Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cuaca Ekstrem, Sumut Petakan 6 Daerah Rawan Bencana

Kota Medan
Cuaca Ekstrem, Sumut Petakan 6 Daerah Rawan Bencana
Warga memindahkan barang dari rumah yang terdampak banjir di Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sabtu (20/12/2025). (IDN Times/Prayugo Utomo)
  • Pemprov Sumut memperkuat mitigasi bencana di enam daerah rawan sepanjang 2026.
  • BPBD Sumut melatih warga mengenali ancaman, menentukan jalur evakuasi, dan melakukan evakuasi mandiri.
  • Cuaca ekstrem menjadi kejadian bencana terbanyak di Sumut pada periode 1 Januari hingga 4 September 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menurutmu, mana yang paling penting saat mitigasi bencana?
Share Article

Medan, IDN Times — Pemerintah Provinsi Sumatra Utara (Pemprov Sumut) mulai memperkuat mitigasi di enam daerah yang dinilai memiliki kerawanan bencana sepanjang 2026.

Enam wilayah tersebut yakni Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Kota Tanjungbalai, Kabupaten Samosir, Kabupaten Deliserdang, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), dan Kabupaten Toba. Hingga September 2026, kegiatan mitigasi telah dilakukan di Tapteng dan Tanjungbalai.

  1. 1. Warga dilatih supaya bisa evakuasi secara mandiri

    WhatsApp Image 2025-12-22 at 6.44.30 PM (2).jpeg
    Potret udara Desa Hutanobolon, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah pasca dihantam banjir bandang, Sabtu (20/12/2025). (IDN Times/Prayugo Utomo)

    Manutur mengatakan salah satu fokus mitigasi adalah mengajarkan masyarakat mengenali ancaman bencana sekaligus menentukan jalur dan lokasi evakuasi. Dengan begitu, warga tidak hanya menunggu bantuan ketika situasi darurat terjadi.

    "Kita latih dan mengajari mereka membuat jalur evakuasi. Tujuannya untuk mendidik masyarakat agar mampu mengevakuasi mandiri, mengenalkan bencana dan menyiapkan diri ke lokasi mana mereka akan dievakuasi," ucapnya.

    Menurutnya, kemampuan evakuasi mandiri menjadi bagian penting dalam kesiapsiagaan masyarakat. Terlebih, setiap wilayah memiliki karakteristik ancaman yang berbeda sehingga warga perlu memahami risiko di lingkungan tempat tinggal mereka.

    Selain pelatihan, BPBD juga melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat di kawasan rawan bencana. Kegiatan tersebut dilakukan melalui penyuluhan untuk meningkatkan pemahaman mengenai ancaman serta langkah yang perlu dilakukan ketika bencana terjadi.

  2. 2. Peta rawan banjir hingga gempa jadi bagian mitigasi

    WhatsApp Image 2025-12-22 at 6.44.30 PM.jpeg
    Warga membawa hasil pertanian melintasi Desa Hutanobolon pasca banjir menghantam kawasan itu, Sabtu (20/12/2025). (IDN Times/Prayugo Utomo)

    Mitigasi yang dilakukan BPBD Sumut juga mencakup pemetaan kawasan yang memiliki potensi bencana. Pemetaan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi geografis wilayah untuk mengetahui daerah yang berisiko terdampak banjir, longsor, hingga gempa bumi.

    Pemetaan tersebut menjadi salah satu dasar untuk menentukan langkah kesiapsiagaan. Masyarakat juga diberikan simulasi dan pelatihan, termasuk latihan evakuasi mandiri serta uji coba alat peringatan dini atau Early Warning System (EWS).

    Selain itu, BPBD mendorong penyusunan tata ruang yang mempertimbangkan risiko bencana. Langkah ini penting agar pembangunan dan pengembangan wilayah tidak mengabaikan potensi ancaman yang ada.

  3. 3. Cuaca ekstrem paling sering terjadi di Sumut

    DSC_8265-55.jpg
    Potret seorang anak ikut membersihkan masjid pasca diterjang banjir, Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Kamis (11/12/2025). (IDN Times/Prayugo Utomo)

    Kepala BPBD Sumut Tuahta Ramajaya Saragih mengatakan Sumut menghadapi 14 jenis kejadian bencana. Berdasarkan data periode 1 Januari hingga 4 September 2026, cuaca ekstrem menjadi kejadian yang paling banyak tercatat.

    Sepanjang periode tersebut terdapat 127 kejadian cuaca ekstrem. Setelah itu, tercatat 86 kejadian tanah longsor, 73 kejadian banjir, dan 47 kejadian kebakaran hutan.

    "Program mitigasi adalah bagaimana cara kita untuk memenage persiapan sebelum terjadinya bencana. BPBD memiliki tiga tahap pekerjaan yakni persiapan, tanggap darurat dan pasca bencana," ujarnya.

    Tuahta mengatakan upaya sebelum bencana dilakukan melalui Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada pelajar dan masyarakat. BPBD juga menyiapkan sejumlah dokumen sebagai pedoman menghadapi potensi bencana.

    "Kami menyusun Kajian Risiko Bencana (KRB), Rencana Penanggulangan Bencana (RPB), serta Rencana Kontinjensi (Renkon). Renkon karhutla dan gempa bumi sudah berjalan, dan saat ini kami sedang menyiapkan Renkon untuk bencana banjir," kata Tuahta.

    Untuk memperluas edukasi, BPBD Sumut juga membuka ruang bagi organisasi maupun kelompok masyarakat yang ingin belajar mengenai evakuasi dan kesiapsiagaan bencana di kantor BPBD Sumut.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More