Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pekerja PT Madukoro Lestari Pelalawan Diduga Dimangsa Harimau
ilustrasi meninggal (pixabay.com/soumen82hazra)
  • Seorang pekerja HTI bernama Eko Prastio tewas dimangsa Harimau Sumatra di Pelalawan, Riau, hanya beberapa hari setelah kasus serupa menewaskan bocah 12 tahun.
  • Tim BBKSDA menemukan jejak harimau berukuran sama dengan kejadian sebelumnya serta barang milik korban di lokasi pencarian sekitar 650 meter dari titik awal.
  • Sebagai langkah mitigasi, BBKSDA memasang boxtrap dan meminta perusahaan menerapkan SOP ketat agar konflik manusia-harimau tidak terulang di kawasan tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pelalawan, IDN Times - Harimau Sumatra kembali muncul di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Setelah bocah 12 tahun yang menjadi korban, kali ini seorang pria dewasa diduga dimangsa 'si belang' dan ditemukan dalam kondisi mengenaskan.

Korban kali ini adalah Eko Prastio, berumur 29 tahun, warga Kampar Kiri, Kabupaten Kampar. Eko merupakan pekerja di kawasan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan Hutan Tanaman Industri (PBPH-HTI) PT Madukoro Lestari Tasik Estate di Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan.

Pelaksana harian (Plh) Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Laskar Jaya Permana mengatakan, peristiwa kedua ini berada tak jauh dari peristiwa pertama yang menewaskan seorang bocah berumur 12 tahun.

"Lokasi kejadian kedua ini berada di areal camp kedua, yang berjarak sekitar 6,5 kilometer dari camp kejadian pertama," kata Laskar, Senin (13/7/2026).

Laskar menyebut, pihaknya mengetahui kejadian yang kedua dari tim Wildlife Rescue Unit (WRU) BBKSDA Provinsi Riau setelah mendapat laporan. Tim tersebut sudah beberapa hari berada di lapangan untuk menangani konflik Harimau Sumatra dengan manusia di wilayah tersebut.

1. Kedua kaki dan sebagian badan korban telah dimakan

ilustrasi harimau makan (commons.wikimedia.org/Beat Ruest)

Dilanjutkan Laskar, korban saat ditemukan dalam kondisi yang mengenaskan. Dimana, kedua kaki dan sebagian badannya telah dilahap harimau tersebut.

"Korban ditemukan dalam kondisi luka di leher, kedua kaki dan sebagian badan korban juga sudah dimakan satwa harimau," lanjut Laskar.

2. Ukuran jejak harimau sama dengan yang kejadian pertama

Tim BBKSDA Provinsi Riau saat mengukur temuan jejak harimau (IDN Times/ dok BBKSDA Riau)

Laskar menerangkan, saat mendapat laporan adanya seorang pekerja yang hilang, tim WRU di lapangan langsung menuju ke lokasi kedua. Saat itu, korban belum ditemukan.

Setibanya dilokasi yang kedua, tim menemukan jejak harimau berukuran 16 centimeter dengan lebar 15 centimeter. Ukuran tersebut, sama dengan jejak harimau yang menewaskan bocah 12 tahun beberapa hari yang lalu.

Tak hanya jejak harimau, tim WRU juga menemukan ceceran darah serta sejumlah barang milik korban.

"Tim WRU juga melakukan pencarian terhadap korban dengan menggunakan drone thermal yang menempuh pencarian hingga radius 3 kilometer," terang Laskar.

Setelah beberapa lama melakukan pencarian, jasad korban akhirnya ditemukan. Jaraknya sekitar 650 meter dari lokasi terakhir korban berada.

"Tim saat ini masih menganalisa apakah individu Harimau Sumatara pada kejadian ini merupakan individu yang sama dengan kejadian sebelumnya," ujar Laskar.

Diketahui, korban sebelumnya berpamitan kepada rekan sekamarnya untuk mencari sinyal telepon guna menyampaikan agenda pekerjaan melalui grup WhatsApp.

Karena korban tak kunjung kembali ke mess, rekan korban bersama seorang karyawan dan petugas keamanan melakukan pencarian.

Di lokasi yang biasa digunakan korban menelepon, mereka menemukan sandal dan headset milik korban, ceceran darah dalam jumlah banyak, bekas seretan menuju semak, serta jejak Harimau Sumatra.

3. Pasang boxtrap, minta perusahaan terapkan SOP

Tim BBKSDA Provinsi Riau saat hendak memasang boxtrap untuk Harimau Sumatra pasca dua kejadian yang menghilangkan dua nyawa (IDN Times/ dok BBKSDA Riau)

Pasca kejadian kedua tersebut, sebagai langkah mitigasi, BBKSDA Provinsi Riau telah memasang boxtrap di sekitar lokasi kejadian. Selain itu, BBKSDA Provinsi Riau juga meminta perusahaan untuk menerapkan standar operasional prosedur (SOP) secara ketat, guna meminimalkan potensi konflik lanjutan.

"Kami mengimbau masyarakat, pekerja, dan perusahaan yang beraktivitas di sekitar habitat Harimau Sumatra agar tidak beraktivitas seorang diri, terutama pada malam hingga dini hari. Pastikan juga sistem pengamanan camp berfungsi dengan baik, serta segera melaporkan kepada petugas apabila mengetahui keberadaan satwa liar di sekitar lokasi," pinta Laskar.

Ia menambahkan, BBKSDA Provinsi Riau akan terus melakukan penanganan secara terukur bersama para pihak terkait dengan mengedepankan keselamatan manusia sekaligus menjaga kelestarian Harimau Sumatra sebagai satwa yang dilindungi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article