ramadan di Medan selalu punya satu momen yang ditunggu-tunggu. Menuju Magrib, ketika langit mulai redup dan perut sudah protes halus, aroma rempah tiba-tiba menyergap dari arah Kampung Madras. Harumnya beda. Lebih dalam. Lebih “berat”. Itu tanda bubur sup India sedang siap dibagikan.
Di tengah kota yang makin sibuk pun serba cepat, pemandangan antrean ini terasa kontras. Orang-orang berdiri rapat, membawa wadah, menunggu dengan sabar. Tidak ada yang terburu-buru atau juga marah. Semua tahu, yang mereka tunggu bukan sekadar takjil gratis. Ada rasa, ada tradisi, ada kebiasaan yang terus diulang setiap tahunnya.
Dan menariknya, di balik semangkuk bubur yang terlihat sederhana itu, ternyata tersimpan cerita panjang. Soal dapur raksasa, resep yang dijaga, sampai makna sosial yang sering luput kita sadari. Berikut lima fakta unik bubur India Ramadan di Medan yang mungkin ceritanya belum pernah kamu dengar.
