Langkat, IDN Times - Pagi itu, udara terasa sejuk saat hujan rintik-rintik turun di pesisir Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Suara perahu kecil hilir mudik melintasi sungai, pada desa yang sebagian besar warganya hidup dari laut dan tambak itu, mangrove mulai tumbuh di sepanjang tepian sungai.
Kondisi ini mungkin tampak seperti hal yang lumrah di area pesisir. Namun, tidak halnya dengan Desa Pasar Rawa. Beberapa tahun lalu, nelayan tidak lagi mengandalkan sumber penghidupan dari ikan. Mereka justru menebang mangrove untuk dijadikan arang; cara mudah untuk mendapatkan uang.
Tanpa disadari, perlahan alam kehilangan keseimbangan. Benteng alami pesisir Pasar Rawa mengalami keruntuhan. Air mengeruh, tangkapan ikan semakin hari semakin berkurang. Kondisi ini menyebabkan nelayan tersudut dan kesulitan.
Lambat laun, nelayan merapat mencari ikan ke area Single Point Mooring (SPM), tempat pengapalan produksi milik Pertamina EP Pangkalan Susu. Struktur SPM menjadi area biofouling tempat menempal biota laut seperti plankton dan menjadi serupa karang buatan (artificial reef) tempat ikan hidup, mencari makan dan berlindung dari ombak.
Nelayan tidak memahami potensi bahaya besar mengancam dengan mencari ikan di sekitar SPM. Belum lagi, aktivitas membuat arang di dapur-dapur arang juga berpotensi menjadi titik api atau hot spot yang berbahaya bagi masyarakat dan juga aktivitas Produksi Migas Pertamina EP Pangkalan Susu.
Kasto Wahyudi, seorang mantan pembalak mangrove, yang pertama kali menyadari kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan terus menerus. Pria yang akrab disapa Yudi ini akhirnya sadar, mangrove adalah surga ekosistem pesisir yang bisa menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Ia memperhatikan satu persatu bibit di setiap bedeng yang ditanam beberapa waktu lalu. Yudi paham, mangrove bukan sekedar vegetasi yang tumbuh di sela rawa. Akar-akar bakau menjadi benteng alami dari abrasi sekaligus rumah tempat ikan dan kepiting berkembang biak, serta penopang kehidupan masyarakat desa.
"Kepiting dan ikan-ikan hidup di sini, masyarakat tinggal mengambil saja tanpa harus merusak alam," ujarnya.
