Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Sarilala, Ritual Karo untuk Penunggu Gunung Sinabung
Erupsi Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, Senin (31/8/2026). (Dok: PVMBG)

  • Sarilala adalah ritual masyarakat Karo yang ditujukan kepada entitas gaib bernama Sarilala, dipercaya sebagai penunggu Gunung Sinabung dan dipandang perlu dihormati.
  • Kemunculan Sarilala dipercaya berbentuk meteor atau obor berjalan di hutan kaki gunung, sebagai pertanda erupsi yang mendorong pelaksanaan persembahan.
  • Ritual dipimpin Guru si baso sebagai penghubung manusia dan roh, serta kembali dijalankan setelah erupsi dahsyat Sinabung pada 2010.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Gunung Sinabung di Tanah Karo, Sumatera Utara, tidak hanya terkenal dengan aktivitas vulkaniknya yang masih menjadi perhatian hingga kini. Di balik pesona dan kegagahan gunung tersebut, tersimpan kekayaan budaya masyarakat Karo yang telah hidup berdampingan dengan alam secara turun-temurun.

Hubungan erat masyarakat dengan lingkungan sekitar kemudian melahirkan berbagai tradisi unik yang kaya akan nilai budaya dan kearifan lokal. Salah satunya adalah upacara Sarilala, sebuah ritual adat yang memiliki makna mendalam dalam kehidupan masyarakat Karo.

Namanya yang terdengar unik mungkin membuat banyak orang penasaran. Namun, Sarilala bukan sekadar ritual adat biasa. Di dalamnya terdapat nilai-nilai yang menggambarkan bagaimana masyarakat memaknai hubungan antara manusia, alam, dan kehidupan.

Lantas, apa sebenarnya upacara Sarilala dan bagaimana tradisi ini dijalankan oleh masyarakat Karo? Yuk, simak fakta-fakta menarik di balik tradisi Sarilala berikut ini!

1. Nama Ritual Sama Persis dengan Nama Penunggunya

IDN Times/Prayugo Utomo

Keunikan utama dari ritual ini terletak pada namanya. Nama "Sarilala" ternyata bukan hanya merujuk pada upacaranya, tetapi juga nama entitas gaib yang dipercaya menjadi penunggu Gunung Sinabung. Ini adalah fakta paling mendasar yang menjadi inti dari keseluruhan ritual.

Jadi, saat masyarakat Karo melaksanakannya, mereka tidak sedang melakukan ritual "tolak bala" biasa. Mereka sedang membangun dialog yang sangat personal, ditujukan khusus untuk menenangkan entitas bernama Sarilala. Sebuah intervensi yang spesifik dan penuh hormat.

Cara pandang ini sangat menarik. Ini menunjukkan bahwa masyarakat lokal melihat gunung bukan sekadar objek alam yang mati, melainkan sebagai sebuah ‘subjek’ yang memiliki identitas, kekuatan, dan bahkan nama yang perlu dihormati.

2. Wujud 'Sarilala' Dipercaya Mirip Meteor Berjalan

Dok/Fitra Yusdar

Kamu mungkin membayangkan wujud penunggu gunung sebagai sosok seram atau monster. Akan tetapi, dalam kepercayaan masyarakat Karo, Sarilala justru dideskripsikan dengan cara yang tidak terduga dan terdengar lebih puitis.

Menurut kepercayaan setempat, kemunculannya termanifestasi sebagai fenomena alam berupa "meteor dan obor berjalan" di sekitar hutan di kaki gunung. Fenomena inilah yang dianggap sebagai pertanda atau sinyal bahwa bencana erupsi akan segera datang, sehingga ritual persembahan harus segera dilakukan.

Pemilihan wujud ‘obor’ dan ‘meteor’ ini penuh makna. Keduanya berhubungan dengan elemen api, sebuah kekuatan alam dahsyat yang bisa menghangatkan sekaligus menghancurkan. Ini adalah simbol sempurna untuk kekuatan gunung berapi yang dihormati sekaligus ditakuti.

3. Tujuannya Bukan Sekadar 'Menolak Bala', tapi 'Berkomunikasi'

ilustrasi lilin menyala (pexels.com/Being.the.traveller)

Meskipun tujuannya untuk mencegah bencana, esensi Sarilala lebih dalam dari sekadar 'menolak bala'. Ritual ini adalah sebuah upaya sadar untuk ‘berkomunikasi’ dan ‘bernegosiasi’ dengan kekuatan alam yang menguasai gunung.

Melalui sesaji dan doa-doa yang dipanjatkan, masyarakat pada dasarnya sedang mencoba membangun kembali dialog. Mereka memohon maaf atas kesalahan manusia yang mungkin telah merusak alam, sembari meminta agar harmoni antara manusia dan gunung dapat dipulihkan.

Inilah bentuk kearifan ekologis yang luar biasa. Alam tidak dilihat sebagai objek untuk dieksploitasi, melainkan sebagai subjek setara yang bisa diajak bicara. Sebuah pandangan yang sebenarnya sangat relevan di zaman sekarang.

4. Dipimpin oleh 'Juru Kunci' Khusus Bernama Guru si baso

Erupsi Gunung Sinabung (Dok. KESDM, Badan Geologi, PVMBG)

Upacara sakral seperti ini tentu tidak bisa dipimpin oleh sembarang orang. Prosesi Sarilala harus dipandu oleh seorang figur spiritual khusus yang memiliki pengetahuan mendalam, yang disebut Guru si baso atau Guru Mbelin.

Guru si baso berperan sebagai medium atau jembatan antara dunia manusia dengan dunia roh. Merekalah yang dipercaya memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan leluhur dan penunggu gunung, menafsirkan tanda-tanda alam, dan memastikan permohonan tersampaikan dengan benar.

Peran mereka lebih dari sekadar pemimpin ritual. Sosok Guru si baso adalah penjaga tradisi dan pengetahuan sakral. Keberadaan mereka memastikan nilai-nilai luhur komunitas terus diwariskan dari generasi ke generasi.

5. Bangkit Kembali Setelah Erupsi Dahsyat 2010

IDN Times/Prayugo Utomo

Meski merupakan tradisi kuno, relevansi ritual Sarilala justru kembali menguat di era modern. Masyarakat setempat kembali menjalankan ritual ini pasca letusan dahsyat Gunung Sinabung di tahun 2010, yang mengakhiri masa dormannya selama berabad-abad.

Bencana dahsyat tersebut menjadi pengingat yang kuat. Bagi masyarakat Karo, erupsi bukanlah sekadar fenomena geologis, melainkan sebuah pesan untuk kembali menjaga hubungan harmonis dengan alam dan para leluhur.

Kebangkitan ritual ini menunjukkan betapa luwesnya sebuah kepercayaan. Di tengah penjelasan ilmiah tentang vulkanologi, kearifan lokal tetap menyediakan ruang dalam memaknai bencana dan memperkuat ikatan komunal. Tradisi ini pun terbukti mampu beradaptasi dan tetap relevan sampai saat ini.

Itulah beberapa fakta unik di balik ritual Sarilala. Bukti nyata bagaimana kearifan lokal mampu bertahan sebagai cara sebuah komunitas untuk memahami dan hidup berdampingan dengan alam. Kearifan seperti ini adalah kekayaan bangsa yang luar biasa, sebagai ragam yang tumbuh bersama kita.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article