5 Fakta Unik Lapangan Benteng Medan, Ruang Jejak Kekuasaan dan Sejarah

- Kawasan Rawa Tanah Deli menjadi dasar pembangunan Lapangan Benteng, menandai perubahan lanskap alami Medan untuk mendukung pertumbuhan kota modern.
- Lapangan Benteng muncul sebagai bagian dari perencanaan kota praja dan berkembang seiring dengan pesatnya industri tembakau Deli pada 1863.
- Nama "Benteng" merujuk pada fungsinya sebagai kawasan pertahanan dan pengamanan pusat kekuasaan kolonial, menjadikannya ruang dengan identitas historis yang kuat.
Medan kerap dikenang lewat kulinernya yang ramai dengan rasa yang berani. Tapi kota ini juga punya lapisan sejarah yang diam-diam membentuk wajahnya hari ini, terutama di pusat kota. Salah satu ruang yang menyimpan lapisan itu adalah Lapangan Benteng.
Bagi banyak warga, Lapangan Benteng selalu dikenal dengan ruang terbuka hijau, tempat olahraga, atau lokasi acara besar. Namun sebelum menjadi ruang publik seperti sekarang, kawasan ini lahir dari kepentingan yang jauh lebih serius, kekuasaan, pertahanan, dan tata kota kolonial membentuknya hingga kini.
Lapangan Benteng bukan dibangun sebagai taman kota. Ia tumbuh sebagai bagian dari strategi mengelola ruang, manusia, dan otoritas. Dari rawa-rawa Tanah Deli hingga proyek revitalisasi modern, lapangan ini terus berubah, tapi posisinya di jantung kota tidak pernah tergeser. Dengan sekelumit kisah yang ada, berikut 5 fakta unik terkait lapangan benteng Medan yang barangkali kamu belum tahu. Yuk simak!
1. Berawal dari Kawasan Rawa Tanah Deli

Wilayah Medan pada awalnya didominasi oleh rawa-rawa luas yang dialiri sungai-sungai besar seperti Sei Deli dan Sei Babura. Kondisi geografis ini membuat pembangunan kota membutuhkan proses pengeringan dan stabilisasi lahan yang panjang.
Lapangan Benteng berdiri di atas bentang alam tersebut. Keberadaannya menjadi bukti bagaimana lanskap alami Medan diubah secara sistematis untuk mendukung pertumbuhan kota modern.
2. Tumbuh Seiring Melesatnya Industri Tembakau

Perubahan besar Medan dimulai sejak industri tembakau Deli berkembang pesat pada 1863. Modal asing, tenaga kerja, dan infrastruktur mengalir masuk, mendorong Medan berkembang dari kawasan perkebunan menjadi pusat administrasi.
Lapangan Benteng muncul sebagai bagian dari perencanaan kota praja (gemeente). Berbeda dengan Lapangan Merdeka yang bersifat sipil dan simbolik, Lapangan Benteng dirancang lebih fungsional sebagai kawasan pendukung militer dan administrasi kolonial.
3. Nama “Benteng” Berasal dari Fungsi, Bukan Bentuk

Lapangan Benteng bukan benteng fisik berdinding seperti dalam bayangan umum. Nama “Benteng” merujuk pada fungsinya sebagai kawasan pertahanan dan pengamanan pusat kekuasaan kolonial.
Karakter ini membentuk citra kawasan yang tegas dan disipliner. Bahkan setelah Indonesia merdeka, keterkaitan Lapangan Benteng dengan institusi negara termasuk militer tidak sepenuhnya terputus, menjadikannya ruang dengan identitas historis yang kuat.
4. Ruang yang Sejak Awal Melekat dengan Kekuasaan

Sejak masa kolonial, Lapangan Benteng dikelilingi bangunan administrasi, fasilitas militer, dan pusat kegiatan elite. Ia bukan ruang netral, melainkan ruang strategis yang merepresentasikan otoritas negara di tengah kota.
Hingga kini, pola itu masih terasa. Lapangan Benteng kerap menjadi lokasi kegiatan resmi, baik agenda pemerintah, TNI, dan acara berskala besar. Fungsi simboliknya sebagai “ruang negara” tetap bertahan meski wajahnya semakin terbuka untuk publik.
5. Kini Direbut Kembali sebagai Ruang Publik Modern

Dalam beberapa tahun terakhir, Lapangan Benteng masuk dalam proyek revitalisasi besar untuk mengembalikannya sebagai ruang terbuka hijau berkualitas. Penataan ulang dilakukan agar lapangan ini dapat menampung aktivitas warga dengan fasilitas yang lebih modern.
Tantangan terbesarnya adalah menjaga agar modernisasi tidak menghapus memori sejarah yang melekat. Lapangan Benteng kini dihadapkan pada tugas berat, menjadi ruang publik masa kini tanpa kehilangan identitas masa lalunya.
Lapangan Benteng membuktikan bahwa kota tidak pernah lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari keputusan politik, kepentingan ekonomi, dan sejarah panjang yang saling bertumpuk.

















