Sumut Bidik Investasi Jepang, dari Kawasan Industri hingga BRT

- Pemprov Sumut menawarkan KEK Sei Mangkei dan proyek BRT kepada investor Jepang untuk memperkuat sektor industri serta transportasi daerah.
- Hankyu Hanshin, perusahaan asal Jepang dengan pengalaman di bidang transportasi, diajak menjajaki peluang investasi BRT yang dinilai strategis bagi mobilitas masyarakat.
- Pemerintah Sumut ingin memperluas sumber investasi yang selama ini didominasi Malaysia dan Singapura, dengan membuka peluang baru di industri, pariwisata, pertanian, dan energi.
Medan, IDN Times – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara membuka peluang investasi asing untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Kali ini, Pemprov menawarkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei dan pengembangan transportasi massal Bus Rapid Transit (BRT) kepada investor asal Jepang.
Langkah ini disampaikan langsung oleh Penjabat Sekdaprov Sumut, Sulaiman Harahap, saat menerima kunjungan pimpinan Hankyu Hanshin di Kantor Gubernur Sumut, Jumat (27/3/2026). Pemprov berharap investasi tersebut tidak hanya memperkuat sektor properti, tetapi juga merambah industri dan transportasi.
1. KEK Sei Mangkei ditawarkan sebagai pusat industri terpadu

Pemprov Sumut mendorong investor Jepang untuk melihat langsung potensi KEK Sei Mangkei sebagai kawasan industri terpadu. Kawasan ini dinilai strategis untuk pengembangan investasi jangka panjang.
“KEK Sei Mangkei merupakan kawasan industri terpadu. Bapak-bapak dan ibu bisa melihat apa saja investasi yang pas, sekaligus bisa mendapatkan informasi yang akurat tentang investasi apa saja di kawasan itu,” kata Sulaiman. Saat ini, kawasan tersebut telah diisi 25 perusahaan, dengan Unilever sebagai investor terbesar.
2. Transportasi brt jadi peluang baru investasi

Selain industri, Pemprov juga menawarkan sektor transportasi massal melalui pengembangan BRT di Sumut. Proyek ini dinilai strategis untuk mendukung mobilitas masyarakat sekaligus membuka peluang investasi baru.
Menariknya, Hankyu Hanshin memiliki latar belakang kuat di sektor transportasi sebelum berkembang ke properti. “Jadi di Jepang itu awalnya adalah perusahaan yang bergerak di sektor transportasi, BRT, LRT, dan lainnya. Kalau ada transportasi, maka ada terminal dan mal, begitu juga ada kawasan hunian yang semuanya terkoneksi,” ujar President Director Takeda Takashi.
3. Sumut butuh diversifikasi investor, tak hanya malaysia-singapura

Kepala DPMPTSP Sumut Nurbaiti Harahap mengungkapkan, saat ini investasi di Sumut masih didominasi investor dari Malaysia dan Singapura. Karena itu, kehadiran investor Jepang diharapkan bisa memperluas sektor investasi, terutama di industri.
Ia juga menyebut, selain KEK Sei Mangkei, peluang investasi di Sumut terbuka luas di berbagai sektor, mulai dari pariwisata, pertanian, hingga energi. Pemprov pun menekankan pentingnya kolaborasi dengan investor untuk mempercepat pembangunan daerah.


















