Evaluasi Rawa Singkil: Status Aman, Fungsi Lebih Penting dari Status

- Evaluasi di Subulussalam menegaskan pentingnya fungsi ekologis SM Rawa Singkil, bukan hanya status hukumnya, dalam menjaga habitat satwa, tata air gambut, dan manfaat bagi masyarakat.
- Luas kawasan menyusut menjadi sekitar 81.852 hektare, membuat beban ekologis meningkat di tengah ancaman pembukaan kanal, kebakaran, serta pengeringan gambut yang memperparah kerusakan lingkungan.
- Masyarakat sekitar dipandang sebagai mitra pelestarian melalui penguatan ekonomi berbasis gambut dan aturan pemanfaatan yang adil agar fungsi ekologis Rawa Singkil tetap terjaga.
Medan, IDN Times - Masa depan Suaka Margasatwa (SM) Rawa Singkil menjadi sorotan dalam pertemuan para pemangku kepentingan di Subulussalam, 10 Juli 2026. Forum bertajuk evaluasi kesesuaian fungsi itu tak sekadar membahas administrasi kawasan, tetapi menguji apakah fungsi ekologisnya masih berjalan optimal.
Onrizal, Ph.D, peneliti Center for Tropical Ecology and Biodiversity Conservation Universitas Sumatera Utara yang juga tergabung dalam tim teknis evaluasi, menegaskan kawasan konservasi tidak cukup dinilai dari status hukum semata. Menurutnya, yang paling krusial adalah kemampuan kawasan menjaga habitat satwa, tata air gambut, cadangan karbon, hingga manfaat bagi masyarakat dan kesehatan publik.
1. Luas menyusut, beban ekologis justru makin besar

SM Rawa Singkil awalnya memiliki luas sekitar 102.500 hektare, namun berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 10773 Tahun 2025, kini tersisa sekitar 81.852,15 hektare. Perubahan ini disebut sebagai bagian dari proses pengukuhan kawasan, bukan kesalahan data.
Meski begitu, penyusutan tersebut membuat setiap bagian kawasan menanggung beban ekologis lebih besar.
“Rawa Singkil tetap menjadi ekosistem penting yang didominasi gambut dan terhubung dengan hutan riparian, mangrove, hingga hutan dataran rendah, sekaligus habitat satwa kunci seperti orangutan, harimau, gajah, dan beruang madu,” ujar Onrizal dalam keterangan tertulis kepada IDN Times, Sabtu (11/7/2026).
2. Ancaman berlapis, dari kanal hingga kebakaran

Onrizal menjelaskan ancaman di Rawa Singkil tidak berdiri sendiri. Aktivitas seperti pembukaan jalan dan kanal membuka akses yang kemudian memicu pembalakan, perambahan, hingga kebakaran. Kondisi ini diperparah oleh pengeringan gambut yang membuat kawasan semakin rentan rusak.
Dalam ekosistem gambut, air menjadi faktor kunci. Saat gambut tetap basah, karbon tersimpan dan risiko kebakaran menurun.
“Sebaliknya, ketika mengering, emisi meningkat dan kerusakan meluas, bahkan berdampak pada kesehatan masyarakat akibat asap kebakaran yang menyebar hingga ke permukiman,” ungkapnya.
3. Masyarakat jadi kunci, bukan sekadar tekanan

Masyarakat sekitar Rawa Singkil memiliki hubungan erat dengan kawasan, mulai dari mencari ikan hingga memanfaatkan hasil hutan non-kayu. Namun, pemahaman tentang aturan kawasan dan perlindungan satwa masih belum merata.
Onrizal menilai masyarakat tidak bisa hanya dilihat sebagai sumber tekanan. Mereka juga merupakan mitra penting dalam menjaga kawasan. Karena itu, diperlukan pengelolaan yang tidak hanya berisi larangan, tetapi juga penguatan ekonomi berbasis gambut, aturan pemanfaatan yang jelas, serta penyelesaian konflik yang adil.
Evaluasi yang dilakukan juga menekankan pentingnya mengukur keberhasilan dari hasil nyata, bukan sekadar jumlah kegiatan. Indikator seperti penurunan pembalakan, perbaikan muka air gambut, hingga berkurangnya konflik dinilai lebih relevan dalam menilai fungsi kawasan.
Berdasarkan kajian awal, Onrizal menyebut belum ada alasan ekologis kuat untuk mengubah status Rawa Singkil. Kawasan ini masih memiliki fungsi penting sebagai habitat satwa, penyimpan karbon, dan pengatur tata air.
Namun, tekanan yang terjadi menunjukkan perlunya penguatan pengelolaan di lapangan. Mulai dari perlindungan hidrologi gambut, penutupan akses ilegal, patroli berbasis risiko, hingga penguatan kelembagaan masyarakat.
“Rawa Singkil tidak penting hanya karena statusnya. Ia penting karena fungsi-fungsinya saling menopang,” tulis Onrizal.
Ia menegaskan, menjaga kawasan ini bukan sekadar mempertahankan garis di peta, tetapi memastikan fungsi ekologisnya tetap berjalan untuk generasi mendatang.


















