Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Unik Patung Djaga Depari, Maestro Karo di Simpang Medan

Patung Djaga Depari (Mangara Wahyudi)
Patung Djaga Depari (Mangara Wahyudi)
Intinya sih...
  • Djaga Depari, maestro musik Karo, tumbuh secara autodidak dan menciptakan lagu-lagu perlawanan tanpa pendidikan formal.
  • Patung Djaga Depari ditempatkan di persimpangan utama menuju dataran tinggi Karo, melambangkan perlawanan lewat seni dan budaya.
  • Patung ini tampil realistis dengan figur berwarna emas, namun pernah menuai kritik terkait pose dan proporsinya.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Siapa warga Medan yang tidak pernah melintas di persimpangan Jalan Jamin Ginting, Jalan K.H. Wahid Hasyim, dan Jalan Sultan Iskandar Muda? Di simpang yang nyaris tak pernah sepi itu, berdiri sebuah monumen pria memegang biola. Banyak yang lewat, sedikit yang benar-benar menoleh. Padahal sosok itu bukan figur biasa. Ia adalah Djaga Sembiring Depari, maestro musik Karo yang namanya tercatat sebagai komponis nasional.

Setiap hari ribuan kendaraan melintas di depannya, tetapi tidak sedikit generasi milenial dan Gen Z yang belum mengenal siapa sebenarnya tokoh di balik patung berwarna emas itu. Monumen ini menyimpan cerita panjang, tentang perjuangan kemerdekaan, tentang musik yang menjadi alat perlawanan, dan tentang identitas budaya Karo yang ikut membentuk Indonesia.

Keberadaan patung Djaga Depari di tengah dinamika Medan yang semakin modern seakan menjadi penanda yang sunyi. Ia berdiri tegak, sementara ingatan kolektif kita perlahan memudar. Supaya tidak cuma jadi patung yang “terlewati”, berikut lima fakta unik tentang monumen Djaga Depari yang layak kamu tahu.

1. Seorang Maestro yang Tumbuh Secara Autodidak

Patung Djaga Depari (Mangara Wahyudi)
Patung Djaga Depari (Mangara Wahyudi)

Hal paling mengejutkan dari Djaga Depari adalah fakta bahwa kemampuan bermusiknya tidak lahir dari bangku sekolah musik. Ia mahir memainkan biola dan menciptakan ratusan lagu tanpa pendidikan formal. Semua tumbuh dari pendengaran yang tajam dan latihan mandiri sejak muda.

Di masa revolusi kemerdekaan, terutama antara 1945 hingga 1949, bakat itu ia salurkan untuk menggubah lagu-lagu yang membakar semangat masyarakat Karo. Biola yang sering diasosiasikan dengan musik Barat di tangannya berubah menjadi alat perjuangan yang sarat nuansa lokal dan nasionalisme.

2. Berdiri di “Gerbang” Menuju Tanah Karo

Patung Djaga Depari (Mangara Wahyudi)
Patung Djaga Depari (Mangara Wahyudi)

Lokasi patung Djaga Depari bukan pilihan sembarangan. Ia ditempatkan di persimpangan utama yang menjadi pintu masuk dari Medan menuju dataran tinggi Karo. Jalan Jamin Ginting sendiri dikenal sebagai urat nadi penghubung menuju Kabanjahe dan Berastagi.

Letaknya yang berhadapan dengan monumen Letjen Jamin Ginting menghadirkan makna simbolis yang kuat. Jika Jamin Ginting melambangkan perjuangan fisik melalui jalur militer, maka Djaga Depari merepresentasikan perlawanan lewat seni dan budaya. Dua sosok, dua jalan, satu tujuan, kemerdekaan dan martabat bangsa.

3. Pose Biola yang Pernah Diperdebatkan

Patung Djaga Depari (Mangara Wahyudi)
Patung Djaga Depari (Mangara Wahyudi)

Secara visual, patung ini tampil realistis dengan figur berwarna emas dan busana gelap. Namun, dari sisi akademis seni rupa, monumen ini pernah menuai kritik. Beberapa kajian menyebut proporsi patung terlihat kurang seimbang dengan alasnya yang besar.

Selain itu, gestur tangan saat memegang biola dinilai kurang akurat secara teknis bagi seorang pemain profesional. Pose tersebut lebih tampak seperti “memegang” biola ketimbang sedang memainkannya. Meski demikian, kritik ini tidak mengurangi nilai sejarah dan penghormatan publik terhadap Djaga Depari sebagai tokoh budaya.

4. Lagu “Piso Surit” yang Sering Disalahpahami

Taman kecil di sekitar patung Djaga Depari ( Mangara Wahyudi )
Taman kecil di sekitar patung Djaga Depari ( Mangara Wahyudi )

Nama Djaga Depari hampir selalu dikaitkan dengan lagu legendaris “Piso Surit”. Banyak orang mengira kata “piso” merujuk pada pisau. Padahal, “Piso Surit” adalah tiruan bunyi kicauan burung Pincala yang terdengar seperti “piso serit”.

Lagu yang diciptakan pada era 1960-an ini berkisah tentang penantian dan kerinduan seorang gadis terhadap kekasihnya. Nuansanya sendu, menusuk, seperti kicauan burung yang menjadi metafor kesedihan. Popularitas lagu ini kemudian melahirkan Tari Piso Surit yang kini dikenal luas sebagai bagian dari budaya Karo.

5. Pernah Menyandang Julukan “Anak Perana Pangke”

Patung Djaga Depari (Mangara Wahyudi)
Patung Djaga Depari (Mangara Wahyudi)

Sebelum dikenal sebagai maestro besar, Djaga Depari juga pernah menjadi pemuda desa dengan dinamika sosialnya sendiri. Sekitar usia 21 tahun, ia sempat dijuluki “Anak Perana Pangke”, sebutan bagi pemuda lajang yang dianggap sudah cukup umur tetapi belum menikah.

Julukan ini menunjukkan sisi manusiawi Djaga Depari, bahwa ia tidak lahir langsung sebagai tokoh besar. Setelah menikah dan berkeluarga, perjalanan hidup dan karya musiknya justru semakin matang, hingga akhirnya ia menerima Anugerah Seni dari Presiden Republik Indonesia pada tahun 1979

Monumen Djaga Depari di Jalan Jamin Ginting bukan sekadar tugu di tengah lalu lintas padat. Ia adalah pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia juga diperjuangkan melalui nada, lirik, dan kebudayaan. Gesekan biolanya sama tajamnya dengan senjata, jika dimainkan untuk membangkitkan kesadaran rakyat.

Sayangnya, tanpa perawatan narasi dan perhatian publik, monumen ini berisiko menjadi benda mati yang dilupakan. Mengenal kisah di balik patungnya adalah langkah kecil untuk menjaga ingatan kolektif kota.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Doni Hermawan
EditorDoni Hermawan
Follow Us

Latest Travel Sumatera Utara

See More

5 Fakta Unik Patung Djaga Depari, Maestro Karo di Simpang Medan

11 Jan 2026, 05:44 WIBTravel