Operasi Pencarian Cristoper yang Hilang di Danau Toba Ditutup

- Operasi pencarian Cristoper Rustam Muda Dua di Danau Toba resmi dihentikan setelah tujuh hari tanpa hasil, meski seluruh area telah disisir dari permukaan hingga dasar danau.
- Tim gabungan menggunakan berbagai teknologi seperti sonar, Aqua Eye, dan ROV untuk memperluas pencarian di tiga sektor berbeda, namun tidak ditemukan tanda keberadaan korban.
- Keputusan penghentian operasi diambil melalui evaluasi bersama tim SAR dan keluarga, dengan kemungkinan dibuka kembali jika muncul tanda baru terkait keberadaan Cristoper.
Medan, IDN Times - Tujuh hari sudah tim gabungan menyisir Danau Toba. Dari permukaan hingga dasar terdalam, semua cara ditempuh. Namun hasilnya tetap sama, nihil.
Operasi pencarian terhadap Cristoper Rustam Muda Dua (21), mahasiswa Unika ST Medan yang tenggelam di Air Terjun Situmurun, resmi dihentikan pada Jumat (17/4/2026) sore. Keputusan ini diambil setelah evaluasi bersama, menyusul tidak ditemukannya tanda-tanda keberadaan korban sejak hari pertama pencarian.
1. Tujuh hari pencarian, korban masih dinyatakan hilang

Cristoper dilaporkan tenggelam sejak Sabtu (11/4/2026) saat berada di kawasan wisata Air Terjun Situmurun, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba, Sumatra Utara. Lokasi ini dikenal memiliki arus kuat dengan kedalaman yang tidak merata.
Sejak laporan diterima, Pos SAR Danau Toba langsung mengerahkan tim gabungan untuk melakukan pencarian intensif. Operasi berlangsung selama tujuh hari penuh, namun hingga hari terakhir, korban belum berhasil ditemukan.
“Selama tujuh hari pelaksanaan operasi SAR, tim gabungan telah melakukan pencarian secara intensif dengan berbagai teknik, mulai dari penyisiran permukaan air, penyelaman, hingga penggunaan peralatan canggih seperti sonar, Aqua Eye, ROV, serta dukungan RBB Basarnas. Seluruh area prioritas telah disisir secara menyeluruh sesuai rencana operasi. Namun, hingga hari ketujuh, korban belum berhasil ditemukan,” jelas Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Medan, Hery Marantika, dalam keterangan resmi, Sabtu (18/4/2026).
2. Teknologi hingga penyelaman dikerahkan, area pencarian diperluas

Pada hari terakhir, operasi dibagi dalam tiga sektor pencarian untuk memaksimalkan jangkauan. Tim pertama menyisir area sekitar air terjun menggunakan kapal Basarnas yang dilengkapi sonar dan Aqua Eye, sekaligus melakukan penyelaman di titik-titik yang dicurigai.
Tim kedua bergerak di sepanjang tepian danau dengan perahu milik BPBD Toba, mencakup area hingga beberapa kilometer. Sementara itu, tim ketiga menggunakan teknologi ROV (Remotely Operated Vehicle) untuk menelusuri dasar danau secara lebih detail.
Seluruh metode itu diarahkan untuk menutup kemungkinan adanya titik yang terlewat. Namun hingga pukul 17.00 WIB di hari ketujuh, tidak ada tanda keberadaan korban yang ditemukan.
3. Operasi dihentikan, bisa dibuka kembali jika ada tanda baru

Keputusan menghentikan operasi diambil setelah evaluasi bersama antara tim SAR gabungan dan pihak keluarga. Pertimbangan utama adalah efektivitas pencarian yang dinilai sudah maksimal dalam kurun waktu tujuh hari.
“Berdasarkan evaluasi bersama seluruh unsur SAR gabungan dan pihak keluarga, serta mempertimbangkan efektivitas operasi yang telah berlangsung selama tujuh hari tanpa adanya tanda-tanda korban, maka operasi SAR diusulkan untuk dihentikan dan ditutup. Apabila di kemudian hari ditemukan tanda-tanda keberadaan korban, operasi SAR dapat dibuka kembali,” pungkas Heri.
Sebelumnya, Christoper bersama 59 rekan serta seorang pendamping dari kampus, Romo R.D. Ngadiono, datang ke lokasi untuk berwisata dengan menggunakan kapal penumpang KM Sibole-Bole 01 Silima Lombu.
Setibanya di kawasan Air Terjun Situmurun, Christoper bersama teman-temannya sempat berenang di sekitar jatuhan air terjun. Namun, sekitar 20 menit kemudian, ia mengalami kram pada kaki yang menyebabkan dirinya tenggelam.


















