Comscore Tracker

Sudah 71 Tahun, 10 Fakta Manis dan Kelam dalam Sejarah PSMS 

Selamat ulang tahun Ayam Kinantan!

Medan, ID Times - Hari ini Rabu (21/4/2021), adalah hari ulang tahun PSMS. Sudah 71 tahun klub berlambang daun tembakau ini lahir.

Perjalanan panjang PSMS menghiasi persepakbolaan Indonesian. Pada momen ulang tahunnya kali ini, IDN Times mengulik beberapa fakta dan sejarah klub yang kini berjuluk Ayam Kinantan ini.

1. Asal usul PSMS didirikan 6 klub

Sudah 71 Tahun, 10 Fakta Manis dan Kelam dalam Sejarah PSMS Momen ketika Pengurus PSMS memegang seekor ayam saat tim tiba di Bandara Polonia usai juara Perserikatan 1985 (Dok www.instagram.com/thekillermerch)

Sejarah PSMS tak terlepas dari 6 klub pendirinya. Mereka adalah PS Sahata, PO Polisi, Al Wathan, Indian Football, Deli Mij, dan Medan Sport. Saat ini anggota klub PSMS berisikan 40 tim, namun hanya beberapa saja yang masih aktif.

2. Makna lambang daun tembakau pada Logo PSMS

Sudah 71 Tahun, 10 Fakta Manis dan Kelam dalam Sejarah PSMS Logo PSMS

Pada lambang PSMS berisikan 6 helai daun tembakau yang hidup dalam satu ranting pohon. Kenapa daun tembakau? Jawabannya karena Kota Medan sendiri dahulu terkenal karena perkebunan tembakau delinya.

Adapun enam daun tadi berarti ada 6 klub pendiri PSMS. Warna hijau pada lambang tersebut berarti warna kebesaran PSMS yang melekat pada kostum tim hingga saat ini.

3. Julukan PSMS dari The Killer hingga Ayam Kinantan

Sudah 71 Tahun, 10 Fakta Manis dan Kelam dalam Sejarah PSMS PSMS dan Persija jadi juara bersama Perserikatan 1975 (Dok.www.bola.com)

PSMS awalnya dikenal dengan julukan The Killer alias Tim Pembunuh. Julukan tersebut disematkan pada dekade 50-an karena kekuatan PSMS 'membunuh' lawan-lawannya termasuk tim sekelas Eropa, Ajax Amsterdam yang pernah datang ke Medan. 

Namun setelah 1985 usai PSMS menjuarai Piala Perserikatan, julukan PSMS bertambah menjadi Ayam Kinantan. Saat tibanya skuat PSMS di Medan usai juara, ada seekor ayam yang juga turut dibawa sebagai bingkisa. Sejak saat itu Ayam Kinantan melekat bagi bagi PSMS. Julukan tersebut kabarnya diberikan karena sewaktu juara, ada ayam yang diarak-arak saat PSMS jadi juara tahun 1985. Lalu lewat tulisan-tulisan  almarhum Zatako yang merupakan mantan wartawan senior di Medan, mulai tertulis julukan Ayam Kinantan.

4. PSMS berjaya di masa lampau, sudah 6 kali juara era perserikatan

Sudah 71 Tahun, 10 Fakta Manis dan Kelam dalam Sejarah PSMS Momen ketika Pengurus PSMS memegang seekor ayam saat tim tiba di Bandara Polonia usai juara Perserikatan 1985 (Dok www.instagram.com/thekillermerch)

Prestasi PSMS di kancah sepak bola nasional bermula pada Divisi Utama Perserikatan 1967. Setelah itu, berturut PSMS meraih juara pada edisi selanjutnya yakni 1969 dan 1971. Gelar keempat diraih pada 1975 kala menjadi juara bersama Persija Jakarta.

Dua gelar lagi diraih PSMS saat menaklukkan Persib Bandung pada 1983 dan 1985. Itu menandakan bahwa PSMS meraih 6 gelar juara pada era Persirakatan.

Untuk level turnamen, PSMS pernah meraih juara Piala Emas Bang Yos (PEBY) merebutkan Piala Sutiyoso yang saat itu menjadi Gubernur DKI Jakarta. PSMS meraih tiga gelar PEBY pada 2005 (dua kali) dan 2006. Setelah itu PSMS juara Piala Kemerdekaan 2015.

Baca Juga: Dua Hari Absen Latihan, Paulo Sitanggang Hengkang dari PSMS?

5. PSMS meraih treble winner pada 1967

Sudah 71 Tahun, 10 Fakta Manis dan Kelam dalam Sejarah PSMS Saat PSMS pertama kalinya juara Perserikatan Tahun 1967 (Dok www.instagram.com/thekillermerch)

PSMS juga tercatat pernah meraih treble winner atau tiga kali juara dalam satu tahun. Gelar diraih setelah juara Piala Soeratin U-17 dan juara Divisi Utama Perserikatan pada 1967.

Atas keberhasilan itu, PSMS menjadi wakil Indonesia pada turnamen Aga Khan Gold Cup di tahun yang sama. PSMS kembali juara setelah menang 2-0 atas tuan rumah pada turnamen yang berlangsung di Dhaka, Pakistan Timur (Saat ini bangladesh).

6. Laga PSMS dan Persib pada 1985 memecahkan rekor jumlah penonton terbanyak

Sudah 71 Tahun, 10 Fakta Manis dan Kelam dalam Sejarah PSMS Suporter berada hingga sisi lapangan Stadion Senayan saat final Perserikatan PSMS lawan Persib (Dok www.ligalaga.id)

Duel klasik PSMS kontra Persib pada 1985 tercatat sebagai salah satu pertanding terbesar yang ada di Indonesia. Duel ini pun disebut-sebut sebagai El Clasico Indonesia.

Kala itu, PSMS bertemu Persib di final 1985 yang berlangsung di Stadion Senayan (saat ini GBK). Duel ini dimenangkan PSMS dengan skor 4-3 lewat adu penalti.

Buku Asia Football Confederation (AFC) terbitan 1987 mencatat kurang lebih 150 ribu penonton hadir menyaksikan ke stadion. Penonton tumpah ruah hingga sisi lapangan karena kapasitas stadion tak mampu menampug. Laga ini pun tercatat dalam sejarah dengan jumlah penonton terbanyak pada kompetisi amatir.

7. Stadion Teladan yang jadi kandang PSMS dibangun 1950 untuk persiapan PON III/1953

Sudah 71 Tahun, 10 Fakta Manis dan Kelam dalam Sejarah PSMS IDN Times/Istimewa

Bersamaan dengan lahirnya PSMS pada 1950, Stadion Teladan juga mulai dibangun pada saat itu. Stadion yang saat ini masih dipakai jadi home base PSMS dibangun untuk persiapan Sumatera Utara menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) 1953. Itu pertama kalinya Sumut menjadi tuan rumah PON. Kesempatan kedua datang kala Sumut dan Aceh dipercaya jadi tuan rumah PON 2024.

8. Prestasi terbaik di era millennial adalah runner up Liga Indonesia 2007/2008

Sudah 71 Tahun, 10 Fakta Manis dan Kelam dalam Sejarah PSMS Saktiawan Sinaga (IDN Times/Doni Hermawan)

Di era millennial, prestasi PSMS melorot. Tak pernah ada gelar juara yang singgah dalam genggaman. Prestasi terbaik PSMS di kompetisi hanya menjadi runner up saat Liga Indonesia masih berformat Divisi Utama sebagai kasta tertinggi pada musim 2007/2008.

Saat itu PSMS yang diperkuat pemain-pemain Medan seperti Markus Horisson, Saktiawan Sinaga, Mahyadi Panggabean dan beberapa pemain asing seperti Gustavo Chena, Murphy Kumonple, James Koko Lomel dan lainnya harus takluk dari Sriwijaya FC di final dengan skor 3-1.

Selanjutnya satu-satunya piala yang berhasil diboyong PSMS adalah Piala Kemerdekaan 2015. Namun sebatas turnamen pengganti Liga 2 yang tak digelar tahun itu karena PSSI dibekukan Menpora.

9. Tiga kali degradasi dalam dua dekade terakhir

Sudah 71 Tahun, 10 Fakta Manis dan Kelam dalam Sejarah PSMS Liga-indonesia.id

Bicara PSMS saat ini memang sulit dihubungkan dengan prestasi. Soalnya PSMS memang mengalami masa-masa sulit. 

Bahkan tiga kali PSMS terdegradasi di musim-musim berbeda. Hanya naik satu musim kemudian turun kasta lagi. Degradasi pertama tahun 2008/2009. Saat itu kompetisi pertama kali berformat Liga Super. PSMS degradasi setelah kalah laga playoff kontra Persebaya lewat adu penalti.

PSMS butuh waktu empat tahun untuk naik lagi ke kasta teratas. Namun diperoleh dengan cara unik. Kompetisi musim 2012 saat itu dualisme sehingga tarik menarik kontestan. PSMS saat itu juga terbelah dua, dan akhirnya sama-sama dapat slot di Indonesian Super League (ISL) dan Indonesian Premier League (IPL). Mirisnya, duo PSMS sama-sama degradasi.

Degradasi ketiga terjadi tahun 2018. Saat itu PSMS berhasil promosi tahun 2017 di bawah asuhan Djajang Nurjaman. Hasilnya hanya semusim PSMS bertahan di Liga 1, dan masih berkutat di Liga 2 hingga kini.

10. Kerap terjebak polemik dualisme yang pelik

Sudah 71 Tahun, 10 Fakta Manis dan Kelam dalam Sejarah PSMS Manajemen PSMS yang menanungi PSMS di Liga 2 (IDN Times/Hasudungan)

Nah, satu lagi masalah klasik yang kerap membelit PSMS adalah dualisme. Bahkan masih terjadi hingga kini.

Dualisme saat kompetisi terbelah jadi ISL dan IPL. PSMS pun terbelah dua juga demi bermain di dua kompetisi itu. Saat degradasi pun, PSMS belum bersatu karena kompetisi juga masih dua. Duo PSMS sama-sama berlanjut di Divisi Utama ISL dan IPL (LPIS).

Hingga tahun 2014, pertama kali PSMS bersatu. Tahun 2018, terjadi lagi polemik logo. Kubu PT Pesemes yang dipimoin Syukri Wardi yang merasa sudah mendaftarkan logo dan merek PSMS ke Kemenkumham menuntut manajemen di bawah bendera PT Kinantan Medan Indonesia yang saat itu menukangi PSMS di Liga 1.

Tak cukup sampai di situ tahun 2019, klub-klub anggota PSMS menggelar Rapat Anggota Luar Biasa (RALB) dan memilih ketua umum bernama Adi Syahputra. 

Tahun 2021, polemik logo di Mahkamah Agung diputuskan PSMS milik masyarakat. Namun hingga kini kepengurusan PSMS versi RALB masih ada, meski tim yang diakui PT LIB masih di bawah manajemen PT Kinantan Medan Indonesia.

Baca Juga: Ulang Tahun ke-71, Manajemen PSMS Ziarah dan Buka Puasa Bersama

Topic:

  • Doni Hermawan

Berita Terkini Lainnya