5 Tempat Camping Dekat Medan untuk Sahur yang Beda dari Biasanya

- Bukit Indah Simarjarunjung di Simalungun menawarkan suasana sahur tenang dengan udara dingin dan pemandangan Danau Toba serta Pulau Samosir dari ketinggian.
- Gunung Sibayak, Sibolangit, Bukit Lawang, dan Paropo jadi destinasi favorit warga Medan untuk sahur sambil camping menikmati alam Sumatera Utara.
- Momen sederhana seperti merebus air, udara dingin, dan langit berubah warna menjelang pagi menjadi pengalaman berkesan bagi para pencinta alam.
Menjelang sahur di Medan, suasana biasanya hampir sama setiap hari Ramadan. Lampu dapur menyala., bunyi panci, ada yang masih setengah mengantuk sambil menunggu air mendidih, tapi ada juga yang memilih cara lain.
Keluar kota sebentar. Bawa tenda, kompor kecil, dan makanan sederhana. Lalu sahur di alam terbuka. Di tempat yang jauh dari suara kendaraan dan lampu kota. Hanya ada angin, pohon, dan langit yang masih gelap.
Di sekitar Medan sendiri, ada beberapa tempat yang sering dipilih untuk pengalaman seperti itu. Tidak terlalu jauh dari kota, tapi cukup untuk membuat suasana terasa berbeda. Berikut lima destinasi yang sering jadi pilihan untuk sahur di alam.
1. Gunung Sibayak, sahur sambil menunggu matahari naik

Gunung Sibayak hampir selalu masuk daftar pendaki dari Medan. Jalurnya tidak terlalu sulit dan lokasinya juga tidak jauh sekitar dua jam perjalanan ke arah Berastagi, asal saat mendaki tidak mengambil jalur 54.
Menjelang subuh biasanya sudah ada beberapa tenda berdiri di dekat pos atau jalur menuju kawah. Kompor kecil mulai dinyalakan. Ada yang memasak mie instan, ada juga yang sekadar menyeduh kopi panas.
Udara dinginnya cukup menusuk. Ditambah bau belerang dari kawah yang kadang tercium tipis. Tapi justru itu yang membuat sahur di Sibayak terasa berbeda. Setelah makan, orang-orang biasanya menunggu. Pelan-pelan langit berubah warna.
2. Perkemahan Sibolangit, camping santai di bawah pohon pinus

Kalau mendaki gunung terasa terlalu berat, Sibolangit sering jadi pilihan yang lebih santai. Tempat ini berada di Kabupaten Deli Serdang, sekitar satu setengah sampai dua jam dari Medan.
Area perkemahannya cukup luas. Tanah datar, dikelilingi pohon pinus tinggi. Angin bergerak pelan di antara batang-batang pohon.
Ada sungai kecil yang mengalir di dekat area camping. Airnya jernih. Biasanya dipakai untuk mencuci peralatan masak atau sekadar membasuh wajah sebelum subuh. Tidak ramai. Tidak juga terlalu sepi. Pas saja.
3. Bukit Lawang, sahur ditemani suara hutan

Bukit Lawang memberi suasana yang berbeda lagi. Perjalanan dari Medan memang sedikit lebih jauh, sekitar tiga sampai empat jam. Tapi begitu sampai, rasanya seperti masuk dunia lain. Tenda biasanya didirikan di tepi Sungai Batang Serangan. Airnya mengalir cukup deras.
Saat sahur, yang terdengar bukan suara kendaraan. Melainkan suara air sungai. Kadang juga suara burung atau satwa dari arah hutan. Lampu dari tenda menyala kecil. Selebihnya gelap. Sederhana. Tapi justru itu yang membuatnya terasa berkesan.
4. Paropo, sahur di tepi Danau Toba

Di Kabupaten Dairi, ada Paropo. Tempat ini cukup terkenal di kalangan pecinta camping di Sumatera Utara. Banyak yang menyebutnya seperti “Ranu Kumbolo” nya Sumut. Padang rumputnya luas, langsung menghadap ke Danau Toba. Tenda biasanya berjejer di pinggir danau.
Menjelang sahur suasananya sunyi sekali. Air danau terlihat gelap. Angin kadang bertiup pelan. Setelah makan, orang-orang biasanya duduk saja di depan tenda. Menunggu langit perlahan berubah.
5. Simarjarunjung, sahur dari ketinggian

Bukit Indah Simarjarunjung berada di Kabupaten Simalungun. Dari Medan jaraknya sekitar dua sampai tiga jam perjalanan. Tempat ini berada di ketinggian, jadi udara malamnya cukup dingin. Kadang kabut juga turun pelan dari arah danau.
Area campingnya sederhana. Tapi pemandangannya luas sekali. Dari atas bukit, Danau Toba dan Pulau Samosir terlihat jelas. Saat sahur, suasananya terasa tenang. Hampir tidak ada suara selain angin.
Sahur di alam sebenarnya bukan untuk gaya-gayaan dan merasa si paling anak alam, karena yang dikejar justru tentang momen kecilnya. Air mendidih di kompor kecil. Udara dingin yang membuat tangan menggigil sedikit. Dan langit yang perlahan berubah warna menjelang pagi. Hal-hal sederhana seperti itu. Tapi sering justru yang paling diingat.

















![[QUIZ] Seberapa Tahu Kamu Soal Asal-usul Kota Medan?](https://image.idntimes.com/post/20251023/img_20251023_015019_4be8c5ff-97d0-4e29-afd1-1971b74f34cc.jpg)
