Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Puluhan Petani Sawit di Rohul Riau Diserang OTK
Gunawan dan Rizaldi yang menjadi korban penyerangan OTK di Kabupaten Rohul, Provinsi Riau (IDN Times/ istimewa)
  • Puluhan petani sawit diserang OTK di Tambusai Utara, Rokan Hulu, saat beristirahat usai bekerja; sekitar 25 orang terluka, satu kritis, sementara 28 lainnya belum diketahui nasibnya.
  • Korban melaporkan serangan ke polisi dan mengaitkannya dengan sengketa sekitar 2.000 hektare lahan. Kuasa korban menduga keterlibatan PT Agrinas, yang dibantah perusahaan.
  • Polda Riau melakukan visum, memeriksa korban dan saksi, serta memburu pelaku. PT Agrinas menyatakan konflik bersifat internal koperasi dan menyerahkan dugaan pelanggaran kepada aparat hukum.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Rokan Hulu, IDN Times - Puluhan petani kelapa sawit di Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau diserang secara brutal oleh orang tak dikenal (OTK) saat sedang bekerja. Peristiwa yang terjadi di area kebun kelapa sawit yang berada di Kecamatan Tambusai Utara itu, mengakibatkan para petani mengalami luka-luka yang cukup serius dibagian tangan, kaki, kepala, rusuk dan mata lebam.

Salah seorang petani yang menjadi korban, Gunawan (31) bercerita, bahwa peristiwa penyerangan tersebut terjadi saat mereka sedang beristirahat usai membersihkan kebun.

"Kami sedang duduk-duduk di mess habis bekerja bersihkan kebun, tiba-tiba datang gerombolan orang tak dikenal dengan 3 truk colt diesel dan 2 mobil double cabin. Mereka berteriak 'serang', jadi kami langsung diserang," cerita  Gunawan saat dihubungi IDN Times, Senin (17/8/2026).

Tak sampai disitu, mereka juga diancam pakai senjata api oleh OTK tersebut. Bahkan, handphone para petani juga diambil paksa oleh OTK itu. 

"Saya juga diancam pakai senjata api, dua handphone saya dijarah," ucap Gunawan. 

Gunawan sendiri mengaku dipukul dengan kayu dan besi oleh para pelaku tersebut. Ia mengalami luka di bagian hidung dan tangannya yang harus diikat perban. 

Terkait dengan penyerangan tersebut, Gunawan tidak mengetahui apa motif para pelaku tersebut. Dia juga tidak kenal dengan para pelaku yang menyerang, yang jumlahnya saat itu diperkirakan ratusan orang. 

"Kami cuma bekerja. Katanya lahan warga ini pro kontra dengan PT Agrinas. Namun setahu saya, lahan itu punya warga, itulah makanya saya kerja di situ," ujar Gunawan.

Sama dengan Gunawan, korban lainnya Rizaldi (44), juga mengalami luka di sekujur tubuhnya akibat penyerangan OTK tersebut. 

"Kepala saya bocor dan tangan dihantam pakai balok kayu. Mata saya ditendang, saya diseret-seret seperti PKI," ucap Rizaldi.

Saat serangan brutal terjadi, Rizaldi dan rekan-rekannya tak berdaya melawan, karena para pelaku membawa senjata. 

"Kami hanya bisa bilang 'aduh, aduh, ampun, ampun, Pak'. Kalau teriak minta tolong, semakin disiksa kami," sebut Rizaldi yang juga mengaku tidak mengetahui apa alasan para pelaku melakukan penyerangan. 

Setelah penyerangan itu, dilanjutkan Rizaldi, para petani dikumpulkan, lalu dibawa keluar dari kebun dengan truk oleh tiga orang pelaku. Rizaldi menyebut, jumlah korban luka sekitar 25 orang. Satu di antaranya kritis. 

Sementara 28 orang rekannya yang lain masih berada di dalam kebun sawit dan belum diketahui nasibnya. 

"Yang kami pikirkan kawan-kawan di dalam kebun sekitar 28 orang lagi. Belum tahu nasibnya sekarang," sebutnya. 

1. Tuding PT Agrinas Palma Nusantara dalang penyerangan, akan surati presiden dan bawa kasus ke Mabes Polri-DPR RI

Juru bicara warga yang menjadi korban, Abdul Aziz (IDN Times/ istimewa)

Sementara itu, Juru bicara para korban, Abdul Aziz mengatakan, bahwa kasus penyerangan tersebut telah dilaporkan ke pihak kepolisian. Penegak hukum diminta mengusut kasus itu sampai tuntas.

Tidak hanya di tingkat provinsi, Aziz akan membawa kasus tersebut ke Mabes Polri dan DPR RI. 

"Kami juga akan surati Presiden. Karena warga memang sedang memperjuangkan hak-haknya," kata Aziz.

Aziz menceritakan, para petani itu diserang secara tiba-tiba oleh sekelompok orang yang membawa berbagai senjata.

Menurutnya, kasus tersebut pemicunya adalah persoalan lahan perkebunan kelapa sawit milik masyarakat seluas lebih kurang 2.000 hektare di Afdeling 19 dan 21. Lahan tersebut, sebelumnya dipercayakan masyarakat dikelola oleh PT Torganda dengan pola 'Bapak Angkat'.

"Perusahaan (PT Torganda) kemudian menunjuk Koperasi Karya Bakti sebagai mitra. Masyarakat pun bergabung dengan koperasi tersebut. Ada 1.015 orang yang menggantungkan hidupnya di kebun itu," ujar Aziz.

Pada 2025, diterangkannya, Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) datang menyita karena dianggap lahan PT Torganda masuk dalam kawasan hutan. Lalu, lahan sitaan tersebut pengelolaannya diserahkan kepada PT Agrinas Palma Nusantara alias perusahaan negara. 

"Dari hasil yang saya teliti, semua lahan yang dikelola PT Torganda itu, baik yang ada di Rokan Hulu, maupun di Padang Lawas Utara, Sumatera Utara (kebetulan  kabupatennya berdampingan), sumbernya berasal dari lahan masyarakat dan ada suratnya. Lahan yang sedang bersoal saat ini, suratnya diserahkan warga ke Koperasi Karya Bakti yang bekerja sama dengan Torganda. Jadi, sekarang surat tanah yang asli itu ada di Torganda," terang Aziz. 

Setelah diambil alih PT Agrinas Palma Nusantara, masyarakat pemilik lahan tersebut tidak dapat apa-apa lagi dari kebun itu. Termasuk masyarakat lain di Rohul dan juga di Padang Lawas Utara, yang lahannya dikerjasamakan dengan PT Torganda.   

Karena sudah tidak dapat apa-apa lagi, warga ingin mengambil kembali lahannya untuk masa depan mereka. Namun, upaya ini memicu bentrokan hingga penyerangan terhadap warga. 

"Bukan tidak mungkin warga lain yang akan mengambil lahannya kembali, akan berujung sama dengan peristiwa yang terjadi saat ini. Mestinya, pemerintah mengecek dulu apakah lahan yang disita itu benar lahan Torganda atau milik masyarakat. Jangan langsung main sita, biar tidak jadi pertumpahan darah seperti ini. Sebab tak akan ada seorang pun yang mau hartanya tiba-tiba disita tanpa tahapan hukum yang jelas dan benar," jelas Aziz. 

Terkait dengan peristiwa penyerangan itu, Aziz menduga bahwa ratusan OTK yang menyerang warga tersebut, melibatkan pihak PT Agrinas Palma Nusantara. 

"Kuat dugaan kami penyerangan itu didalangi oleh Agrinas. Kenapa saya bilang begitu, karena pada 14 Agustus 2026, kuasa hukum Agrinas berkirim surat ke Polres Rohul," sebut Aziz. 

"Salah satu poin dalam surat itu, agar tidak dipersalahkan apabila terjadi bentrok berdarah di lapangan. Yang jadi pertanyaan kami, kenapa sekelas Agrinas, perusahaan negara, sampai melakukan hal semacam ini," sambungnya.

Selain itu, Aziz juga menegaskan bahwa klaim dari pengacara PT Agrinas Palma Nusantara yang menyatakan bahwa lahan tersebut merupakan konsesi PT Agrinas Palma Nusantara, adalah tidak benar. 

"Kami ingin tahu dasarnya Agrinas mengatakan itu lahannya apa. Kalau kemudian lantaran pelimpahan dari Satgas PKH, bukan berarti Agrinas langsung bisa seenaknya mengelola lahan itu," tegas Aziz. 

Lahan-lahan yang disita Satgas PKH, ditambahkannya, dianggap karena tidak memiliki izin dan berada di dalam kawasan hutan. Jika seperti itu, Aziz kembali bertanya, mengapa PT Agrinas Palma Nusantara bisa mengelolanya, padahal tidak memiliki izin apapun. 

"Kenapa saya bilang Agrinas belum memiliki izin, karena Dirut (Direktur Utama) nya sendiri mengaku saat RDP (Rapat Dengar Pendapat) dengan Komisi VI DPR RI pada Juli kemarin. Lalu, kalau memang lahan disita karena berada di kawasan hutan, buktikan dulu dong, betul nggak itu kawasan hutan. Lihat kan bukti-bukti proses pengukuhannya. Karena bagi kami, kawasan hutan di Riau dari 2016, statusnya masih penunjukan. Sementara sejak munculnya PP 33 tahun 1970 tentang Perencanaan Hutan, Pengukuhan Kawasan Hutan itu telah wajib dilakukan," pungkas Aziz.

2. Polisi buru pelaku

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Riau Kombes Pol Hasyim Risahondua (IDN Times/ Fanny Rizano)

Disisi lain, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Riau Kombes Pol Hasyim Risahondua membenarkan adanya peristiwa tersebut. Dimana, para korban telah membuat laporan ke Polsek Tambusai Utara. 

Pihaknya juga mengambil beberapa tindakan, seperti membawa para korban untuk visum dan memeriksa para korban. 

"Tindakan selanjutnya, memeriksa saksi-saksi, mencari keberadaan pelaku-pelaku dan melengkapi berkas," ucap Kombes Pol Hasyim.

3. Ini tanggapan PT Agrinas Palma Nusantara

Kebun sawit (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)

Terkait dengan peristiwa penyerangan itu, PT Agrinas Palma Nusantara menyampaikan bahwa perusahaan mengetahui adanya dinamika dan konflik internal di lingkungan Koperasi Karya Bakti yang berkaitan dengan pengelolaan lahan plasma di wilayah Kebun Batang Kumu II, Regional 4 Riau. Demikian dikatakan Sekretaris Perusahaan (Sekper) PT Agrinas Palma Nusantara Bambang Agustian.

"Perusahaan telah melakukan koordinasi dan upaya mediasi bersama para pihak terkait serta berkoordinasi dengan aparat keamanan setempat guna menjaga situasi tetap aman dan kondusif," ucap Bambang. 

Sehubungan dengan adanya dugaan pelanggaran hukum yang terjadi dalam rangkaian peristiwa tersebut, dilanjutkannya, pihaknya telah berkoordinasi dan menyerahkan penanganannya kepada aparat penegak hukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

"PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) menegaskan bahwa perusahaan tidak berada dalam posisi untuk memihak salah satu kelompok dalam konflik internal tersebut," lanjutnya.

PT Agrinas Palma Nusantara ditambahkannya, menghormati proses hukum dan mengedepankan penyelesaian secara tertib, dialogis, serta sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Perusahaan juga terus melakukan koordinasi dengan aparat keamanan, pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan terkait untuk menjaga keamanan dan kelancaran operasional di wilayah Kebun Batang Kumu II.

"PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) mengimbau seluruh pihak untuk menahan diri, tidak melakukan tindakan yang dapat memperkeruh situasi, serta mengutamakan penyelesaian melalui mekanisme yang telah disepakati dan sesuai dengan hukum yang berlaku.  Perusahaan akan terus memantau perkembangan situasi dan menyampaikan informasi lebih lanjut apabila terdapat perkembangan yang relevan," pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article