Banjir Tapteng, Bendungan DAS Tukka Tertimbun 2,5 Meter

Tapanuli Tengah, IDN Times – Sejak November 2025 lalu, Tapanuli Tengah mengalami banjir berulang hingga Februari 2026. Kerusakan bendungan di wilayah hulu serta pendangkalan Daerah Aliran Sungai (DAS) Tukka diduga menjadi salah satu penyebab banjir yang berulang.
Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution yang melakukan peninjauan menyebut penanganan tidak hanya fokus pada tanggap darurat, tetapi juga pengendalian banjir dari hulu melalui pembangunan tanggul dan sabo dam.
1. Bendungan tertimbun, dasar sungai naik drastis

Dari hasil peninjauan di lapangan, bendungan di DAS Tukka mengalami kerusakan cukup parah. Material banjir bandang menimbun area tersebut hingga kedalaman sekitar 250 centimeter.
Kondisi ini membuat dasar sungai menjadi lebih tinggi dari sebelumnya. Akibatnya, kapasitas sungai menampung air menurun drastis dan meningkatkan potensi luapan ke permukiman warga saat hujan deras.
2. Pemerintah fokus benahi hulu lewat tanggul dan Sabo DAM

Menanggapi kondisi tersebut, Bobby Nasution menegaskan langkah pengendalian banjir akan difokuskan pada pembangunan infrastruktur di bagian hulu.
“Langkah ini (pembangunan sabo dam dan tanggul) agar aliran sungai tidak lagi membanjiri kawasan permukiman penduduk,” ujar Bobby saat meninjau lokasi, Kamis (20/2/2026).
Selain itu, pemerintah juga tetap menjalankan penanganan tanggap darurat di wilayah terdampak, sembari menyiapkan solusi jangka panjang untuk mengurangi risiko banjir berulang.
3. Sosialisasi lahan jadi tantangan pembangunan

Rencana pembangunan tanggul dan sabo dam membutuhkan dukungan masyarakat, khususnya terkait penggunaan lahan di kawasan DAS.
Pemerintah pun meminta jajaran di tingkat lokal untuk melakukan pendekatan persuasif kepada warga.
“Ya kalau sosialisasinya itu kita minta Pak Camat yang tahu. Jadi sampaikan ke masyarakat, bahwa ini kan dalam rangka penanganan bencana,” kata Bobby.
Sementara itu, Pemkab setempat menyebut sebagian besar warga sudah menerima rencana tersebut, meski komunikasi dengan beberapa pemilik lahan masih terus dilakukan.


















