ACEH TAMIANG, IDN Times - Ketika sebagian besar orang memilih menikmati ketenangan akhir pekan bersama keluarga, langkah kaki Andi Surianto Sinurat berderap tegas menuju area operasional PT Pertamina EP (PEP) Rantau Field, 25 Oktober 2025. Dengan binar semangat yang membakar rasa lelahnya pada Sabtu sore itu, Andi rela mengorbankan waktu istirahatnya untuk menemui jurnalis IDN Times.
Ia antusias memaparkan kelahiran Ultimate Sand Trap (USAT). Ibarat mahakarya perangkap pasir berbiaya hemat yang kini berhasil memaksa ancaman kepasiran berlutut dan bertekuk lutut di Rantau Field, Kabupaten Aceh Tamiang.
Sejak beberapa bulan terakhir, benak Petroleum Engineer ini begitu terusik dan tak bisa berhenti memikirkan cara membebaskan sumur-sumur minyak tua yang tengah merintih kedinginan akibat cengkeraman lumpur dan pasir tajam di kedalaman perut bumi.
Masalah kepasiran tercatat menjadi benalu utama operasional Rantau Field dengan menyumbang sekitar 65 persen dari seluruh kendala pengeboran. Pasir yang terikut dalam aliran fluida sering kali melahap keandalan pompa Electric Submersible Pump (ESP) dan memicu hentian produksi atau Loss Production Opportunity (LPO).
"USAT fokus pada penyelesaian masalah kepasiran yang mengakibatkan LPO produksi minyak dan gas di PEP Rantau, dengan fokus utama pada sumur dengan Artificial Lift ESP. Fungsi utamanya menahan pasir yang mengalami fallback agar tidak jatuh atau merusak pompa," terang Andi sambil membenarkan letak kacamatanya.
Ia sadar, waktu dan usia mulai menggerogoti keandalan sumur-sumur migas matang di Rantau Field. Namun ia dan tim perwira PT Pertamina EP menolak untuk menyerah pada keadaan. Dahaga pasir di dalam sumur yang selama ini melumpuhkan pompa pengeboran dan mencuri potensi produksi minyak bumi, kini berhasil diredam oleh alat penyelamat bernama USAT.
Inovasi perangkap pasir yang dibidani langsung oleh Andi Sunirat ini tak sekadar melumpuhkan hambatan teknis yang menghantuinya selama bertahun-tahun, tetapi juga berhasil menyelamatkan nilai produksi hingga puluhan miliar rupiah.
Melalui sentuhan inovasi USAT, ancaman pasir yang menjadi hantu bagi efisiensi produksi migas berhasil diredam. Alat sederhana namun berdaya guna tinggi ini terbukti mampu memulihkan keandalan operasional sekaligus memberikan nilai tambah bagi Pertamina EP Rantau.