Hasil Evaluasi, SMPN 23 Medan akan Siapkan Try Out hingga Buku Khusus

- SMPN 23 Medan menyiapkan try out dan buku khusus bagi seluruh siswa sebagai persiapan menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang pertama kali dilaksanakan tahun ini.
- TKA tingkat SMP menguji kemampuan literasi Bahasa Indonesia dan numerasi Matematika dengan soal berbasis analisis atau High Order Thinking Skills (HOTS).
- Pelaksanaan TKA sempat terkendala listrik padam dan jaringan, namun berjalan lancar; ujian ini bukan penentu kelulusan, melainkan evaluasi kemampuan siswa dan guru.
Medan, IDN Times - Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) tidak hanya menjadi ajang mengukur kemampuan siswa, tetapi juga evaluasi bagi guru dan sekolah. Hal itu disampaikan oleh Kepala SMP Negeri 23 Medan, Sarifah H Sipahutar.
Sarifah mengatakan, untuk menghadapi ujian ini, pihaknya bahkan telah melakukan try out hingga membagikan buku khusus bagi seluruh siswa untuk membantu mereka dalam menghadapi ujian. Menurutnya, TKA tidak semata-mata mengukur kemampuan peserta didik, tetapi juga menjadi cerminan kualitas pembelajaran di sekolah.
“Sebenarnya TKA ini tidak mengukur anak-anak saja, tapi kami juga guru sejauh mana, nanti hasilnya akan kelihatan,” ujarnya, pada Kamis (16/4/2026).
1. TKA merupakan tahun pertama dilaksanakan

Lanjutnya, sebagai bentuk kesiapan menghadapi TKA yang merupakan tahun pertama dilaksanakan, sekolah telah melakukan berbagai persiapan sejak satu hingga dua bulan sebelumnya.
“Persiapannya ini kami buat try out, ada dua kali try out secara manual kami buat. Kemudian guru-gurunya dibekali, kita sediakan juga buku TKA, satu anak satu buku,” katanya.
2. Pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia menjadi materi pada TKA tingkat SMP

Sarifah menjelaskan, materi yang diujikan pada TKA tingkat SMP meliputi matematika (numerasi) dan bahasa Indonesia (literasi). Guru juga diarahkan untuk menyusun soal berbasis kemampuan analisis atau High Order Thinking Skills (HOTS).
Saat ini, pelaksanaan TKA di SMP Negeri 23 Medan telah memasuki hari keempat gelombang kedua. Sebelumnya, gelombang pertama dilaksanakan pada 6 hingga 9 April dengan empat sesi setiap harinya. Dari total 341 siswa, sebanyak 340 mengikuti ujian, sementara satu siswa tidak ikut karena orang tua tidak menyetujui meski telah dilakukan sosialisasi.
Sarifah mengatakan bahwa hal ini tidak akan menjadi masalah ataupun berdampak bagi siswa tersebut, karena TKA memang bukan penentu kelulusan siswa. Ia menyebut ujian ini lebih kepada tes kemampuan yang dapat dimanfaatkan untuk jalur prestasi saat melanjutkan pendidikan.
“Nggak jadi masalah. Ini kan untuk tes kemampuan. Kan penentu kelulusan bukan ini. Bukan UN seperti dulu,” tuturnya.
3. Siswa sempat merasakan ketegangan dalam menghadapi TKA

Dia juga menjelaskan, siswa sempat merasakan ketegangan dalam menghadapi TKA, meski tetap menunjukkan semangat. Pihak sekolah pun telah mengingatkan agar siswa tidak terbebani, namun tetap mempersiapkan diri dengan baik.
“Tapi kita juga menyatakan sebenarnya ini bukan penentu kelulusan jadi jangan ada beban yang berat tapi harus siap,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, Sarifah menyebut sempat terjadi kendala teknis seperti listrik padam dan gangguan jaringan di hari pertama. Namun, kondisi tersebut dapat segera diatasi sehingga pelaksanaan TKA tetap berjalan lancar.
“Yang waktu mati lampu langsung cepat tertangani, bisa langsung nyambung lagi. Hari pertama itu biasa nge-lag, tapi selanjutnya nggak ada masalah lagi,” katanya.
Sarifah berharap TKA dapat mendorong peningkatan kemampuan literasi dan numerasi siswa. “Dan harapannya mereka juga mendapatkan nilai-nilai yang bagus bisa melanjutkan, kalau mereka mau melanjutkan ke SMA SMK jalur prestasi, bisa bersaing dengan kawan-kawannya di luar sana. Ya kita berharap apa yang mereka cita-citakan itu kan bisa tercapai,” kata Sarifah.


















