Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Merawat Napas Kerancang Bukittinggi Lewat Inovasi Ambun Suri
Galeri Sulaman Ambun Suri Bukittinggi, Sumbar (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Lebih dari sekadar penjahit bordir kerancang. Ida Erlina menerapkan filosofi tukang jahit dalam kehidupannya demi bisa terus bertahan dan berinovasi di tengah perkembangan zaman.

Pertama, harus bisa mengukur baju di badan sendiri. Kedua, tidak pernah menyalahkan jarum. Ketiga, setitik jahitan mampu menyelamatkan sembilan jahitan lainnya.

Pada usia 50 tahun, Galeri Sulaman Ambun Suri mampu bertahan menantang perubahan zaman. Dari sudut kecil di Bukittinggi kini berhasil ekspor hingga ke luar negeri.

Kakinya lincah mengayun penggerak roda, matanya tajam melihat jarum naik turun, dan kedua tanggannya lihai mengerakkan kain mengikuti pola yang sudah terlukis. Mesin jahit dan manusia itu berpadu menciptakan gerakan linier dengan begitu cepat tapi berirama.

Dalam hitungan menit kain ditarik dari mesin jahit berwarna hitam. Bordir berbentuk kelopak bunga berwarna merah sudah tergambar di atasnya. Butuh ketekunan dan ketelitian untuk menghasilkan jahitan seperti itu, biasa disebut bordir kain kerancang.

Kerancang adalah bordiran yang dijahit menggunakan mesin jahit manual (mesin hitam) yang terbuat dari jalinan benang sehingga membentuk lubang-lubang kecil. Kerancang khas Kota Bukittinggi, Sumbar berbeda dengan kerancang daerah lainnya, karena tidak membutuhkan solder untuk memberi lubang pada kain. Melainkan jalinan benang yang dibentuk sedemikian rupa.

Meski terdengar rumit, di tangan Ida Erlina, semua pekerjaan ini terlihat begitu mudah. “Sudah 30 tahun saya menekuni pekerjaan ini,” kata perempuan pemilik Galeri Sulaman Ambun Suri Kota Bukittinggi, Sumatra Barat membuka pembincangan.

Sejak tahun 1996 ia sudah bekerja di galeri ini. Keahliannya membuat bordir kerancang tak dinyana mengubah nasibnya. Lebih dari mendapatkan rezeki, Galeri Sulaman Ambun Suri juga ‘memberikan’ padanya seorang suami.

Tahun 2002 ia resmi diperistri oleh anak pemilik Galeri Sulaman Ambun Suri. Tahun 2015, Ida dan suami resmi menjalankan pengelolaan galeri didirikan oleh Hajah Anismar Asri sejak 1975.

“Yang paling berat menjalankan galeri ini adalah berinovasi mengikuti perkembangan zaman. Walaupun galeri ini sudah dikenal sejak 50 tahun lalu, jika tidak berinovasi tentu akan mati,” ungkap perempuan yang akrab disapa Ida ini.

Ibu satu anak ini bercerita agar bisa terus berinovasi ia rajin mengikuti pelatihan, mencari referensi di dunia maya, mendengarkan masukan pelanggan. Yang gak kalah penting berani menantang diri berkompetisi.

Pada tahun 2017 Ida memberanikan diri mengikuti Pertamina UMKM Award. Hasilnya, ia meraih juara kedua. Sebuah milestone yang tak disangka Ida. Kompetisi ini mendorongnya terus berinovasi dan membuat usahanya dikenal hingga ke pasar internasional.

“Waktu itu iseng-iseng saja ikut. Ternyata langsung dapat juara 2 Pertamina UMKM Award, senang sekali saya. Saya jadinya sering diajak pameran produk ke Jakarta, Makassar bahkan hingga ke Aljazair,” kenangnya.

Sejak saat itu, Pertamina juga aktif melibatkan Ida dalam berbagai pelatihan, pameran, dan business matching export. Salah satu yang paling bermanfaat menurut Ida adalah pelatihan manajemen keuangan.

Senior SPV CSR dan SMEPP Pertamina Patra Niaga Sumbagut, Agustina Mandayanti mengatakan Pertamina terus berkomimten menjalankan misinya mendukung UMKM. Salah satunya dengan menggelar UMK Academy setiap tahun. Pada tahun 2025 salah satu dari Top 100 UMKM yang lolos adalah Sulaman Ambun Suri Bukittinggi.

Menurutnya Sulaman Ambun Suri sekaligus UMKM bordir kerancang khas Bukittinggi konsiten terus berkembang dengan mengangkat kekayaan budaya lokal.

Melalui Pertamina UMK Academy, Sulaman Ambun Suri mendapatkan pendampingan dalam pengembangan usaha, termasuk pemanfaatan digitalisasi untuk promosi produk. Semangat beradaptasi ini mendorong peningkatan jangkauan pasar hingga berdampak pada kenaikan omzet usaha.

“Keikutsertaan Sulaman Ambun Suri sebagai salah satu Top 100 finalis Pertamina UMK Academy menjadi bukti bahwa UMKM lokal memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat nasional. Lewat kegiatan ini Pertamina terus berkomitmen mendukung pertumbuhan UMKM melalui program pendampingan berkelanjutan, guna mendorong pelaku usaha naik kelas dan berdaya saing,” ungkap Agustina.

Berdayakan Perempuan di Bukittinggi

Ida Arleni, Pemilik Galeri Sulaman Ambun Suri Bukittinggi, Sumbar (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Sejak lama, kata dia, Sulaman Ambun Suri mempraktikkan manajemen keuangan secara tradisional. Kini sudah berubah jadi lebih modern dan membantu pengembangan menjadi lebih baik.

Selain itu pelatihan yang paling berkesan buat Ida adalah terkait pemasaran lewat media sosial. Berkesan karena ia sadar itu sangat berguna untuk bisnisnya namun sulit dipahami oleh Ida. Maklum saja, sebagai generasi millenial, media sosial bukan sesuatu yang dekat dengannya.

"Kan ada pepatah ‘Seperti tukang jahit, mengukur baju di badan sendiri’. Nah saya sadar kemampuan saya untuk beradaptasi dengan media sosial kurang baik. Jadi saya rekrut karyawan yang masih muda seperti Cici," ujarnya sambil memperkenalkan Cici pada IDN Times.

Setiap mendapat informasi baru dari pelatihan, ia selalu sharing dengan Cici. Lama-kelamaan, ia meminta Cici untuk menghadiri pelatihan yang berkaitan dengan inovasi dan sosial media. Ia yakin Cici akan lebih mudah memahami dan mempraktekkannya.

“Untung saja Cici bisa beradaptasi dan memahami materi-materi tentang pemasaran melalu e-commerce hingga sosmed. Jika tidak, mungkin usaha kami sudah mati saat Covid-19 melanda. Dari pelatihan itu kita memang dipaksa untuk berjualan secara daring, ada tugas-tugas dan reward-nya. Setelah kita ikuti lama-lama jadi terbiasa,” ungkapnya.

Hingga kini, Ida terus mensyukuri bisnis berusia setengan abad warisan mertua bisa bertahan di tengah gempuran teknologi. Bahkan, kini pasar Sulaman Embun Suri sudah  menembus pasar internasional.

Cici, karyawan Ida bercerita banyak pengalaman dan pengetahuan baru yang didapatnya selama bekerja di Sulaman Ambun Suri. Mulanya hanya pandai membuat bordir kerancang, kini mengurusi hampir seluruh keperluan galeri, termasuk mengelola sosial media dan e-commerce-nya.

Sejak ikut pelatihan, Cici membuat akun dan mengelola sosial media milik Ambun Suri. Bahkan jadi admin live tiktok hingga mengelola akun e-commerce  Tokopedia, Shopee, hingga PADI milik Kementerian Perindustrian.

“Pernah ikut pelatihan secara daring yang durasinya berbulan-bulan, awalnya terasa berat. Diberi tugas mingguan, tapi jadi motivasi juga karena setiap kerjakan tugas dapat reward, bahkan kalau jadi yang terbaik, reward-nya produk kita diunggah di sosmed Pertamina. Itu jadi penyemangat sih, lama-lama jadi terbiasa,” bebernya.

Yang paling membanggakan menurut perempuan 30 tahun ini, pelanggan Sulaman Ambun Suri terus bertambah dari berbagai kota bahkan luar negeri. Untuk dalam negeri, pelanggannya mulai dari Aceh hingga Papua. Sedangkan untuk pelanggan luar negeri terbanyak dari negeri Jiran, Malaysia dan Singapura.

“Karena sering live di Tiktok, sekarang kami punya re-seller di Malaysia. Dia sering jualan live juga di Tiktok. Senang sih bisa menjadi bagian dari berkembanganya Ambun Suri. Di sini bordir kerancang hanya dianggap pakaian tradisional, ternyata punya nilai lebih bagi pelanggan luar negeri,” ungkap Cici yang sudah bergabung di Ambun Suri 8 tahun lalu.

Bahkan sebelum IDN Times datang, kata Cici, ia baru melayani empat pembeli dari Putra Jaya, Malaysia. Kain bordir kerancang sering dijadikan pakaian acara-acara resmi Datin Putra Jaya.

“Yang paling sering datang ke sini (pembeli luar negeri) dari Malaysia dan Singapura. Tadi setelah belanja baru mereka bilang mereka adalah Datin-datin dari Putra Jaya. Mereka datang kemari karena dapat informasi dari Datin-datin lain yang pernah datang sebelumnya,” ungkapnya.

Perlahan tapi pasti, hal-hal kecil yang dilakukan oleh Ida ternyata mampu membuat Sulaman Ambun Suri bertahan melewati ‘badai’ Covid-19. Kini Sulaman Ambun Suri memiliki 16 penjahit andal yang dilatih Ida sejak dulu. Enam di antaranya bekerja di rumah Ida, sedangkan sisanya bekerja di rumah masing-masing.

“Sebelum Covid lebih dari 20 orang penjahit kita, semua adalah perempuan di sekitar rumah dan di sekitar galeri. Saya ajarkan mereka dari awal sampai pandai. Sekarang tersisa 16 orang saja dan saya konsisten memberdayakan perempuan-perempuan di sekitar rumah dan galeri,” jelasnya.

Ajarkan Gen Z Menjahit Bordir Kerancang Gratis

Galeri Sulaman Ambun Suri Bukittinggi, Sumbar (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Dalam hal menemukan penjahit bordir kerancang andal, ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi Ida. Karena pada Zaman Now seperti saat ini sangat sulit menemukan anak muda yang mahir bordir kerancang.

Solusinya, ia rela memberikan pelatihan gratis pada Gen Z yang ingin belajar. Sehingga jika membutuhkan karyawan, Ida mudah mencari kandidat untuk direkrut. Mis besarnya, meneruskan generasi bordir keracang yang menjadi bagian dari budaya Sumatera Barat.

“Saya mau mengajari Anak-anak SMK atau yang baru tamat untuk belajar bordir kerancang agar mereka punya keahlian dan bisa membuka usaha sendiri. Kami akan membeli hasil kerajinan tangan mereka,” jelasnya.

Selain itu, Ida mengaku, ia sering menjadi pengajar praktisi di SMK-SMK jurusan busana untuk mengajakarkan tentang bordir kerancang. Baginya mengajarkan bordir kerancang bukan sekadar transformasi keahlian namun menjaga tradisi khas Sumatera Barat pada generasi penerus.

Hal ini merupakan pengejawantahan dari pepatah ‘Setitik jahitan mampu menyelamatkan sembilan jahitan lainnya’. Artinya hal baik yang dilakukan hari ini walau sekecil apapun bisa jadi akan melahirkan hal-hal baik yang lebih besar pada masa yang akan datang.

Ia berharap dengan pelatihan gratis, lebih banyak lagi anak muda yang mau belajar dan meneruskan tradisi bordir kerancang.

Berinovasi Dalam Motif

Ida Arleni, Pemilik Galeri Sulaman Ambun Suri Bukittinggi, Sumbar (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Selain berinovasi pada platform pemasaran, Ida Erlina juga kerap berinovasi dalam hal motif bordir kerancang. Hampir setiap hari perempuan berusia 50 tahun ini menggambar pola di atas kain dengan tangannya sendiri. Lalu menjahitnya sendiri atau diserahkan pada karyawannya.

Hampir pasti tak ada motif yang benar-benar sama diproduksi Sulaman Ambun Suri. Karena Ida menyadari ada pelanggan yang menginginkan eksklusifitas dalam berbusana.

“Pelanggan itu gak suka kalau motif dia sama dengan orang lain. Dengan harga per kain bisa mencapai Rp6 jutaan, bahkan jika sepaket dengan kain songket ada yang mencapai RP20 juta, mereka yang biasanya dari kelas menengah ke atas, apalagi Datin dari Malaysia, tentu gak mau kain mereka sama dengan orang lain. Bahkan jika datang kembali akan selalu pilih motif yang belum mereka punya. Jadi saya menggambar motif baru setiap hari,” ujarnya.

Meski motif baru, namun bordir kerancang tetap memiliki pakem tradisi yang harus dipertahankan.  Ada tiga jenis motif yaitu naturalis, dekoratif, dan geometris.

Motif naturalis berupa flora yaitu bunga mawar, melati, kamboja, anggrek, matahari, hingga kembang sepatu. Lalu ada motif daun, putik, dan rumput-rumputan serta motif fauna seperti burung cendrawasih, kupu-kupu, hingga capung.

Motif dekoratif merupakan perwujudan bentuk yang terdapat di alam kemudian di stilasi. Pada motif dekoratif ini lebih banyak bersifat menghias dimana irama, garis, titik, warna, bentuk dan susunan yang harmonis. Motif geometris merupakan pembagian bidang kain yang akan diberi motif bordir secara teratur.

Dalam menghasilkan produk bordir, kombinasi teknik yang digunakan yaitu border kerancang langsung dan bordir suji cair dengan gradasi warna tua hingga ke warna muda maupun kontras.

Jika satu motif ada yang tidak diminati, Ida tak merasa kecil hati. Ia akan tetap  berinovasi menghasilkan motif yang baru. Prinsipnya, tambah Ida, ‘tak perlu menyalahkan jarum’ jika hasil jahitannya tidak disukai orang lain. Namun manusia yang harus terus belajar menghasilkan jahitan baru yang lebih baik.

Tak hanya kain bahan pakaian, Sulaman Ambun Suri juga membuat jilbab, selendang dan perlengkapan atau lenan rumah tangga. Seperti taplak meja, tatakan gelas, sarung bantal kursi, seprai serta perlengkapan ibadah berupa mukena dan sajadah dengan harga mula Rp15 ribu.

Siska Hasibuan, Dosen Praktisi Ekonomi Kreatif di sejumlah perguruan tinggi di Sumut menjelaskan inovasi menjadi nadi UMKM. Menurutnya inovasi bukan berarti meninggalkan tradisi, melainkan menghadirkan pengembangan dan kreativitas baru yang tetap berpijak pada sumber tradisi yang jelas.

Inovasi, kata dia, sangat dibutuhkan agar pasar tidak jenuh atau bosan dengan desain atau produk yang sama bertahun-tahun.

“Inovasi dan kreativitas dalam produk UMKM justru menarik ketika kita dapat melihat bagaimana tradisi dikembangkan tanpa kehilangan akar identitasnya. Ada kebaruan tetapi tetap terasa sumber pijakannya. Ada kebebasan berekspresi tetapi tetap memiliki kualitas. Yang lebih penting adalah seberapa kuat inovasi tetap memiliki pijakan tradisi,” ungkap pengajar di Kampus USU dan UIN Sumut ini.

Penjahit Bordir Kerancang adalah Agen Penjaga Tradisi

Galeri Sulaman Ambun Suri Bukittinggi, Sumbar (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Raudha Thaib, Bundo Kanduang Sumatra barat bercerita kerajinan bordir menurut berbagai literasi dibawa oleh beberapa bekas tentara milik Gubernur Jenderal Stamford Rafless yang memerintah Bengkulu sejak Maret 1818.

Mereka berasal dari Kalkutta, India, dan memilih pergi ke Pariaman, Sumbar dibandingkan pulang ke negerinya setelah Rafless mengakhiri kekuasaannya di Sumatra pada 1822.

Kerajinan bordir di Sumbar mulai berkembang pada 1960 dan mencapai puncak kejayaannya pada era 1970-an hingga awal 1990. Salah satu produk kerajinan bordir Sumbar yang terkenal adalah kerancang.

Bordir kerancang terbilang unik karena berupa kreasi bordir halus dengan metode membentuk lubang-lubang pada wadah kain yang akan dibordir. Pada dasarnya semua bahan dasar kain bisa dijadikan wadah untuk dikerancang asalkan tidak menggunakan kain berbahan sutra asli. Ini disebabkan proses kerancang salah satunya dilakukan dengan cara meregangkan kain.

Jika kain yang dijadikan sebagai wadah kerancang terlalu lembut dan halus seperti sutra dikhawatirkan akan rusak dan tidak maksimal.

Bordir kerancang dijahit langsung pada wadah kain seperti mukena, kerudung, kebaya, baju kurung dan baju koko. Ada pula kain untuk alas meja, taplak piring atau gelas, dan sarung bantal. Bagian yang umumnya dikerancang adalah tepi atau bawah kain.

Motif kerancang biasanya terinspirasi dari alam seperti tumbuhan, hewan, kaligrafi, dan lainnya. Setidaknya ada 12 teknik kerancang yang diterapkan, di antaranya, kerancang kursi, pahat, silang, sapu, papan, dan kerancang potong. Dipadu dengan bordir bermotif indah seperti pucuak rabuang (pucuk rebung), itiak pulang patang (itik pulang petang), atau kaluak paku (lengkung pakis).

Warna yang dipakai adalah kombinasi kontras seperti merah dan kuning, biru dan merah, ungu dan merah muda. Ada juga kombinasi warna harmonis seperti kuning kehijauan, oranye kemerahan, ungu kebiruan serta kombinasi warna senada, misalnya, cokelat tua dan muda, hijau tua dan muda dan lain-lain.

“Hari ini memang gak mudah menemukan perempuan yang ahli bordir kerancang. Namun kita bersyukur masih bisa kita temukan di beberapa daerah di Sumbar ini bahkan sudah dijual hingga luar negeri. Mereka bukan sekadar perempuan penjahit, tapi menjadi agen pelestari kebudayaan Minang Kabau di kancah internasional,” ungkapnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article