Merantau Ke Medan, Siap-siap Mengalami 5 Culture Shock Ini

Kota Medan dikenal sebagai salah satu kota terbesar yang ada di pulau Sumatra. Oleh karenanya, kota ini mempunyai pesona tersendiri bagi para perantau. Entah itu dari mahasiswa baru, pekerja, hingga pencari peluang bisnis berdatangan untuk memulai kehidupan baru di Kota Agak Laen ini.
Akan tetapi, setiap perantau pasti memiliki tantangan tersendiri beradaptasi dengan kota baru. Khusunya Medan, dengan gaya hidup, intonasi bicara, hingga istilah lokalnya sering kali bikin anak rantau geleng-geleng kepala. Buat kamu yang sedang merantau di Medan, pasti pernah mengalami culture shock berikut!
1. Logat yang tegas

Suasana kota medan (pexels/Man Fong Wong) Banyak perantau yang terkejut ketika melihat orang Medan berbicara pertama kali, khususnya para perantau yang datang dari jawa yang terbiasa berkomunikasi soft spoken. Orang Medan terkenal dengan intonasi suaranya yang tinggi, tegas, dan cepat, sehingga sering dikira sedang marah oleh orang luar daerah.
Padahal, logat yang terdengar 'ngegas' ini adalah ekspresi keakraban dan keterbukaan yang sudah menjadi karakter khas. Semakin lama kamu tinggal di Medan, pasti akhirnya kamu paham bahwa maksud mereka ramah dan baik. Seperti buah "Durian" ya, tajam diluar lembut di dalam!
2. Istilah angkutan umum yang unik

Ibu dan dua anak di dalam angkutan umum (pexels/Man Fong Wong) Pasti kamu pernah keliru saat naik angkutan kota (angkot) di Medan. Sangat umum angkutan kota (angkot) di Medan dianggap sebagai pilihan transportasi yang cepat dan murah. Angkot Medan disertai dengan nomor yang cukup beragam. Nomor nomor tersebut menunjukkan rute yang akan dituju, seperti angkot 103 yang rutenya mulai dari Lapangan Merdeka Medan-Unimed.
Menariknya, jika kamu ingin berhenti dari angkot, ungkapan yang digunakan bukanlah "berhenti, Bang", melainkan "kiri, Bang" atau "kiri saja". Sudah pernah mengalaminya?
3. Bahasa lokal yang gaul dan membingungkan

Tongkrongan anak medan (Galeri Pribadi) Anak Medan tetap menggunakan bahasa Indonesia sehari sehari-hari, akan tetapi Medan memiliki beragam kosakata lokal yang unik dan tidak akan kamu temukan di Kota lain.
Beberapa istilah umum yang yang ada di Medan antara lain kereta untuk sebutan sepeda motor, motor untuk menyebut mobil, pasar untuk merujuk pada jalan raya, dan pajak untuk menyebut pasar tradisional. "jalan-jalan ke pajak naik kereta" Ada yang tahu maknanya?
4. Standar makanan yang didominasi pedas dan gurih

Mie balap seafood (instagram.com/makanmana) Tidak hanya Medan, hampir seluruh makanan yang ada di pulau Sumatra tidak akan relate dengan kamu yang pecinta masakan manis. Mayoritas masakan di Kota Medan banyak didominasi oleh rempah yang kuat, rasa gurih, dan tingkat kepedasan yang lumayan tajam.
Seperti halnya menu sarapan sederhana seperti lontong Medan, nasi gurih, hingga mi balap, semuanya disajikan dengan rasa rempah yang mantap. Tapi tenang saja, begitu lidahmu terbiasa, kamu bakalan rindu dengan kuliner Medan saat pulang ke kampung halaman!
5. Panggilan sapaan yang khas

Suasana kota medan (pexels/Mike Panton) Kota Medan dipenuhi dengan keberagaman budaya yang beragam seperti batak, jawa, melayu, dan lain-lain yang hidup berdampingan. Oleh karena itu, panggilan sapaan tercipta dari keberagaman budaya tersebut.
Kamu bakal sering mendengar sebutan Lae atau Lek untuk menyapa kawan laki-laki sebaya, yang umum dilakukan di bahasa batak. Serta Cek atau Kak/Bang untuk sapaan umum yang sopan. Memahami dan mulai memakai sapaan lokal ini bakal bikin kamu cepat akrab dengan warga setempat!
Meskipun pada awalnya terasa membingungkan, dinamika dan keunikan budaya di Medan justru menjadi pengalaman merantau yang sangat berkesan. Kunci utamanya adalah tetap berpikiran terbuka dan menikmati setiap proses adaptasinya.
Jika kamu pernah mengalami salah satu hal diatas, mana yang bikin kamu shock untuk pertama kalinya?



















