Yakopi Targetkan Percepatan Restorasi dan Penguatan Ekonomi Biru

- Yakopi menggelar konferensi internasional di Medan untuk mempercepat restorasi mangrove dan memperkuat ekonomi biru melalui kolaborasi lintas sektor di Sumatera Utara.
- Pemerintah Sumut menetapkan program strategis rehabilitasi mangrove di berbagai daerah pesisir, sementara Yakopi menargetkan restorasi 3.900 hektare dengan pendekatan ekonomi berbasis masyarakat.
- Peluncuran logo baru Yakopi menjadi simbol semangat baru dalam pelestarian lingkungan pesisir dan penguatan kerja sama global menuju pembangunan berkelanjutan.
Medan, IDN Times - Yayasan Konservasi Pesisir Indonesia (Yakopi) menggelar pertemuan dan diskusi bertema “1st CoESDev 2026: International Conference on Coastal Ecosystems and Sustainable Development 2026” di Medan, pada Sabtu (18/4/2026). Acara ini menargetkan percepatan restorasi mangrove, dan penguatan ekonomi biru di Sumatera Utara melalui kolaborasi lintas sektor.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sumut, Heri Wahyudi Marpaung, menyebut kegiatan ini sebagai langkah konkret dalam edukasi dan aksi penyelamatan lingkungan pesisir.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Kehadiran YAKOPI memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, mulai dari penyelamatan lingkungan hingga peningkatan ekonomi berbasis pesisir,” ujarnya.
Menurut Heri, YAKOPI telah berperan sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendukung konservasi tanpa bergantung pada anggaran negara, sekaligus mendorong implementasi ekonomi hijau dan biru dari hulu ke hilir.
1. Pemprov Sumut sebut telah tetapkan program strategis daerah untuk rehabilitasi mangrove

Saat ini, Heri menjelaskan bahwa Pemprov Sumut telah menetapkan program strategis daerah untuk rehabilitasi mangrove di sejumlah wilayah pesisir, seperti Kepulauan Nias, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Batubara, dan Asahan.
“Kami sudah melakukan reboisasi di beberapa titik dan akan terus berlanjut tahun ini. Program ini menjadi prioritas daerah dan sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat,” katanya.
Terkait alih fungsi kawasan mangrove, dia menegaskan pemerintah bersama Satgas Penertiban Kawasan Hutan akan bertindak tegas untuk mengembalikan fungsi kawasan.
“Kalau itu kawasan mangrove, harus dikembalikan menjadi mangrove. Tidak ada tawar-menawar. Penertiban sudah dilakukan di ribuan hektare,” tegasnya.
2. Tantangan utama dalam konservasi pesisir adalah membangun komitmen masyarakat

Sementara itu, Direktur Eksekutif YAKOPI, Meilinda Suriani Harefa, mengungkapkan tantangan utama dalam konservasi pesisir adalah membangun komitmen masyarakat.
“Kami bersyukur dukungan pemerintah sangat kuat. Tantangan terbesar adalah memastikan masyarakat percaya bahwa upaya ini memberi manfaat ekonomi,” ujarnya.
YAKOPI menargetkan restorasi mangrove seluas 3.900 hektare di Sumatera Utara pada tahun ini, dengan prioritas wilayah pesisir barat termasuk Kepulauan Nias. Secara keseluruhan, YAKOPI telah melakukan rehabilitasi sekitar 3.000 hektare di lima provinsi.
Selain fokus pada lingkungan, YAKOPI juga mengembangkan pendekatan ekonomi berbasis masyarakat, mulai dari pelatihan hingga pemasaran produk lokal melalui kemitraan dengan sektor swasta.
“Kami tidak hanya menanam mangrove, tetapi juga memastikan masyarakat sejahtera. Produk-produk lokal akan kami bantu dari sisi kualitas, pengemasan hingga pemasaran agar benar-benar memberikan nilai ekonomi,” jelas Meilinda.
Melalui forum internasional ini, sinergi antara pemerintah, lembaga non-profit, akademisi, dan sektor swasta diharapkan semakin kuat dalam mewujudkan pengelolaan pesisir yang berkelanjutan di Sumatera Utara.
3. Berikut makna logo baru Yakopi

Lewat acara ini, Yakopi meluncurkan logo baru sebagai simbol semangat dan arah baru dalam memperkuat upaya pelestarian lingkungan pesisir. Peluncuran logo ini menjadi momentum penting untuk menegaskan komitmennya, dalam mendorong pembangunan berkelanjutan di wilayah pesisir, sekaligus memperluas kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global.
Konferensi internasional CoESDev 2026 yang mengusung tema “Sustainable Development in Coastal Area” ini menjadi wadah bertemunya para pemangku kepentingan dari berbagai negara untuk membahas potensi blue economy, kebijakan pengelolaan mangrove berkelanjutan, serta implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Isu-isu tersebut dinilai krusial dalam mendukung pencapaian target pembangunan berkelanjutan (SDGs) serta meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan, termasuk dalam penilaian Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER).
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai institusi ternama, di antaranya perwakilan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Hiroshima University, Universiti Malaya, Integrity Council for the Voluntary Carbon Market, ClimeCo, serta akademisi dari Universitas Negeri Medan dan Universitas Sumatera Utara.
Adapun makna logo Yakopi baru, yakni:
Pohon berdaun hijau dengan akar yang kuat Melambangkan pertumbuhan, kehidupan, dan hubungan erat antara manusia/komunitas dengan alam. Daun memberi arti 5 pendiri dan 5 muda di tengah memberi arti perintis yang siap membangun regenerasi muda yang mencirikan daun akan tetap bertumbuh banyak.
Gelombang biru di bawah akar, melambangkan gerakan air, pesisir, atau ekosistem perairan dan akar yang menyentuh" air memberi arti keseimbangan antara daratan dan laut, sesuai dengan kegiatan yang dilakukan pada wilayah mangrove, DAS, atau konservasi pesisir dan kepulauan.
Gelombang biru di bawah akar →air, pesisir, atau Melambangkan gerakan ekosistem perairan dan akar yang "menyentuh" air memberi arti keseimbangan antara daratan yang dilakukan dan laut, sesuai dengan kegiatan pada wilayah mangrove, S, atau konservasi pesisir dan kepulauan.
Lingkaran biru: menyiratkan kesinambungan, perlindungan, dan ruang lingkup yang menyeluruh yang saling bersinergi satu sama lain.
Dengan semangat baru yang tercermin dalam logo tersebut, YAKOPI optimistis dapat menjadi motor penggerak dalam menciptakan kawasan pesisir yang tangguh, berdaya, dan berkelanjutan di masa depan.


















