Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Unik Bubur Khas India, Ikon Ramadan di Kota Medan

5 Fakta Unik Bubur Khas India, Ikon Ramadan di Kota Medan
Proses memasak bubur kala ramadhan di masjid Ghaudiyah (mangara wahyudi)
Intinya Sih
  • Bubur India Ramadan di Medan dikenal dengan cita rasa gurih rempah khas India Selatan, dimasak dari beras dan daging dalam kuali besar setiap hari selama bulan puasa.
  • Proses memasaknya dilakukan secara kolektif oleh komunitas, menggunakan resep turun-temurun yang dijaga ketat agar rasa dan identitas kulinernya tetap konsisten.
  • Tradisi antre dan berbagi bubur ini menciptakan kebersamaan lintas sosial serta menjadi arsip budaya hidup diaspora India di tengah dinamika kota Medan modern.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ramadan di Medan selalu punya satu momen yang ditunggu-tunggu. Menuju Magrib, ketika langit mulai redup dan perut sudah protes halus, aroma rempah tiba-tiba menyergap dari arah Kampung Madras. Harumnya beda. Lebih dalam. Lebih “berat”. Itu tanda bubur sup India sedang siap dibagikan.

Di tengah kota yang makin sibuk pun serba cepat, pemandangan antrean ini terasa kontras. Orang-orang berdiri rapat, membawa wadah, menunggu dengan sabar. Tidak ada yang terburu-buru atau juga marah. Semua tahu, yang mereka tunggu bukan sekadar takjil gratis. Ada rasa, ada tradisi, ada kebiasaan yang terus diulang setiap tahunnya.

Dan menariknya, di balik semangkuk bubur yang terlihat sederhana itu, ternyata tersimpan cerita panjang. Soal dapur raksasa, resep yang dijaga, sampai makna sosial yang sering luput kita sadari. Berikut lima fakta unik bubur India Ramadan di Medan yang mungkin ceritanya belum pernah kamu dengar.

1. Gurih Rempah, Bukan Bubur Manis

ilustrasi rempah india (pexels.com/Kamakshi)
ilustrasi rempah india (pexels.com/Kamakshi)

Kalau yang terbayang bubur manis dengan santan dan gula merah, tebakanmu jelas beda jalur. Bubur ini gurih. Kental. Hangatnya terasa sampai dada. Beras dimasak bersama daging, lalu diracik dengan kapulaga, kayu manis, cengkeh, dan rempah khas India Selatan.

Rasanya juga tak main-main. Ada lapisan rasa yang muncul pelan-pelan. Sekali suap, lidah langsung tahu ini bukan bubur sembarangan. Dan meski sudah lama hadir di Medan, karakter aslinya tetap terasa.

2. Dimasak dalam Kuali Raksasa Setiap Hari

Proses pembuatan bubur di masjid jamik kebun bunga (mangara wahyudi)
Proses pembuatan bubur di masjid jamik kebun bunga (mangara wahyudi)

Proses memasaknya bukan ala rumahan. Dari pagi, api sudah menyala di bawah kuali besar. Uap mengepul, orang lalu-lalang, sendok kayu panjang terus mengaduk tanpa henti.

Ribuan porsi disiapkan tiap hari selama Ramadan. Bukan dikerjakan satu dua orang, ini kerja kolektif. Ada yang memotong bahan, ada yang mengaduk, ada yang mengemas. Ritmenya seperti sudah terlatih bertahun-tahun.

3. Resep Turun-Temurun yang Dijaga Komunitas

Persiapan menuju Berbuka puasa di Masjid Jamik Kebun Bunga (Mangara Wahyudi)
Persiapan menuju Berbuka puasa di Masjid Jamik Kebun Bunga (Mangara Wahyudi)

Takaran rempah tidak asal kira, bukan asal tebak. Ada pakem yang diwariskan dari generasi ke generasi. Bumbu boleh dibeli di pasar yang sama, tapi rasa tetap harus konsisten hasilnya.

Di situ letak keseriusannya. Tradisi ini tidak “yang penting jadi”. Identitas rasa dijaga. Tidak berlebihan, tidak pula hambar. Pas, itu sebutannya.

4. Praktik Komensalitas yang Meruntuhkan Sekat Sosial

Masjid Ghaudiyah Medan (Mangara Wahyudi)
Masjid Ghaudiyah Medan (Mangara Wahyudi)

Ada satu hal yang sering tidak disadari, antre bubur ini membuat semua orang setara. Dalam sosiologi, makan bersama disebut komensalitas. Istilahnya mungkin rumit, tapi artinya sebenarnya sederhana, berbagi makanan tanpa memandang siapa kamu, darimana asalmu.

Di barisan itu, status sosial seperti menguap bersama uap bubur, hilang ke langit tak terlihat lagi. Tidak ada jalur khusus. Tidak ada kursi prioritas. Semua sama, harus menunggu giliran.

5. Arsip Budaya yang Bisa Dinikmati

Proses memasak bubur kala ramadhan di masjid Ghaudiyah (mangara wahyudi)
Proses memasak bubur kala ramadhan di masjid Ghaudiyah (mangara wahyudi)

Bubur ini adalah arsip hidup yang bisa disantap. Ya, itu tidak berlebihan. Jejak diaspora India di Medan hadir lewat rasa, sebagai bukti keberadaan mereka.

Setiap mangkuk adalah cerita yang direbus pelan. Tentang akar budaya yang tetap dijaga, tapi juga tentang kemampuan beradaptasi dengan kota yang terus berubah sangat cepat.

Di tengah segala hal yang serba instan, bubur India Ramadan ini terasa seperti pengingat sederhana. Bahwa tradisi tidak selalu harus diumumkan keras-keras. Kadang cukup dimasak perlahan, dibagikan hangat-hangat, lalu dibiarkan orang-orang merasakannya sendiri, dengan itu, sendirinya peradaban akan mencatat keberadaan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Doni Hermawan
EditorDoni Hermawan
Follow Us

Latest Food Sumatera Utara

See More