Tapir Jantan Berbobot 300 Kg Ditemukan Mati Dekat TNTN Riau

- Seekor tapir jantan seberat 300 kg ditemukan mati di jalan koridor PT RAPP, sekitar dua kilometer dari kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, Riau.
- Hasil pemeriksaan BBKSDA Riau menunjukkan tapir tersebut tewas akibat tabrak lari kendaraan besar, tanpa tanda-tanda perburuan atau kekerasan manusia.
- Tapir langsung dikubur di lokasi, sementara BBKSDA mengimbau perusahaan memasang rambu perlintasan satwa dan membatasi kecepatan kendaraan di jalur habitat alami.
Kuantan Singingi, IDN Times - Seekor tapir ditemukan terbujur kaku alias mati di tengah jalan koridor areal Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Estate Baserah, Kecamatan Logas Tanah Darat, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau. Kabar duka ini, menjadi alasan bagi dunia konservasi satwa liar di Indonesia.
Mendapat informasi itu, tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau langsung bergerak cepat ke lokasi. Dimana, informasi itu pertama kali dari Kanit Tipidter Polres Kuansing dan manajemen PT RAPP.
Setibanya dilokasi, tim WRU BBKSDA provinsi Riau langsung melakukan pemeriksaan intensif dan penanganan evakuasi satwa malang tersebut.
Satwa lembut penjaga hutan Sumatra itu diketahui berjenis kelamin jantan dewasa. Adapun bobotnya luar biasa, yakni 300 kilogram lebih.
1. Lokasi kejadian dekat TNTN, merupakan jalur alami kawanan tapir

Adapun lokasi ditemukannya tapir itu, ternyata hanya berjarak sekitar dua kilometer dari batas luar kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Ironisnya, titik jalan koridor tempat tapir itu terkapar merupakan jalur lintasan alami kuno yang sudah turun-temurun digunakan oleh kawanan tapir untuk bermigrasi dan mencari makan.
Kini, jalur yang seharusnya aman bagi mereka justru berubah menjadi titik perlintasan yang mematikan. Pemandangan semakin memilukan karena tampak darah segar masih mengalir keluar dari rongga hidung satwa langka tersebut.
Berdasarkan Hasil autopsi visual dan pemeriksaan oleh dokter hewan BBKSDA Provinsi Riau, ditemukan adanya luka robek di bagian pinggul serta paha kiri tapir. Kemudian, juga ditemukan luka parah di perut sebelah kanan.
2. Kesimpulan BBKSDA tabrak lari

Atas temuan itu, Kepala Bidang Teknis BBKSDA Riau Ujang Holisudin membeberkan, bahwa semua bukti fisik di lapangan mengarah pada satu kesimpulan. Yang mana, menurut timnya, tapir tersebut menjadi korban tabrak lari.
"Berdasarkan pola luka dan trauma fisik yang ditemukan, tapir ini diduga kuat tewas seketika setelah dihantam dengan keras oleh kendaraan roda empat atau truk bermuatan besar yang melintas dengan kecepatan tinggi di jalan koridor perusahaan," ucapnya, Senin (22/6/2026).
Meskipun demikian, pihak berwenang memastikan bahwa peristiwa ini murni kecelakaan fatal dan bukan ulah para pemburu liar. Pemeriksaan bersama yang melibatkan Kapolsek Logas Tanah Darat, Polisi Kehutanan, serta staf Balai Taman Nasional Tesso Nilo memastikan tidak ada kesengajaan.
"Tim tidak menemukan adanya bekas proyektil peluru, luka tembak, ataupun sayatan senjata tajam yang biasa ditinggalkan oleh pelaku kriminal kehutanan," ujar Ujang.
3. Langsung dikubur, imbau perusahaan pasang rambu perlintasan satwa

Dilanjutkan Ujang, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, proses pemakaman sang tapir langsung dilakukan di lokasi penemuan dengan protokol ketat. Langkah penguburan itu diambil sesuai prosedur medis satwa liar.
"Ini dilakukan demi mencegah potensi penyebaran penyakit menular serta risiko zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia yang mengancam warga sekitar maupun pekerja konsesi," lanjutnya.
Ditambahkan Ujang, BBKSDA Provinsi Riau juga mengeluarkan peringatan keras kepada seluruh perusahaan yang beroperasi membelah jalur habitat satwa.
"Kami mengimbau agar rambu-rambu perlintasan satwa segera dipasang dan kecepatan kendaraan dibatasi secara ketat. Sebagai salah satu spesies kunci pengingat keseimbangan ekosistem hutan Sumatra, hilangnya satu tapir dewasa adalah tamparan keras bagi masa depan hutan kita yang kian terfragmentasi," pungkasnya.

















