Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kabut Asap Tingkatkan Risiko ISPA pada Anak, Ini Cara Mencegahnya

Kota Medan
3 min read
Kabut Asap Tingkatkan Risiko ISPA pada Anak, Ini Cara Mencegahnya
Ilustrasi Anak penyakit ISPA. (IDN Times/Anjani Asra)
  • Kabut asap mengiritasi saluran napas dan meningkatkan kerentanan ISPA, terutama pada anak karena saluran napas lebih kecil, napas lebih cepat, serta sistem imun belum sekuat orang dewasa.

  • Orang tua dianjurkan membatasi aktivitas luar, menjaga rumah dari asap, menghindari polusi dalam ruangan, memenuhi kebutuhan istirahat dan gizi, serta melengkapi imunisasi anak.

  • Masker N95/KN95 lebih efektif untuk anak besar dan dewasa, sedangkan bayi di bawah dua tahun tidak dianjurkan memakai masker; segera ke dokter bila muncul sesak atau tanda bahaya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times - Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah dapat meningkatkan risiko gangguan saluran napas, terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada anak.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumatera Utara, Dr. Rizky Adriansyah, menjelaskan bahwa kabut asap tidak selalu langsung menyebabkan infeksi, tetapi dapat membuat saluran napas lebih sensitif dan daya tahan lokal menurun.

"Kabut asap dapat mengiritasi saluran napas, terutama pada anak-anak, bayi, lansia, ibu hamil, dan orang dengan asma atau penyakit paru," ujar Dr. Rizky.

Menurutnya, anak-anak menjadi kelompok paling rentan. Saluran napas yang lebih kecil, frekuensi napas yang lebih cepat, dan sistem imun yang belum sekuat orang dewasa membuat anak lebih mudah batuk, pilek, sesak, atau penyakit napas yang sudah ada seperti asma menjadi kambuh.

  1. 1. Cara menghindari ISPA saat kabut asap

    ilustrasi ISPA pada anak (pexels.com/Andrea Piacquadio)
    ilustrasi ISPA pada anak (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Dr. Rizky membagikan sejumlah langkah pencegahan yang bisa dilakukan orang tua:

    1. Kurangi aktivitas di luar rumah, terutama saat kualitas udara sedang buruk.

    2. Tutup jendela dan pintu agar asap tidak masuk ke dalam rumah.

    3. Jika memungkinkan, gunakan air purifier dengan filter HEPA di ruangan anak.

    4. Hindari aktivitas fisik berat di luar rumah karena membuat anak menghirup lebih banyak partikel asap.

    5. Jangan menambah polusi di dalam rumah, seperti asap rokok, bakar sampah, obat nyamuk bakar, atau memasak tanpa ventilasi yang baik.

    6. Pastikan anak cukup minum, makan bergizi, dan tidur cukup.

    7. Biasakan cuci tangan karena ISPA juga sering disebabkan virus yang menular lewat tangan dan droplet.

    8. Lengkapi imunisasi anak sesuai usia. Pada kondisi tertentu, vaksin influenza atau pneumokokus juga dapat dipertimbangkan sesuai anjuran dokter.

  2. 2. Aturan penggunaan masker

    ilustrasi seseorang terkena ISPA (pexels.com/Polina Tankilevitch)
    ilustrasi seseorang terkena ISPA (pexels.com/Polina Tankilevitch)

    Untuk orang dewasa dan anak yang lebih besar, masker N95/KN95 yang pas di wajah lebih efektif menyaring partikel asap. Masker bedah atau masker kain kurang efektif untuk partikel halus kabut asap, tetapi masih dapat membantu mengurangi paparan droplet.

    "Pada bayi dan anak di bawah usia 2 tahun, masker tidak dianjurkan karena berisiko mengganggu pernapasan. Bila anak tampak tidak nyaman, sesak, atau sulit bernapas saat memakai masker, segera lepas dan bawa ke tempat dengan udara lebih bersih," jelasnya.

  3. 3. Kenali ciri-ciri ISPA

    Ilustrasi anak menderita ISPA. ANTARA FOTO/FB Anggoro
    Ilustrasi anak menderita ISPA. ANTARA FOTO/FB Anggoro

    Orang tua diminta mengenali gejala awal ISPA, seperti batuk, pilek, hidung tersumbat, bersin, demam, nyeri tenggorokan, suara serak, anak tampak lemas, rewel, atau nafsu makan menurun.

    Pada sebagian anak bisa muncul napas berbunyi atau mengi, napas cepat, atau sesak. Pada bayi, tandanya bisa lebih halus, seperti malas menyusu, tampak lemas, rewel terus, atau napas terlihat berat.

    Dr. Rizky menegaskan, segera periksa ke dokter atau IGD bila ada tanda bahaya:

    - Anak sesak napas atau napas sangat cepat.

    - Tampak tarikan dinding dada, cuping hidung kembang-kempis, atau anak sulit bicara atau menangis karena sesak.

    - Bibir atau ujung jari tampak kebiruan.

    - Demam tinggi menetap lebih dari 3 hari.

    - Anak sangat lemas, mengantuk terus, kejang, atau sulit dibangunkan.

    - Bayi malas minum atau menyusu, muntah terus, atau tanda dehidrasi seperti jarang buang air kecil.

    - Batuk makin berat, mengi, atau anak punya riwayat asma, penyakit jantung, atau penyakit paru.

    "Intinya, saat kabut asap, yang paling penting adalah mengurangi paparan asap, menjaga kualitas udara di dalam rumah, menjaga daya tahan tubuh, dan segera mencari pertolongan bila anak mulai menunjukkan tanda sesak atau tampak memburuk," pungkas Dr. Rizky Adriansyah.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More