Diterjang Banjir Lagi, 4 Jembatan di Tapanuli Tengah Rusak

MEDAN, IDN Times – Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Tapanuli Tengah pada Selasa (11/2/2026) menyebabkan kerusakan infrastruktur di berbagai titik. Data dari BPBD Kabupaten Tapanuli Tengah mencatat sedikitnya tujuh ruas jalan dan empat jembatan mengalami kerusakan akibat derasnya arus bandang.
Kerusakan ini memperparah kondisi akses transportasi warga, bencana banjir yang kedua ini kembali menambah tekanan mental para penyintas yang belum sepenuhnya pulih.
1. Curah hujan tinggi dan sedimen lama jadi penyebab
Sekretaris BPBD Tapteng, Tanti Harahap, mengeklaim, tingginya intensitas curah hujan jadi faktor utama banjir kali ini. Selain itu, material sedimen dari bencana sebelumnya pada 25 November 2025 belum sepenuhnya dibersihkan.
“Kondisi ini terjadi karena intensitas curah hujan yang tinggi, dan sedimen akibat bencana sebelumnya belum bersih 100 persen. Sampai sekarang masih dalam proses pembersihan,” katanya saat dihubungi, Jumat (13/2/2026).
Katanya, sedimen yang tersisa membuat aliran sungai tidak lancar. Ketika hujan deras turun, air meluap dan menghantam infrastruktur di sekitarnya.
2. Jalan terputus dan tidak bisa dilalui kendaraan

Sementara ini laporan dari BPBD Tapteng, menunjukkan, beberapa ruas jalan mengalami longsor dan putus total. Di antaranya akses menuju Desa Kinali di Desa Ujung Batu yang terputus sejak Selasa malam.
Selain itu, jalan di Desa Lubuk Ampolu, Kecamatan Badiri, kembali tertutup material kayu dan lumpur yang terbawa banjir. Sementara di Desa Lobu Singkam, Kelurahan Nauli, Kecamatan Sitahuis, jalan tidak dapat dilalui kendaraan roda empat.
Kerusakan berat juga terjadi di Jalan Sihaporas, Kecamatan Sarudik, serta Jalan Pasar Terandam yang dilaporkan putus akibat tergerus air.
Di Desa Rianiate, Kecamatan Sorkam, longsor menutup akses utama menuju Jalan Sibolga–Barus, yang merupakan jalur penting bagi mobilitas warga.
3. Jembatan darurat hanyut, akses warga terganggu
Selain jalan, empat jembatan juga dilaporkan rusak. Jembatan darurat menuju Desa Sibio-bio di Kecamatan Sibabangun hanyut terbawa arus banjir.
Kerusakan juga terjadi pada Jembatan Aramco di Desa Bair, Kecamatan Tapian Nauli, serta jembatan penghubung di Kelurahan Bona Lumban, Kecamatan Tukka. Sebagian struktur jembatan dilaporkan rusak dan tergerus di beberapa titik.
Akibatnya, sejumlah desa sempat terisolasi dan warga harus mencari jalur alternatif atau berjalan kaki untuk beraktivitas.
4. Trauma Penyintas Belum Pulih

Trauma masih membekas di benak warga Tapanuli Tengah, khususnya di Kecamatan Sorkam. Meski banjir terbaru tidak merendam permukiman mereka, ingatan tentang bencana pada penghujung 2025 membuat sebagian warga diliputi rasa cemas.
Darniwati Pasaribu (65), warga Sorkam, mengatakan kekhawatiran itu muncul setiap kali hujan turun dengan intensitas tinggi.
“Kalau hujan deras sekarang, rasanya sudah tidak tenang lagi. Kami selalu ingat kejadian kemarin. Walaupun kemarin tidak kena banjir, tetap saja takut,” kata Darniwati, saat dihubungi.
Menurut dia, banjir yang terjadi pada November 2025 menjadi salah satu peristiwa paling menegangkan bagi warga. Saat itu, air datang dengan cepat setelah hujan deras mengguyur wilayah pesisir barat Sumatera Utara tersebut selama berjam-jam.
Perlu diketahui, beberapa kondisi yang dialami warga saat banjir melanda Tapteng pada November 2025 lalu antara lain:
Air naik cepat pada malam hari. Warga mengatakan air mulai masuk ke permukiman beberapa jam setelah hujan deras tanpa henti, membuat banyak keluarga tidak sempat menyelamatkan barang-barang.
Permukiman warga terendam. Air menggenangi rumah-rumah di dataran rendah, terutama yang berada dekat aliran sungai dan drainase yang meluap.
Warga mengungsi secara mandiri. Sebagian warga memilih mengungsi ke rumah kerabat atau lokasi yang lebih tinggi untuk menghindari risiko banjir susulan.
Aktivitas ekonomi terhenti sementara. Pedagang kecil dan nelayan tidak dapat bekerja selama beberapa hari karena kondisi lingkungan belum pulih sepenuhnya.
Darniwati mengatakan, dampak paling berat bukan hanya kerugian materi, tetapi rasa takut yang terus menghantui.
“Sekarang kalau hujan lama, kami tidak bisa tidur nyenyak. Selalu bersiap kalau-kalau air naik lagi,” ujarnya.


















