5 Fakta Masjid Gang Bengkok, Harmoni Imlek dan Ramadan di Medan

Tahun ini kalender seperti sengaja mempertemukan dua suasana besar dalam satu tarikan napas. Imlek hadir dengan warna merah, doa-doa panjang, dan meja makan yang dipenuhi cerita keluarga. Belum sempat lampion-lampion itu diturunkan, Ramadan sudah menunggu di ambang hari. Kota yang sama, warga yang sama, tetapi nuansanya berganti begitu cepat, dari ucapan gong xi fa cai ke lantunan ayat suci menjelang tarawih.
Di Medan, pertemuan dua momen ini seperti menghidupkan kembali ingatan tentang bagaimana kota ini dulu tumbuh, lewat perjumpaan, lewat kerja sama, lewat ruang-ruang yang dipakai bersama. Dan di antara semua simbol itu, Masjid Raya Gang Bengkok berdiri paling tenang. Warna khas melayu menyala, atapnya melengkung seperti kelenteng. Dari luar, ia sudah bercerita.
Saat Imlek dan Ramadan datang hampir bersisian, masjid ini seperti menemukan panggungnya kembali, terutama bulan ini. Seolah sejarah yang dulu ditulis dengan keberanian untuk saling percaya dalam perbedaan, kini sedang diputar ulang, dan kita menikmatinya.
Dari semua keindahan toleransi dari sejarah masjid ini, IDN Times akan mengajakmu melihat lima fakta unik yang membuat Masjid Raya Gang Bengkok selalu relevan, terutama ketika dua perayaan besar itu hadir berdekatan.
1. Dibangun oleh Saudagar Tionghoa Non-Muslim

Pada akhir abad ke-19, sekitar 1885 hingga 1889, masjid permanen ini dibangun dengan biaya dari saudagar Tionghoa ternama di Medan, Tjong A Fie. Ia bukan seorang Muslim. Namun ia memilih membantu mendirikan rumah ibadah bagi komunitas Muslim di kawasan perdagangan Kesawan.
Di masa itu, Medan sedang berkembang pesat karena perkebunan Deli. Hubungan antar komunitas menjadi fondasi penting bagi stabilitas kota. Keputusan tersebut lahir dari relasi yang saling menghargai. Kini, ketika Imlek dirayakan dan Ramadhan menyusul, kisah itu terasa seperti jembatan yang menghubungkan masa lalu dan hari ini.
2. Berdiri di Atas Tanah Wakaf Datuk Kesawan

Masjid ini berdiri di atas tanah wakaf Datuk Muhammad Ali, yang dikenal sebagai Datuk Kesawan. Jadi sejak awal, ada kolaborasi nyata antara tokoh Melayu dan tokoh Tionghoa dalam proses pendiriannya.
Kerja sama itu membentuk fondasi yang bukan hanya kuat secara fisik, tetapi juga sarat makna. Ketika Ramadan tiba dan jamaah memenuhi ruang salat, jejak sejarah tersebut seperti ikut hadir. Sementara di luar, suasana Imlek tetap terasa di beberapa sudut kota. Dua tradisi berjalan berdampingan, seperti yang sudah pernah terjadi lebih dari seabad lalu.
3. Arsitekturnya Mirip Kelenteng, Tanpa Kubah

Hal pertama yang membuat orang berhenti sejenak adalah bentuknya. Tidak ada kubah besar. Atapnya justru melengkung dengan warna hijau dan kuning, yang kental dengan sentuhan arsitektur Tionghoa.
Sekilas, bangunan ini bisa saja disangka tempat ibadah lain. Namun begitu masuk, suasana khas masjid langsung terasa. Tenang dan khusyuk. Perpaduan visual ini membuat Masjid Raya Gang Bengkok memiliki karakter yang sulit dilupakan.
4. Masjid Tertua Kedua di Medan

Masjid ini tercatat sebagai masjid tertua kedua di Kota Medan. Ia hadir setelah Masjid Al-Osmani di Medan Labuhan yang dibangun pada 1854, dan lebih dulu berdiri sebelum Masjid Raya Al-Mashun yang kini dikenal sebagai ikon kota.
Usianya yang lebih dari satu abad menjadikannya saksi perubahan zaman. Dari era perkebunan hingga modernitas kota hari ini, bangunan ini tetap bertahan dengan wajah yang hampir tak berubah.
5. Harmoni yang Terus Hidup

Yang membuat Masjid Raya Gang Bengkok terasa istimewa bukan hanya sejarahnya, tetapi juga kenyataan bahwa ia masih aktif digunakan hingga kini. Azan tetap berkumandang. Jamaah tetap datang.
Ketika Imlek dan Ramadan datang hampir bersamaan, masjid ini seperti berbicara tanpa suara. Ia mengingatkan bahwa Medan pernah tumbuh lewat keberanian untuk saling percaya. Dan di tengah dunia yang sering gaduh oleh perbedaan, pesan itu terasa semakin penting untuk didengar kembali.

















