Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Keluarga Tolak Hasil Autopsi Kematian Dokter PPDS di Siak Riau
Ilustrasi meninggal (IDN Times/Mia Amalia)
  • Dokter PPDS ACL ditemukan meninggal dekat RSUD Tengku Rafian Siak; polisi menyimpulkan bunuh diri dengan rocuronium bromide, dikaitkan dengan tekanan psikologis, finansial, pendidikan, dan keluarga.
  • Istri korban menyoroti sejumlah CCTV rumah sakit serta CCTV sekitar yang tidak berfungsi pada periode krusial, setelah ACL terakhir terlihat masuk lalu keluar dari kawasan RSUD.
  • Keluarga menolak autopsi polisi karena menduga ada kejanggalan pada luka dan lokasi; mereka mengupayakan ekshumasi independen USU serta melapor ke Propam Mabes Polri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Siak, IDN Times - Kematian dokter ACL di Siak, Provinsi Riau masih menyisakan tanda tanya oleh pihak keluarganya, terutama sang istri dr Yuliati Marbun. Meski pihak kepolisian sudah menyatakan bahwa dokter itu meninggal karena bunuh diri, namun sang istri belum bisa menerimanya.

Adapun yang dipermasalahkan sang istri terkait rangkaian peristiwa kematiannya. Hal itu terkait dengan kondisi kamera pengawas atau CCTV di sejumlah titik RSUD Tengku Rafian Siak, Provinsi Riau, yang tidak berfungsi tepat saat sang suami hilang.

Untuk diketahui, korban sedang menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi di RSUD Tengku Rafian Siak. Dia ditemukan sudah tidak bernyawa dalam posisi terlentang di semak belukar yang hanya berjarak 5 meter dari pagar tembok rumah sakit tersebut.

Oleh pihak kepolisian menyimpulkan, korban meninggal karena bunuh diri dengan cara menyuntikkan obat rocuronium bromide ke tubuhnya sendiri. Yang mana, obat tersebut berefek kelumpuhan total pada otot pernafasan, sehingga mengalami mati lemas atau asfiksia.

Dari hasil pemeriksaan psikologi forensik, ACL diduga mengalami tekanan psikologis yang dipicu oleh akumulasi berbagai persoalan. Antara lain tekanan finansial, beban pendidikan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) serta tanggung jawab keluarga. Kemudian juga ditemukan riwayat keluhan mengenai utang pinjaman online dan indikasi aktivitas penggunaan uang yang berlebihan untuk suatu kegiatan.

1. Ini cerita sang istri

Ilustrasi jenazah (IDN Times/Mardya Shakti)

Menurut dr Yuliati, pada Selasa (14/7/2026), suaminya baru saja pulang dari rumah sakit setelah menyelesaikan operasi. Sesampainya di rumah, mereka masih sempat makan bersama dan berbincang sekitar 20 menit.

Lalu pada pukul 17.35 WIB, korbanberpamitan kembali ke RSUD Siak untuk melakukan kegiatan freepop, yakni memeriksa pasien yang dijadwalkan akan menjalani operasi keesokan harinya.

"Beliau bilang paling lama dua jam. Saya cuma bilang hati-hati. Dia jawab, 'ya sudah, tunggu saja saya di sini'," ucap dr Yuliati menceritakan.

Namun hingga malam hari, sang suami tak kunjung kembali. Pesan WhatsApp yang dikirim istrinya hanya berstatus aktif tanpa balasan. Sementara panggilan telepon juga tidak diangkat.

Kekhawatiran semakin bertambah ketika sekitar pukul 20.00 WIB seorang dokter senior menghubungi dr Yuliati untuk menanyakan keberadaan suaminya, karena ada pasien yang harus segera dioperasi.

Merasa ada yang tidak beres, ia langsung menuju ke rumah sakit dan mencari suaminya ke berbagai ruangan, sambil terus mencoba menghubungi nomor telepon suaminya.

"Biasanya suami saya kalau ditelepon pasti angkat, karena dia selalu memakai headset. Sesibuk apa pun beliau pasti menjawab," ujarnya.

Sekitar pukul 21.00 WIB, telepon genggam sudah tidak aktif. Karena panik, dr Yuliati meminta bantuan petugas keamanan untuk membuka rekaman CCTV rumah sakit. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan korban memang memasuki kawasan rumah sakit sekitar pukul 17.46 WIB.

"Di CCTV terlihat suami saya masuk area rumah sakit masih memakai seluruh atributnya. Masih memakai jas dokter, tas sandang, headset, semuanya masih lengkap," sebutnya.

Namun setelah rekaman tersebut, petugas CCTV menyampaikan bahwa kamera di jalur berikutnya tidak berfungsi.

"Tapi setelah itu tidak ada CCTV lanjutan. Kata petugas CCTV, di daerah situ mati," ungkap dr Yuliati.

Tak lama kemudian, seorang dokter pembimbing datang dan meminta petugas keamanan mencari dr Alex di salah satu gedung rumah sakit.

"Beliau bilang, 'pergilah cari ke gedung sana, ketiduran dia itu'. Tapi saya bilang rasanya tidak mungkin karena dari rumah beliau tidak mengeluh mengantuk," ujarnya lagi.

Di tengah pencarian, adik korban mengirimkan titik lokasi terakhir telepon seluler korban yang hanya berjarak sekitar 200 hingga 300 meter dari rumah sakit.

"Saya langsung lari ke lokasi itu. Tapi karena daerahnya semak-semak seperti hutan, saya tidak berani masuk sendirian," ucapnya.

Setelah kembali ke rumah sakit dan meminta bantuan, dua petugas keamanan dikirim menuju lokasi tersebut. Sementara itu, dr Yuliati kembali memeriksa rekaman CCTV.

Pada pemeriksaan kedua, ia menemukan rekaman lain yang memperlihatkan suaminya keluar dari area rumah sakit sekitar pukul 18.03 WIB.

"Di jam 18.03 WIB suami saya ada keluar, tapi tanpa jas dokter lagi. Tasnya masih disandang. Beliau berjalan menuju gerbang keluar, belok ke kiri, lalu setelah itu CCTV tidak ada lagi," terangnya.

Saat itu dr Yuliati kembali mempertanyakan keberadaan kamera pengawas lain yang mengarah ke jalur tersebut.

"Saya tanya sama satpam, 'ada lagi gak CCTV yang mengarah ke sana'. Satpam bilang, 'gak ada buk, CCTV kita cuma sampai di sini saja. Yang lainnya mati karena sedang perbaikan'," tutur dr Yuliati.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu bagian yang paling disoroti keluarga karena jalur yang dilalui dr Alex setelah keluar rumah sakit tidak lagi terekam kamera pengawas.

Pencarian terus dilakukan hingga dini hari. Bersama keluarga, dr Yuliati menyisir lokasi titik terakhir telepon seluler korban sampai hari Rabu (15/7/2026) sekitar pukul 02.00 WIB.

Di sekitar lokasi, terdapat rumah kos milik seorang dokter yang memiliki CCTV menghadap ke jalan. Namun saat itu pemilik rumah belum dapat dihubungi karena sudah larut malam. Paginya sekitar pukul 06.00 WIB, mereka akhirnya mendapat kesempatan memeriksa CCTV milik dokter tersebut. Namun hasilnya kembali mengejutkan.

"Ternyata CCTV-nya mati dari tanggal 13 Juli pukul 12.41 WIB sampai tanggal 14 Juli subuh," kata dr Yuliati.

Ia mengaku sempat mempertanyakan kondisi tersebut kepada pemilik rumah.

"Saya tanya, 'kenapa CCTV-nya mati ya, kok'. Beliau menjawab, 'saya juga tidak tahu, biasanya CCTV saya tidak pernah seperti ini'," kata dr Yuliati.

Karena rekaman itu juga tidak dapat memberikan petunjuk, keluarga kembali ke rumah sakit untuk melanjutkan pencarian hingga dr Alex ditemukan meninggal dunia diluar tembok tak jauh dari rumah sakit terseburban

2. Tak terima hasil kesimpulan polisi

Tim advokasi keluarga korban, Freddy Simanjuntak (IDN Times/ istimewa)

Sementara itu, tim advokasi keluarga korban, Freddy Simanjuntak mengatakan, pihak keluarga korban menolak hasil autopsi yang dilakukan pihak kepolisian dari Polres Siak. Menurut Freddy, penolakan hasil autopsi tersebut sangat beralasan hukum.

"Sebab banyak terdapat kejanggalan yang patut diduga korban mati tidak wajar," kata Freddy.

Berikut ini alasan pihak keluarga yang menolak hasil autopsi pihak kepolisian.

  • Pada kepala bagian belakang ditemukan darah dan juga disekitar TKP yaitu di dedaunan didekat kepala juga berserakan darah dan sampel sampah yang ada darah tersebut saat ini ada pada isteri korban yang juga berprofesi sebagai dokter

  • Bagian leher dekat kepala sebelah kanan korban ada lubang yang diduga akibat tusukan benda tajam

  • Bagian leher korban terdapat goresan memar yang diduga akibat jeratan tali

  • Di kedua pergelangan tangan dan perut korban terdapat bintik hitam berlubang-lubang yang tidak ada dimasa hidupnya

  • Tiga kali dilakukan cek pos, tanggal 13 Juli dan 14 Juli 2026, posisi handphone korban berada diseberang gedung RSUD Tengku Rafian, yaitu diseberang gedung RSUD Tengku Rafian. Sementara posisi ditemukan jasad korban persis disamping tembok RSUD Tengku Rafian

  • Di dalam percakapan anggota group PPDS Anestesi ditemukan percakapan dr Mayang yang mengatakan, 'teman kalian ini (korban) hilang dari pukul 5 (sore), nggak tahu apa masih hidup atau nggak'. Kemudian dr Fajar mengatakan 'coba cari disemak-semak belakang mess, mungkin ketiduran, atau di kandang bebek seberang rumah'. Artinya percakapan kedua orang dokter ini bersesuaian dengan kematian korban

  • Masalah ekonomi keluarga korban tidak pernah bermasalah dengan uang, sebab latar belakang keluarga korban maupun istrinya berasal dari keluarga mampu dan berkecukupan

  • Hubungan suami isteri sangat harmonis dan tidak ada masalah

  • Masalah PPDS Anestesi yang sedang diikuti korban berjalan lancar dan tidak ada masalah

  • Setelah kejadian penemuan jasat korban, kemudian dr Mayang tak lagi mengikuti program magang di RSUD tersebut.

3. Lakukan ekshumasi dengan tim forensik independen dari USU

foto Universitas Sumatera Utara (youtube.com/Universitas Sumatera Utara)

Atas penolakan hasil autopsi yang dilakukan Polres Siak, pihak keluarga melakukan langkah untuk mencari keadilan. Berikut ini langkah yang akan dilakukan pihak keluarga.

Mereka berencana melakukan autopsi/ ekshumasi ulang terhadap jasad korban dengan tim forensik yang independen yaitu tim forensik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) melalui Polda Riau. Pihak keluarga juga berkoordinasi dengan penyidik Polri dan menghadirkan saksi-saksi dan penyerahan alatbukti tambahan

Selain itu keluarga korban bersama tim advokasi direncanakan akan melaporkan jajaran Polda Riau dan Polres Siak ke divisi Propam Mabes Polri terkait tidak profesionalnya penyidik dalam penanganan perkara dugaan tindak Pidana pembunuhan berencana. Keluarga korban dan tim advokasi akan terus didampingi tenaga ahli forensik dari Fakultas Kedokteran USU.

Editorial Team

Related Article